Di Balik Nama Anak Krakatau: Kisah Vladimir Petrushevsky, Ilmuwan Rusia di Jawa

- Penulis

Jumat, 20 Februari 2026 - 15:20 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

SUARAMUDA.NET, SEMARANG — Di balik nama “Anak Krakatau” yang melegenda, tersimpan kisah seorang perwira kavaleri Rusia yang mengabdikan hidupnya untuk gunung api Indonesia.

Vladimir Alexandrovich Petrushevsky bukan sekadar ilmuwan asing yang bekerja di negeri orang. Ia adalah bukti awal persahabatan Indonesia-Rusia yang terbangun jauh sebelum hubungan diplomatik resmi terjalin.

Lahir di Moskow, 16 Februari 1891, Petrushevsky adalah lulusan akademi militer elit Kekaisaran Rusia. Ia bertempur dalam Perang Dunia I sebagai perwira Resimen Hussar Alexandria.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Perang Saudara memisahkannya dari tanah airnya: pada tahun 1920, sebagai bagian dari pasukan Laksamana Kolchak, ia meninggalkan Vladivostok dengan kapal uap, menuju pulau Jawa.

Saat itu, Jawa merupakan bagian dari Hindia Belanda—kini Indonesia. Dan dia datang sebagai imigran tanpa bekal apa pun kecuali disiplin militer dan ketajaman observasi.

Tanpa gelar geologi, ia nekat melamar ke Dinas Pertambangan Hindia Belanda dan diterima. Di sinilah karier vulkanologinya dimulai.

Mengawasi 130 Gunung Api

Dari 1921 hingga 1950, Petrushevsky bekerja untuk Dinas Vulkanologi Indonesia. Ia terlibat dalam lebih dari 300 ekspedisi ilmiah ke Jawa, Sumatra, Kalimantan, Sulawesi, hingga Bali.

Baca Juga :  Es Teler 21, Kuliner Segar, Nikmat dan Recommended di Weleri

Dalam tulisan Dr. Victor A. Pogadaev dalam konferensi “Rusia–Indonesia” di RGGU Moskow, mengutip catatan pribadi Petrushevsky:

“Saya telah menjelajahi, mendaki, dan terbang melintasi semua pulau itu. Rasanya saya punya 130 gunung api di bawah komando saya,”

Tugasnya berat adalah mendaki kawah aktif, mengambil sampel material vulkanik, mengamati perilaku lava, dan memperingatkan warga jika tanda bahaya muncul.

Saat Perang Dunia II dan pendudukan Jepang, ia tetap bertahan dan memilih menyelamatkan penduduk lokal dari ancaman letusan daripada mengungsi.

Pemberi Nama “Anak Krakatau”

Pencapaian terbesarnya terjadi pada 1927. Ketika gunung baru mulai muncul dari kaldera Krakatau yang hancur akibat letusan dahsyat 1883, Petrushevsky yang bertugas mengamati fenomena itu memberi nama: “Anak Krakatau”.

Nama sederhana itu kini dikenal dunia sebagai salah satu gunung api paling aktif di Indonesia. Penghormatan atas jasanya datang dari warga Pulau Lembata, Nusa Tenggara Timur, yang menamai gunung di sana Gunung Petrus—merujuk pada nama belakangnya.

Bukan Hanya Ilmuwan, Tapi Juga Penyair

Di sela kesibukan mengawasi gunung, Petrushevsky tak pernah berhenti menulis puisi. Kumpulan sajaknya berjudul “Rodina” (Tanah Air) terbit di Paris tahun 1930, sebagian besar berisi kerinduan pada Rusia yang tak bisa ia kembali.

Baca Juga :  Hidup Aku Indah (HAI)" — Single Perdana Alberto Silaban yang Mengajak Menemukan Keindahan dalam Bersyukur

Namun ia juga menulis tentang persaudaraan antarbangsa. Sebagai perantau, ia paham arti rumah dan pentingnya menjaga hubungan baik dengan siapa pun—termasuk penduduk lokal yang ia lindungi.

Ia fasih berbahasa Melayu dan Jawa, dan warga setempat menganggapnya bukan lagi orang asing.

Tahun 1950, Petrushevsky pensiun dan pindah ke Sydney, Australia. Ia aktif di komunitas Rusia, mengoleksi koin dan buku kuno, hingga wafat pada 30 Agustus 1961. Jenazahnya dimakamkan di Pemakaman Ortodoks Rookwood.

Namun warisannya tetap hidup. Setiap kali ilmuwan menyebut “Anak Krakatau”, mereka mengucapkan nama pemberian seorang Rusia. Setiap kali peneliti membaca jurnal tentang Merapi atau Kelud, mereka menemukan catatan kaki: “Pengamatan oleh Petrushevsky, 1930-an.” (Red)

——-

Sumber: Arsip Solzhenitsyn House of Russia Abroad, Dickinson College, tulisan Dr. Victor A. Pogadaev dalam konferensi “Rusia–Indonesia: Masa Lalu, Sekarang, Masa Depan” di RGGU Moskow.

Follow WhatsApp Channel suaramuda.net untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Membedah Program Unggulan Sakola Kembara (Bimbel Gratis Masuk PTN)
Saat Tari Piring Bertemu Tarian Mandarin, IFSRC Bawa Diplomasi Indonesia–Tiongkok ke Panggung Budaya
Staycation Seru di Montera Glamping Lembang
Chiko Silitonga Tuangkan Kisah Personal Lewat Single “Sementara atau Selamanya”
MTQ Nasional XXXI di Jateng Tuai Apresiasi, Malam Ta’aruf Bikin Semarang Makin Semarak
TEP UI Dorong Hilirisasi Pala Berbasis Riset Melalui Uji Laboratorium
FKUB Goes to School Sambangi SMA 12 Semarang: Saatnya Pelajar Jadi Penggerak Kerukunan!
Pameran Budaya Indonesia Tampilkan 400 Karya Seni dan Foto Nusantara di Rusia
Berita ini 34 kali dibaca

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊


Berita Terkait

Minggu, 27 September 2026 - 09:20 WIB

Membedah Program Unggulan Sakola Kembara (Bimbel Gratis Masuk PTN)

Jumat, 18 September 2026 - 09:01 WIB

Saat Tari Piring Bertemu Tarian Mandarin, IFSRC Bawa Diplomasi Indonesia–Tiongkok ke Panggung Budaya

Rabu, 16 September 2026 - 18:44 WIB

Staycation Seru di Montera Glamping Lembang

Sabtu, 12 September 2026 - 15:04 WIB

Chiko Silitonga Tuangkan Kisah Personal Lewat Single “Sementara atau Selamanya”

Sabtu, 12 September 2026 - 11:54 WIB

MTQ Nasional XXXI di Jateng Tuai Apresiasi, Malam Ta’aruf Bikin Semarang Makin Semarak

Berita Terbaru

Mantan Mendikbudristek Nadiem Makarim. (Gambar: Dery Ridwansah/ JawaPos.com)

KABAR NUSANTARA

Vonis Nadiem Makarim Turun Jadi 9 Tahun, Ini yang Berubah

Minggu, 27 Sep 2026 - 11:44 WIB

LINTAS AKADEMIKA

Membedah Program Unggulan Sakola Kembara (Bimbel Gratis Masuk PTN)

Minggu, 27 Sep 2026 - 09:20 WIB