MBG yang Megah, Sekolah yang Merana: Ketika Negara Terlalu Mewah untuk Pendidikan Rakyatnya

- Penulis

Selasa, 10 Februari 2026 - 15:04 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi: Tempo English

Ilustrasi: Tempo English

Oleh: Yohanes Soares, Akitivis Sosial, Peneliti, dan Dosen STIE Sulut

SUARAMUDA.NET, SEMARANG — Indonesia memasuki tahun 2026 dengan jumlah penduduk yang diperkirakan telah menembus sekitar 280 juta jiwa.

Angka ini bukan sekadar statistik demografi, melainkan potret nyata beban negara dalam menjamin hak-hak dasar warganya terutama hak atas pendidikan yang layak, aman, dan bermartabat.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Namun di tengah ledakan populasi dan tantangan struktural pendidikan, negara justru tampil dengan wajah yang kontras, Program Makan Bergizi Gratis (MBG) hadir dengan anggaran fantastis, kemasan megah, dan narasi besar, sementara sekolah-sekolah di banyak daerah tetap berkubang dalam kemiskinan struktural yang akut.

Kemewahan Program, Kemiskinan Sistem Pendidikan

Pemerintah mengalokasikan sekitar Rp 335 triliun untuk MBG dalam APBN 2026. Angka ini menjadikannya salah satu program sosial dengan anggaran terbesar dalam sejarah republik.

Tujuannya terdengar mulia yakni memastikan anak-anak Indonesia mendapatkan asupan gizi yang cukup sekaligus mendorong efek ekonomi melalui Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).

Namun pertanyaan krusialnya bukan pada niat, melainkan prioritas dan konsistensi kebijakan. Di saat yang sama, Indonesia memiliki lebih dari 439.000 satuan pendidikan mulai dari PAUD, SD, SMP, SMA, dan SMK yang sebagian besar masih menghadapi persoalan klasik:

  • Ruang kelas rusak,
  • Laboratorium tidak layak,
  • Perpustakaan minim buku,
  • Fasilitas sanitasi buruk,
  • Hingga akses sekolah di pedalaman yang masih berupa jalan tanah dan sungai berbahaya.

Ironisnya, negara tampak lebih siap membangun dapur-dapur MBG ketimbang memastikan atap sekolah tidak bocor dan guru tidak hidup di bawah garis kesejahteraan.

Guru: Pilar Pendidikan yang Dibiarkan Sekarat

Di balik slogan mencerdaskan kehidupan bangsa, guru khususnya guru honorer dan non-ASN masih hidup dalam ketidakpastian ekonomi.

Baca Juga :  Ancaman Kanker Serviks bagi Perempuan Sebagai Akibat Primigravida di Bawah Umur

Banyak di antara mereka menerima gaji yang tidak sebanding dengan beban kerja dan tanggung jawab moralnya. Di beberapa daerah, penghasilan guru bahkan lebih rendah dari upah buruh harian, tanpa jaminan sosial yang memadai.

Pertanyaannya sederhana namun menyakitkan: Bagaimana mungkin negara menggelontorkan ratusan triliun rupiah untuk satu program, sementara gaji guru yang mendidik jutaan anak bangsa tetap sekarat?

Data ketenagakerjaan menunjukkan bahwa dari 155,27 juta angkatan kerja, masih terdapat 7,35 juta pengangguran dengan tingkat pengangguran terbuka sekitar 4,7%.

Mayoritas penduduk bekerja di sektor pertanian, perdagangan, dan industri pengolahan, sektor yang rentan terhadap fluktuasi ekonomi dan minim jaminan kesejahteraan.

Di tengah kondisi ini, orang tua murid terutama dari kelompok ekonomi bawah bukan hanya menghadapi biaya hidup yang meningkat, tetapi juga harus berhadapan dengan realitas pendidikan anak yang tidak sepenuhnya ditopang negara (Seorang anak SD di NTT mengakhiri hidupnya hanya karena buku tulis).

MBG mungkin memberi makan anak mereka di sekolah, tetapi tidak menjamin kualitas pembelajaran, keselamatan perjalanan ke sekolah, atau masa depan yang lebih cerah.

Kasus Keracunan: Alarm Keras yang Diabaikan

Lebih mengkhawatirkan lagi, kasus-kasus keracunan makanan akibat MBG di sejumlah daerah menjadi alarm keras tentang lemahnya kesiapan sistem, pengawasan mutu, dan tata kelola.

Makanan yang seharusnya menjadi simbol kepedulian negara justru berubah menjadi ancaman kesehatan bagi siswa.

Ini bukan sekadar soal teknis dapur atau logistik. Ini adalah persoalan kecepatan kebijakan yang mengalahkan kehati-hatian, ambisi politik yang mendahului kesiapan institusional.

