Ketika Pensil Lebih Mahal dari Masa Depan Anak Indonesia

- Penulis

Kamis, 5 Februari 2026 - 23:31 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi: pinterest

Ilustrasi: pinterest

Oleh: Badat Alauddin Kepala MTs Al-Muhsin Yogyakarta

SUARAMUDA.NET, SEMARANG — Kematian YBS (10), seorang siswa kelas IV sekolah dasar di Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur, bukan sekadar peristiwa tragis. Ia adalah cermin retak dari wajah negara yang selama ini mengklaim telah “hadir” bagi rakyatnya.

Seorang anak mengakhiri hidupnya bukan karena perang, bukan karena bencana alam, melainkan karena tak mampu membeli pensil dan buku seharga kurang dari Rp 10.000. Ini bukan cerita fiksi, ini potret nyata Indonesia hari ini.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Hari ini kita selalu yapping tentang bonus demografi, Indonesia Emas 2045, dan generasi unggul. Namun di sudut timur negeri ini, seorang anak bahkan tidak sempat bermimpi tentang masa depan.

Malu melangkah kesekolah dengan mimpi sederhananya “ingin belajar” Ia lebih dulu dikalahkan oleh kemiskinan ekstrem yang merampas harapan, rasa aman, dan harga diri seorang anak.

Ketika pensil menjadi barang mewah baginya, maka pendidikan adalah hak seluruh rakyat Indonesia hanyalah slogan kosong.

Baca Juga :  Pendidikan dan Pengalaman Nilai-nilai Pancasila dalam Mengatasi Intoleransi

Tragedi ini menelanjangi kebohongan besar dalam sistem pendidikan kita. Pemerintah berkali-kali menyatakan bahwa pendidikan dasar gratis.

Namun kenyataannya, “gratis” hanya berhenti di atas kertas. Buku, alat tulis, seragam, ongkos ke sekolah semuanya tetap ditanggung keluarga miskin yang bahkan untuk makan sehari-hari saja harus berjuang.

Negara seolah berkata: “sekolah memang gratis, tapi bertahan hidup tetap urusanmu sendiri”. Dan yang lebih menyakitkan lagi, YBS bukan tidak mau sekolah. Ia justru ingin belajar.

Mimpinya pun sangat sederhana, ia tidak meminta fasilitas layaknya anak ibukota, Ia hanya meminta pensil dan buku.

Permintaan yang sangat sederhana, tetapi tak mampu dipenuhi oleh ibunya yang seorang janda, petani, dan buruh serabutan dengan lima anak. Di titik inilah negara seharusnya hadir, bukan hanya dengan pidato dan program, tetapi dengan perlindungan nyata bagi anak-anak paling rentan.

Kematian YBS juga menjadi sindiran keras bagi sistem sosial kita yang semakin abai. Lingkungan, masyarakat, institusi keagamaan, dan aparat negara gagal membaca tanda-tanda keputusasaan seorang anak.

Baca Juga :  Menjawab Krisis Kepribadian Generasi Muda dengan Wawasan Pancasila

Anak seusia itu seharusnya bermain, tertawa, dan bermimpi—bukan memikul beban ekonomi keluarga hingga memilih jalan kematian.

Pemerintah tidak bisa terus bersembunyi di balik data statistik dan laporan keberhasilan. Selama masih ada anak yang putus asa karena kemiskinan dan akses pendidikan yang timpang, maka klaim keberhasilan pembangunan adalah ilusi. Anggaran pendidikan yang besar tidak ada artinya jika tidak menyentuh anak-anak seperti YBS.

Kepergian YBS ini harus menjadi alarm nasional. Bukan untuk dikasihani sekedar duka cita sesaat, lalu dilupakan. Negara wajib memastikan tidak ada lagi anak yang kehilangan nyawa hanya karena tak mampu membeli pensil.

Pendidikan bukan sekadar hak konstitusional, tetapi tanggung jawab moral negara. Jika negara gagal melindungi anak-anaknya yang paling miskin, maka sesungguhnya yang sedang bunuh diri perlahan adalah rasa kemanusiaan kita sendiri. (Red)

Follow WhatsApp Channel suaramuda.net untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Menghemat Anggaran, Menekan Food Waste: Kantin Sekolah adalah Jalan Tengah MBG
Filosofi “Haha-Hihi” Purbaya: Belajar Tenang di Tengah Badai
Membaca dan Memahami: Jalan Menuju Keselamatan
Membaca Nalar Logis Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 282/PUU-XXIII/2025: Lembaga Negara Tidak Memiliki Perasaan Seperti Manusia
Profesionalisme: Seni Beradaptasi di Lingkungan Kerja
Palu Arit dan Bulan Bintang: Jalan Sunyi Sang Bolsyewik Mengawinkan Dua Poros Besar
Di Balik Tenda Pengungsian, Ada Rasa Aman yang Harus Dijaga
Menjaga Gunung Ungaran, Menimbang Masa Depan Energi Kabupaten Semarang
Berita ini 22 kali dibaca

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊


Berita Terkait

Senin, 21 September 2026 - 21:50 WIB

Menghemat Anggaran, Menekan Food Waste: Kantin Sekolah adalah Jalan Tengah MBG

Jumat, 18 September 2026 - 18:53 WIB

Filosofi “Haha-Hihi” Purbaya: Belajar Tenang di Tengah Badai

Kamis, 17 September 2026 - 08:25 WIB

Membaca dan Memahami: Jalan Menuju Keselamatan

Kamis, 10 September 2026 - 07:34 WIB

Membaca Nalar Logis Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 282/PUU-XXIII/2025: Lembaga Negara Tidak Memiliki Perasaan Seperti Manusia

Selasa, 8 September 2026 - 08:49 WIB

Profesionalisme: Seni Beradaptasi di Lingkungan Kerja

Berita Terbaru

Bendera Partai Gerindra, PDIP dan Partai Golkar. (Ilustrasi: Pinterest)

KABAR NUSANTARA

Survei Poltracking: Gerindra 23,2 Persen, PDIP dan Golkar Mengekor

Rabu, 23 Sep 2026 - 19:25 WIB

Sumber foto: sindonews.com

KILAS GLOBAL

BRICS Masih Jadi Magnet Negara Berkembang, 45 Negara Pengen Gabung!

Senin, 21 Sep 2026 - 22:09 WIB