Pengamat: Prabowo Revitalisasi Politik Luar Negeri Bebas-Aktif, Buktikan dengan Langkah Nyata

- Penulis

Senin, 29 September 2025 - 19:51 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Pengamat Indonesia-Rusia, Dr. Ahmad Fahrurodji (dok pribadi)

Pengamat Indonesia-Rusia, Dr. Ahmad Fahrurodji (dok pribadi)

SUARAMUDA.NET, MOSKOW — Pemerintahan Presiden Prabowo Subianto diyakini telah menghidupkan kembali esensi politik luar negeri bebas-aktif dengan langkah-langkah konkret dan visioner.

Prinsip ini tidak hanya jadi wacana, tetapi terefleksi dalam kebijakan yang menekankan perdamaian, rekonsiliasi, dan kerja sama dengan semua negara tanpa terkecuali.

Pernyataan ini disampaikan oleh Pengamat Indonesia-Rusia, Dr. Ahmad Fahrurodji dalam Seminar Internasional “Day of Indonesia at MGIMO” yang bertajuk “Indonesia in the Multipolar World: Regional Leadership, Global Integration and Strategic Partnership” di Moskow, pada 25 September 2025.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Seminar tersebut merupakan bagian dari peringatan 75 tahun hubungan diplomatik Indonesia-Rusia, yang diselenggarakan secara bersama oleh ASEAN Centre di MGIMO University dan Kedutaan Besar Republik Indonesia di Rusia.

“Dengan bergabungnya Indonesia ke BRICS di awal tahun 2025, tetapi tetap berkontribusi dalam berbagai institusi multilateral yang ada, menunjukkan bahwa pemerintahan Prabowo berani mengambil langkah konkret dalam politik luar negeri Indonesia yang bebas dan aktif,” tegas Fahrurodji, seperti dikutip dalam siaran pers yang diterima.

Baca Juga :  Catatan Penting 75 Tahun Hubungan Diplomasi Indonesia-Rusia

Menurutnya, jiwa dari kebijakan luar negeri Prabowo adalah prinsip perdamaian yang sama yang diterapkan di dalam negeri, yaitu merangkul semua pihak.

Dalam konteks global, ini diterjemahkan dengan menjalin hubungan erat tidak hanya dengan negara-negara Barat, tetapi juga dengan Rusia, Tiongkok, serta negara-negara lain.

Fahrurodji, yang merupakan pengamat Rusia dari Universitas Indonesia, juga menelusuri akar historis politik bebas-aktif. Ia menjelaskan bahwa konsep ini adalah hasil dialektika pemikiran dua pendiri bangsa.

“Kata ‘Bebas’ dicetuskan oleh Mohammad Hatta melalui pidato ‘Mendayung antara Dua Karang’ pada 1948, yang menegaskan Indonesia tidak akan memihak blok mana pun.

Sementara ‘Aktif’ dihembuskan oleh Sukarno, yang menolak netralitas dan mendorong Indonesia untuk aktif berkontribusi pada perdamaian dunia,” paparnya.

Baca Juga :  Xi’an: Kota Warisan Islam di Negeri Tirai Bambu

Lebih lanjut, Fahrurodji melihat kesamaan visi antara Indonesia dan Rusia dalam memandang tata dunia multipolar.

Kedua negara, menurutnya, sama-sama menolak tindakan unilateral dan lebih mendasari hubungan pada konsep persahabatan (druzhba) dan hidup berdampingan secara damai (peaceful coexistence).

Ia menambahkan, fokus utama dari seluruh kebijakan luar negeri ini adalah kepentingan nasional. “Program-program seperti Makan Bergizi Gratis, kemandirian pangan, dan pendidikan menjadi prioritas.

Bergabung dengan berbagai organisasi multilateral seperti BRICS dan OECD adalah strategi untuk mendukung tujuan pembangunan dalam negeri tersebut,” pungkas Fahrurodji.

Keikutsertaan Indonesia dalam BRICS, diikuti pernyataan Presiden Prabowo di Forum Ekonomi Internasional St. Petersburg bahwa Indonesia tetap berpegang pada prinsip Non-Blok, serta dukungan penuh atas Palestina, menjadi bukti nyata revitalisasi politik luar negeri bebas-aktif di era kepemimpinannya. (Amy)

Follow WhatsApp Channel suaramuda.net untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Trump Ngamuk Lagi! AS Kembali Serang Iran, Gencatan Senjata Terancam Buyar
China Dorong BRICS Perkuat Kendali Mineral Strategis, Wang Yi Soroti Tantangan Global
Menteri Hukum RI dan Jaksa Agung Rusia Sepakat Perkuat Penegakan Hukum Transnasional
Paviliun Indonesia 1.500 Meter Persegi di INNOPROM 2026, Siap Pamerkan 5 Sektor Industri Unggulan
Timor Leste Berduka, Mantan Presiden Francisco Lu Olo Guterres Wafat
Perdana Menteri Inggris Keir Starmer Mundur dari Jabatannya
Dari Konsultasi ke Integrasi Ekonomi: Deklarasi Kazan Buka Jalan Kerja Sama Ekonomi Rusia-ASEAN
Netanyahu dan Kebijakan Kontroversial: Israel Dianggap Abaikan Hukum Internasional dan Perluas Konflik di Timur Tengah
Berita ini 2 kali dibaca

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊


Berita Terkait

Sabtu, 27 Juni 2026 - 12:01 WIB

Trump Ngamuk Lagi! AS Kembali Serang Iran, Gencatan Senjata Terancam Buyar

Jumat, 26 Juni 2026 - 10:02 WIB

China Dorong BRICS Perkuat Kendali Mineral Strategis, Wang Yi Soroti Tantangan Global

Kamis, 25 Juni 2026 - 12:23 WIB

Menteri Hukum RI dan Jaksa Agung Rusia Sepakat Perkuat Penegakan Hukum Transnasional

Rabu, 24 Juni 2026 - 07:48 WIB

Paviliun Indonesia 1.500 Meter Persegi di INNOPROM 2026, Siap Pamerkan 5 Sektor Industri Unggulan

Selasa, 23 Juni 2026 - 12:18 WIB

Timor Leste Berduka, Mantan Presiden Francisco Lu Olo Guterres Wafat

Berita Terbaru