Soal Korupsi Haji, Apakah KPK Akan Panggil Jokowi?

- Penulis

Minggu, 25 Januari 2026 - 12:49 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Juru Bicara KPK, Budi Prasetyo di kompleks Gedung Merah Putih KPK, Jakarta, Jumat (27/11/2025)/ Bisnis-Anshary Madya Sukma

Juru Bicara KPK, Budi Prasetyo di kompleks Gedung Merah Putih KPK, Jakarta, Jumat (27/11/2025)/ Bisnis-Anshary Madya Sukma

SUARAMUDA.NET, SEMARANG — Aroma skandal korupsi kuota haji 2023–2024 kian menyengat. Publik pun bertanya-tanya: akankah Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) sampai memanggil Presiden ke-7 RI, Joko Widodo (Jokowi)?

Menanggapi spekulasi tersebut, KPK belum mau membuka kartu. Juru Bicara KPK, Budi Prasetyo, menegaskan bahwa pemanggilan saksi—siapapun orangnya—sepenuhnya bergantung pada kebutuhan penyidikan, bukan tekanan opini publik.

“Terkait dengan pemanggilan saksi, siapapun nanti tentu berdasarkan kebutuhan dari penyidik. Ya, nanti kami akan terus update saksi-saksi siapa saja yang kemudian akan dimintai keterangan oleh penyidik,” ujar Budi di Gedung KPK, Jumat (23/1/2026), seperti dilansir Bisnis.com.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Budi memilih menahan diri untuk berspekulasi lebih jauh soal kemungkinan pemanggilan Jokowi. Namun, ia menekankan bahwa penyidik saat ini fokus mengurai benang kusut asal-usul tambahan kuota haji yang belakangan disorot publik.

Baca Juga :  Koruptor Timah Rp300 Triliun Hanya Divonis 6 Tahun Gegara Sopan, Pakar Hukum: Tak Bisa Jadi Alasan Dong!

Untuk itu, KPK telah memeriksa mantan Menteri Pemuda dan Olahraga, Dito Ariotedjo. Pasalnya, Dito dinilai mengetahui konteks pemberian kuota tersebut karena ikut mendampingi Jokowi dalam lawatan ke Arab Saudi pada Oktober 2023.

“Terkait dengan asal-usul pemberian kuota, hari ini tadi sudah dijelaskan oleh Pak Dito ya, bahwa asal-usul pemberian kuota ini adalah untuk memangkas panjangnya antrean ibadah haji di Indonesia,” jelas Budi.

Dalam kunjungan kenegaraan tersebut, Jokowi memang bertemu Putra Mahkota Arab Saudi, Pangeran Mohammed bin Salman (MBS).

Dikatakan, agenda pertemuan tak main-main: mulai dari penguatan kerja sama bilateral, investasi di Ibu Kota Nusantara (IKN), hingga pembahasan penambahan kuota haji untuk Indonesia.

Baca Juga :  Wisata Karanganyar Bakal Hadirkan Kereta Gantung Modern, Mau Kayak di SkyWay Genting Malaysia?

Karena itu, menurut Budi, keterangan dari pihak-pihak yang memahami proses dan alasan di balik pemberian kuota menjadi kunci penting dalam penyidikan kasus ini.

“Ya makanya, nanti kita akan lihat perkembangan dari penyidikan ini. Yang pasti, kita melihat bagaimana proses diskresi itu dilakukan. Mengapa dibagi 50 persen 50 persen? Padahal kalau kita melihat latar belakang atau asal-usul pemberian kuota ibadah haji ini semestinya untuk memangkas panjangnya antrean,” pungkasnya.

Kasus ini pun masih terus bergulir. Publik kini menanti: sejauh mana KPK berani melangkah, dan siapa saja yang akhirnya akan dimintai pertanggungjawabanpertanggungjawaban? (Sumber: Bisnis.com)

Follow WhatsApp Channel suaramuda.net untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Survei Poltracking: Gerindra 23,2 Persen, PDIP dan Golkar Mengekor
Pergantian Posisi di JP Group dan Perhatian terhadap Energi Terbarukan
Parpol Nonparlemen Tolak PT 5 Persen, Merasa Dijegal hingga Tuduh Koalisi Arogan
Pajak Seller Marketplace Segera Dipungut, Seller Online Perlu Siap-siap
Saat Tari Piring Bertemu Tarian Mandarin, IFSRC Bawa Diplomasi Indonesia–Tiongkok ke Panggung Budaya
DPR Pertanyakan Rencana 200 Juta Rekening: Yang Belum Punya Rekening Cuma 15,3 Juta
Bukan Cuma Urusan Pemerintah, IFSRC Buka Jalur Baru Diplomasi Indonesia–Tiongkok
GCI dan Masa Depan Hubungan Indonesia–Tiongkok Dibahas di Jakarta
Berita ini 9 kali dibaca

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊


Berita Terkait

Rabu, 23 September 2026 - 19:25 WIB

Survei Poltracking: Gerindra 23,2 Persen, PDIP dan Golkar Mengekor

Minggu, 20 September 2026 - 22:54 WIB

Pergantian Posisi di JP Group dan Perhatian terhadap Energi Terbarukan

Minggu, 20 September 2026 - 09:39 WIB

Parpol Nonparlemen Tolak PT 5 Persen, Merasa Dijegal hingga Tuduh Koalisi Arogan

Jumat, 18 September 2026 - 16:42 WIB

Pajak Seller Marketplace Segera Dipungut, Seller Online Perlu Siap-siap

Jumat, 18 September 2026 - 09:01 WIB

Saat Tari Piring Bertemu Tarian Mandarin, IFSRC Bawa Diplomasi Indonesia–Tiongkok ke Panggung Budaya

Berita Terbaru

Bendera Partai Gerindra, PDIP dan Partai Golkar. (Ilustrasi: Pinterest)

KABAR NUSANTARA

Survei Poltracking: Gerindra 23,2 Persen, PDIP dan Golkar Mengekor

Rabu, 23 Sep 2026 - 19:25 WIB

Sumber foto: sindonews.com

KILAS GLOBAL

BRICS Masih Jadi Magnet Negara Berkembang, 45 Negara Pengen Gabung!

Senin, 21 Sep 2026 - 22:09 WIB