Di Balik Nama Anak Krakatau: Kisah Vladimir Petrushevsky, Ilmuwan Rusia di Jawa

SUARAMUDA.NET, SEMARANG — Di balik nama “Anak Krakatau” yang melegenda, tersimpan kisah seorang perwira kavaleri Rusia yang mengabdikan hidupnya untuk gunung api Indonesia.

Vladimir Alexandrovich Petrushevsky bukan sekadar ilmuwan asing yang bekerja di negeri orang. Ia adalah bukti awal persahabatan Indonesia-Rusia yang terbangun jauh sebelum hubungan diplomatik resmi terjalin.

Lahir di Moskow, 16 Februari 1891, Petrushevsky adalah lulusan akademi militer elit Kekaisaran Rusia. Ia bertempur dalam Perang Dunia I sebagai perwira Resimen Hussar Alexandria.

Perang Saudara memisahkannya dari tanah airnya: pada tahun 1920, sebagai bagian dari pasukan Laksamana Kolchak, ia meninggalkan Vladivostok dengan kapal uap, menuju pulau Jawa.

Saat itu, Jawa merupakan bagian dari Hindia Belanda—kini Indonesia. Dan dia datang sebagai imigran tanpa bekal apa pun kecuali disiplin militer dan ketajaman observasi.

Tanpa gelar geologi, ia nekat melamar ke Dinas Pertambangan Hindia Belanda dan diterima. Di sinilah karier vulkanologinya dimulai.

Mengawasi 130 Gunung Api

Dari 1921 hingga 1950, Petrushevsky bekerja untuk Dinas Vulkanologi Indonesia. Ia terlibat dalam lebih dari 300 ekspedisi ilmiah ke Jawa, Sumatra, Kalimantan, Sulawesi, hingga Bali.

Dalam tulisan Dr. Victor A. Pogadaev dalam konferensi “Rusia–Indonesia” di RGGU Moskow, mengutip catatan pribadi Petrushevsky:

“Saya telah menjelajahi, mendaki, dan terbang melintasi semua pulau itu. Rasanya saya punya 130 gunung api di bawah komando saya,”

Tugasnya berat adalah mendaki kawah aktif, mengambil sampel material vulkanik, mengamati perilaku lava, dan memperingatkan warga jika tanda bahaya muncul.

Saat Perang Dunia II dan pendudukan Jepang, ia tetap bertahan dan memilih menyelamatkan penduduk lokal dari ancaman letusan daripada mengungsi.

Pemberi Nama “Anak Krakatau”

Pencapaian terbesarnya terjadi pada 1927. Ketika gunung baru mulai muncul dari kaldera Krakatau yang hancur akibat letusan dahsyat 1883, Petrushevsky yang bertugas mengamati fenomena itu memberi nama: “Anak Krakatau”.

Nama sederhana itu kini dikenal dunia sebagai salah satu gunung api paling aktif di Indonesia. Penghormatan atas jasanya datang dari warga Pulau Lembata, Nusa Tenggara Timur, yang menamai gunung di sana Gunung Petrus—merujuk pada nama belakangnya.

Bukan Hanya Ilmuwan, Tapi Juga Penyair

Di sela kesibukan mengawasi gunung, Petrushevsky tak pernah berhenti menulis puisi. Kumpulan sajaknya berjudul “Rodina” (Tanah Air) terbit di Paris tahun 1930, sebagian besar berisi kerinduan pada Rusia yang tak bisa ia kembali.

Namun ia juga menulis tentang persaudaraan antarbangsa. Sebagai perantau, ia paham arti rumah dan pentingnya menjaga hubungan baik dengan siapa pun—termasuk penduduk lokal yang ia lindungi.

Ia fasih berbahasa Melayu dan Jawa, dan warga setempat menganggapnya bukan lagi orang asing.

Tahun 1950, Petrushevsky pensiun dan pindah ke Sydney, Australia. Ia aktif di komunitas Rusia, mengoleksi koin dan buku kuno, hingga wafat pada 30 Agustus 1961. Jenazahnya dimakamkan di Pemakaman Ortodoks Rookwood.

Namun warisannya tetap hidup. Setiap kali ilmuwan menyebut “Anak Krakatau”, mereka mengucapkan nama pemberian seorang Rusia. Setiap kali peneliti membaca jurnal tentang Merapi atau Kelud, mereka menemukan catatan kaki: “Pengamatan oleh Petrushevsky, 1930-an.” (Red)

——-

Sumber: Arsip Solzhenitsyn House of Russia Abroad, Dickinson College, tulisan Dr. Victor A. Pogadaev dalam konferensi “Rusia–Indonesia: Masa Lalu, Sekarang, Masa Depan” di RGGU Moskow.

Redaksi Suara Muda, Saatnya Semangat Kita, Spirit Indonesia

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You might also like