SUARAMUDA.NET, SEMARANG — Ketegangan di kawasan Timur Tengah kembali memanas. Militer Iran memberi sinyal keras kepada Amerika Serikat dan Israel dengan menegaskan bahwa Teheran siap membuka “front perang baru” jika kembali mendapat serangan atau tekanan militer.
Peringatan itu disampaikan juru bicara Angkatan Darat Iran, Brigadir Jenderal Mohammad Akraminia, dalam sebuah pertemuan publik di Lapangan Valiasr, Teheran.
Menurut Akraminia, Iran tidak akan tinggal diam apabila musuh kembali melakukan agresi dan mengikuti “jebakan Zionis” yang disebutnya mengancam stabilitas kawasan.
“Republik Islam Iran tidak dapat diblokade atau dikalahkan,” tegas Akraminia.
Ia bahkan menyebut Iran telah menyiapkan strategi baru dengan metode dan alat tempur berbeda untuk menghadapi kemungkinan invasi atau eskalasi konflik jilid kedua.
1. Iran Ancam Buka Front Perang Baru
Dalam pernyataannya, Iran menegaskan siap memperluas arena konflik jika kembali diserang. Langkah ini dinilai sebagai pesan langsung kepada AS dan Israel bahwa Teheran masih memiliki kemampuan militer dan jaringan strategis di kawasan.
Pernyataan tersebut juga menunjukkan bahwa Iran ingin meningkatkan efek gentar terhadap lawan-lawannya, terutama di tengah situasi geopolitik Timur Tengah yang terus memanas.
2. Gencatan Senjata Dianggap Seperti Masa Perang
Iran ternyata tidak benar-benar santai selama masa gencatan senjata. Akraminia mengatakan Angkatan Bersenjata Iran justru menggunakan periode itu untuk memperkuat kekuatan tempur dan meningkatkan kesiapan militer.
Artinya, Teheran menganggap jeda konflik bukan sebagai masa damai, melainkan kesempatan untuk melakukan konsolidasi pertahanan.
Langkah ini memperlihatkan bahwa Iran masih sangat waspada terhadap potensi serangan mendadak dari pihak luar.
3. Iran Klaim Kuasai Selat Hormuz
Iran juga menegaskan bahwa mereka memiliki kendali penuh atas Selat Hormuz, jalur laut strategis yang menjadi jalur utama distribusi minyak dunia.
Akraminia mengatakan situasi di Selat Hormuz “tidak akan pernah kembali seperti sebelumnya”, sebuah pernyataan yang memicu perhatian internasional karena kawasan itu sangat vital bagi perdagangan energi global.
Menurut Iran, satu-satunya jalan untuk menghindari konflik adalah dengan menghormati hak-hak Republik Islam Iran.
Ketegangan terbaru ini diperkirakan bakal kembali memicu kekhawatiran dunia terhadap potensi perang terbuka di Timur Tengah, terutama jika rivalitas antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel semakin memanas. (Red)