Sementara, pemerintah mengklaim MBG telah menyerap sekitar 1 juta tenaga kerja, dengan target jangka panjang hingga 3 juta orang. Hingga awal 2026, tercatat 22.275 unit SPPG beroperasi, dengan estimasi tenaga kerja tetap sekitar 90–120 ribu orang. Namun perlu kejujuran publik:

  • Berapa banyak dari tenaga kerja tersebut yang berstatus layak dan berkelanjutan?
  • Berapa yang bergaji manusiawi dan dilindungi jaminan sosial?
Baca Juga :  Judol dan Cermin Gagalnya Perlindungan dan Edukasi Masyarakat

Apakah ini lapangan kerja produktif jangka panjang atau sekadar efek sementara dari proyek negara?

Lapangan kerja memang penting, tetapi lapangan kerja yang lahir dari ketimpangan prioritas justru memperdalam masalah struktural.

Ketimpangan Anggaran dan Krisis Arah Kebijakan

Ketika anggaran MBG mencapai ratusan triliun, publik berhak bertanya: Mengapa anggaran pendidikan khususnya untuk perbaikan sarana, peningkatan kesejahteraan guru, dan pemerataan akses tidak mendapatkan perlakuan yang sama seriusnya?

MBG menjadi simbol negara yang terlalu percaya diri dengan kebijakan populis, namun abai pada fondasi pendidikan itu sendiri. Makan gratis tanpa sekolah yang layak hanyalah solusi kosmetik atas persoalan struktural.

MBG bukan sepenuhnya salah. Yang bermasalah adalah ketika ia dijalankan tanpa kesadaran konteks sosial, ketimpangan wilayah, dan krisis pendidikan yang nyata.

Negara seharusnya tidak tampil mewah di satu sisi, sementara membiarkan sekolah, guru, dan orang tua murid bertahan dalam kemiskinan di sisi lain. Pendidikan tidak bisa diselamatkan hanya dengan makanan.

Ia membutuhkan keadilan anggaran, keberpihakan kebijakan, dan keberanian moral untuk mengakui bahwa hari ini, negara terlalu megah untuk programnya, tetapi terlalu miskin dalam empatinya kepada rakyat kecil dan guru.

Jika arah ini tidak dikoreksi, MBG akan dikenang bukan sebagai program gizi nasional, melainkan sebagai monumen ketimpangan kebijakan di tengah krisis pendidikan Indonesia. (Red)

Follow WhatsApp Channel suaramuda.net untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Menghemat Anggaran, Menekan Food Waste: Kantin Sekolah adalah Jalan Tengah MBG
Filosofi “Haha-Hihi” Purbaya: Belajar Tenang di Tengah Badai
Membaca dan Memahami: Jalan Menuju Keselamatan
Membaca Nalar Logis Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 282/PUU-XXIII/2025: Lembaga Negara Tidak Memiliki Perasaan Seperti Manusia
Profesionalisme: Seni Beradaptasi di Lingkungan Kerja
Palu Arit dan Bulan Bintang: Jalan Sunyi Sang Bolsyewik Mengawinkan Dua Poros Besar
Di Balik Tenda Pengungsian, Ada Rasa Aman yang Harus Dijaga
Menjaga Gunung Ungaran, Menimbang Masa Depan Energi Kabupaten Semarang
Berita ini 23 kali dibaca

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊


Berita Terkait

Senin, 21 September 2026 - 21:50 WIB

Menghemat Anggaran, Menekan Food Waste: Kantin Sekolah adalah Jalan Tengah MBG

Jumat, 18 September 2026 - 18:53 WIB

Filosofi “Haha-Hihi” Purbaya: Belajar Tenang di Tengah Badai

Kamis, 17 September 2026 - 08:25 WIB

Membaca dan Memahami: Jalan Menuju Keselamatan

Kamis, 10 September 2026 - 07:34 WIB

Membaca Nalar Logis Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 282/PUU-XXIII/2025: Lembaga Negara Tidak Memiliki Perasaan Seperti Manusia

Selasa, 8 September 2026 - 08:49 WIB

Profesionalisme: Seni Beradaptasi di Lingkungan Kerja

Berita Terbaru

Bendera Partai Gerindra, PDIP dan Partai Golkar. (Ilustrasi: Pinterest)

KABAR NUSANTARA

Survei Poltracking: Gerindra 23,2 Persen, PDIP dan Golkar Mengekor

Rabu, 23 Sep 2026 - 19:25 WIB

Sumber foto: sindonews.com

KILAS GLOBAL

BRICS Masih Jadi Magnet Negara Berkembang, 45 Negara Pengen Gabung!

Senin, 21 Sep 2026 - 22:09 WIB