Program Makan Bergizi Gratis dan Kegagalan Negara Selamatkan Anak SD di Daerah 3T

- Penulis

Rabu, 11 Februari 2026 - 07:35 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

POV: potret anak SD di daerah tertinggal. (Gambar: pinterest)

POV: potret anak SD di daerah tertinggal. (Gambar: pinterest)

Oleh: Yohanes Soares, Akitivis Sosial, Peneliti, dan Dosen STIE Sulut

SUARAMUDA.NET, SEMARANG — Indonesia hari ini dengan bangga menggaungkan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) sebagai simbol kehadiran negara bagi anak-anak.

Anggaran ratusan triliun rupiah digelontorkan, dapur-dapur gizi dibangun, dan klaim keberpihakan pada generasi masa depan digaungkan ke ruang publik.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Namun di saat yang sama, dari pelosok daerah 3T (Tertinggal, Terdepan, dan Terluar), muncul sebuah tragedi yang menampar nurani bangsa, seorang anak Sekolah Dasar mengakhiri hidupnya karena tidak memiliki uang untuk membeli buku tulis.

Peristiwa ini bukan sekadar kisah duka. Ia adalah vonis keras atas kegagalan sistem pendidikan dan kegagalan negara membaca prioritas paling dasar.

Lapar akan Masa Depan

Buku tulis adalah benda paling sederhana dalam dunia pendidikan. Ia bukan teknologi mahal, bukan fasilitas mewah, bukan inovasi futuristik. Ia adalah alat paling elementer untuk belajar menulis, berpikir, dan bermimpi.

Ketika seorang anak tidak mampu membeli buku tulis, lalu memilih jalan paling sunyi untuk mengakhiri hidupnya, itu menandakan satu hal:
negara telah terlalu jauh dari realitas rakyat paling bawah.

MBG mungkin mampu mengisi perut anak tersebut. Namun ia gagal menjangkau rasa malu, tekanan psikologis, ketertinggalan struktural, dan beban sosial yang dipikul anak-anak di daerah 3T setiap hari.

Pendidikan tidak hanya soal asupan gizi, tetapi tentang rasa aman, harga diri, dan harapan.

Baca Juga :  Pangan Lokal Bernilai Tinggi: Refleksi Kritis atas Krisis Makan Bergizi Gratis dan Keracunan Makanan di NTT

Daerah 3T: Ruang Pendidikan yang Dilupakan

Di banyak wilayah 3T, sekolah masih berdiri dengan: ruang kelas reyot, kekurangan guru tetap, jarak tempuh berjam-jam dengan berjalan kaki, tanpa listrik memadai, serta tanpa buku pelajaran yang cukup.

Dalam konteks ini, membandingkan MBG dan pendidikan bukan soal menolak program makan gratis, melainkan mempertanyakan ketimpangan perhatian negara.

Ketika dapur MBG dibangun dengan standar nasional, sekolah-sekolah di 3T masih bertahan dengan fasilitas yang bahkan tidak memenuhi standar minimum kemanusiaan.

Dengan anggaran sekitar Rp 335 triliun, MBG menjadi proyek raksasa. Namun tragedi anak SD yang tidak mampu membeli buku tulis menunjukkan paradoks kebijakan,
negara mampu memberi makan, tetapi gagal menyediakan alat belajar paling murah sekalipun.

Ini bukan sekadar soal anggaran, melainkan soal filosofi kebijakan. Negara terlihat lebih tertarik pada program yang mudah diklaim, mudah difoto, dan mudah dipromosikan, ketimbang kerja sunyi dan berjangka panjang.

Penyediaan buku tulis gratis, beasiswa mikro untuk anak miskin ekstrem, pendampingan psikososial di sekolah 3T, ataupun peningkatan kesejahteraan guru pedalaman hanyalah sebuah mimpi.

Pendidikan Tanpa Empati?

Kasus ini juga membuka sisi gelap pendidikan kita, sekolah sering kali menjadi ruang tekanan, bukan perlindungan. Anak-anak dari keluarga miskin tidak hanya berjuang memahami pelajaran, tetapi juga menanggung rasa malu karena tidak mampu memenuhi kebutuhan dasar sekolah.

Baca Juga :  Apa Kabar Hardiknas 2025?

Ketika sistem pendidikan tidak memiliki mekanisme empati, tidak ada guru pendamping, tidak ada bantuan darurat, tidak ada kebijakan fleksibel maka pendidikan berubah menjadi kekerasan struktural yang diam-diam mematikan harapan.

Peristiwa ini memaksa kita bertanya dengan jujur dan keras: Untuk siapa MBG sebenarnya dirancang? Mengapa negara bisa mengorganisir jutaan porsi makanan, tetapi gagal mendeteksi satu anak yang tidak mampu membeli buku tulis

Atau, di mana peran negara ketika kemiskinan ekstrem masuk ke ruang kelas dan menghancurkan mental anak?

Jika negara hadir hanya saat program besar dijalankan, tetapi absen saat tragedi kecil terjadi, maka kehadiran itu bersifat simbolik, bukan substantif.

Belajar dari Air Mata Anak 3T

Kematian seorang anak SD karena buku tulis bukan sekadar tragedi personal. Ia adalah alarm nasional. Ia menandai bahwa pembangunan pendidikan Indonesia sedang berjalan dengan logika yang terbalik, memperbesar program, tetapi mengecilkan manusia.

MBG seharusnya tidak berdiri sendiri. Ia harus menjadi bagian dari ekosistem pendidikan yang adil di mana tidak ada satu pun anak yang kehilangan nyawa hanya karena terlalu miskin untuk belajar.

Jika negara tidak segera mengoreksi arah kebijakan, maka kita bukan hanya kehilangan satu anak hari ini. Kita sedang kehilangan hati nurani bangsa. (Red)

Follow WhatsApp Channel suaramuda.net untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Giliran Bayar Tak Boleh Telat, Giliran Listrik Mati Disuruh Maklum
Rupiah, Ekspor, dan Masa Depan Ekonomi Indonesia: Jangan Terjebak pada Angka Semata
Mencermati Dugaan Intervensi Politik di Balik Aksi Mahasiswa Kendal
Ruang Lingkup Ekonomi Manajerial dan Alat Pengambilan Keputusan di Era Digital
Pengaruh Nilai Guna Marjinal terhadap Perilaku Konsumen dan Keputusan Pembelian
Ekonomi Digital dan Masa Depan Bisnis di Era E-Commerce
Pasar Tidak Pernah Benar-Benar Bebas: Memahami Monopoli hingga Oligopsoni dalam Realitas Ekonomi Indonesia
Rencana Aksi Kendal: Menyuarakan Aspirasi atau Mengusung Kepentingan Politik?
Berita ini 1 kali dibaca

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊


Berita Terkait

Rabu, 24 Juni 2026 - 10:34 WIB

Giliran Bayar Tak Boleh Telat, Giliran Listrik Mati Disuruh Maklum

Selasa, 23 Juni 2026 - 22:23 WIB

Rupiah, Ekspor, dan Masa Depan Ekonomi Indonesia: Jangan Terjebak pada Angka Semata

Senin, 22 Juni 2026 - 17:22 WIB

Mencermati Dugaan Intervensi Politik di Balik Aksi Mahasiswa Kendal

Minggu, 21 Juni 2026 - 10:34 WIB

Ruang Lingkup Ekonomi Manajerial dan Alat Pengambilan Keputusan di Era Digital

Minggu, 21 Juni 2026 - 01:16 WIB

Pengaruh Nilai Guna Marjinal terhadap Perilaku Konsumen dan Keputusan Pembelian

Berita Terbaru