Xi’an: Kota Warisan Islam di Negeri Tirai Bambu

- Penulis

Minggu, 26 Januari 2025 - 10:34 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Salah satu pemandangan muslim food street di kota Xi'an Tiongkok

Salah satu pemandangan muslim food street di kota Xi'an Tiongkok

Tiongkok, SUARAMUDA – Xi’an, salah satu kota tertua di China, adalah permata sejarah yang tak hanya dikenal sebagai pintu gerbang Jalur Sutra, tetapi juga sebagai saksi perkembangan Islam di negeri ini.

Kota ini menyimpan jejak panjang kehadiran komunitas Muslim yang telah bertahan selama lebih dari seribu tahun, mencerminkan harmoni antara budaya Islam dan tradisi Tiongkok.

Islam pertama kali masuk ke Xi’an pada abad ke-7 Masehi melalui Jalur Sutra, ketika pedagang Arab dan Persia tiba membawa barang dagangan sekaligus dakwah.

Di masa Dinasti Tang (618–907), agama ini mulai berkembang pesat, hingga menjadikan Xi’an sebagai salah satu pusat Islam pertama di China.

Komunitas Muslim di Xi’an didominasi oleh etnis Hui, kelompok etnis Muslim terbesar di China. Etnis Hui adalah hasil asimilasi antara bangsa Han dan pedagang Muslim Arab atau Persia pada era tersebut.

Mereka tetap mempertahankan ajaran Islam dalam kehidupan sehari-hari, sekaligus mengintegrasikan budaya Tiongkok, menciptakan identitas unik yang kaya akan nilai sejarah dan budaya.

Salah satu Masjid di Kota Xi’an

Masjid-Masjid Bersejarah di Xi’an
Salah satu bukti kuat kehadiran Islam di Xi’an adalah keberadaan masjid-masjid kuno yang hingga kini masih berdiri megah. Masjid-masjid ini tidak hanya menjadi tempat ibadah, tetapi juga simbol harmoni antara budaya Islam dan arsitektur tradisional China. Beberapa masjid yang terkenal di Xi’an meliputi:

Masjid Besar Xi’an: Dibangun pada abad ke-8 Masehi, masjid ini adalah salah satu yang tertua di China. Dengan perpaduan arsitektur Tiongkok klasik dan elemen Islam, masjid ini menjadi ikon wisata religi yang memukau.

Masjid Daxuexi: Didirikan pada abad ke-14, masjid ini terkenal dengan desain uniknya yang memadukan keindahan estetika dan fungsi spiritual.

Masjid Huajuexiang: Masjid ini dibangun pada abad ke-17 dan dikenal dengan ukiran kayunya yang rumit dan indah, memperlihatkan perpaduan seni Islam dan Tiongkok.

Selain masjid-masjid bersejarah, salah satu daya tarik Xi’an adalah Muslim Food Street, sebuah kawasan kuliner yang dikelola oleh komunitas Muslim Hui. Di sini, pengunjung bisa menikmati berbagai hidangan halal yang kaya rasa dan aroma, seperti:

Mie Tarik (La Mian): Mie segar buatan tangan yang dimasak dengan bumbu khas, menciptakan rasa autentik.

Roujiamo: Roti isi daging yang sering disebut sebagai “burger tradisional China.”

Malatang: Sup pedas yang berisi aneka daging dan sayuran segar.

Sate Kambing: Olahan daging yang dipanggang dengan rempah-rempah khas Muslim Hui.

Jalan-jalan di kawasan ini, seperti Beiyumen, Guangji, Xiyangshi, dan Dapiyuan, dipenuhi pedagang makanan, kue, buah-buahan, serta oleh-oleh. Kawasan ini memiliki atmosfer yang khas, menyerupai Kampung Ampel di Surabaya.

Arsitektur tradisional yang terawat dengan gerbang kuno dari era Dinasti Tang semakin mempertegas pesona sejarahnya.

Komunitas Muslim di Xi’an menjalani kehidupan yang erat dengan nilai-nilai Islam. Pada waktu shalat, panggilan azan menggema dari masjid-masjid menggunakan pengeras suara, dan jamaah, terutama pria, datang dengan mengenakan peci hitam, mirip dengan gaya santri di Indonesia.

Saat Idul Fitri dan Idul Adha, suasana kota menjadi lebih semarak. Komunitas Muslim merayakan hari besar ini dengan melaksanakan shalat Id, berkumpul bersama keluarga, dan berbagi makanan khas tradisional. Tradisi ini mencerminkan kebersamaan dan keharmonisan antarumat beragama di Xi’an.

Xi’an menjadi bukti nyata bagaimana Islam masuk ke China melalui jalur damai.

Kehadiran Islam di kota ini mencerminkan nilai universal sebagai agama yang membawa rahmat bagi seluruh alam, sebagaimana firman Allah:
“Kami tidak mengutus engkau (Muhammad), melainkan sebagai rahmat bagi seluruh alam.” (QS. Al-Anbiya: 107).

Harmoni antara komunitas Muslim dan budaya lokal di Xi’an adalah inspirasi bahwa perbedaan bukanlah penghalang, melainkan jembatan untuk saling memahami dan menghargai. Bagi siapa saja yang mengunjungi Xi’an, kota ini menawarkan pengalaman yang tak terlupakan, baik dari segi sejarah, spiritualitas, maupun kuliner halal yang menggugah selera.

Oleh: Faishol NU

Baca Juga :  Islamofobia Meningkat, Mengapa Orang-orang di AS dan Barat Membenci Umat Muslim?

Follow WhatsApp Channel suaramuda.net untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Trump Ngamuk Lagi! AS Kembali Serang Iran, Gencatan Senjata Terancam Buyar
China Dorong BRICS Perkuat Kendali Mineral Strategis, Wang Yi Soroti Tantangan Global
Menteri Hukum RI dan Jaksa Agung Rusia Sepakat Perkuat Penegakan Hukum Transnasional
Paviliun Indonesia 1.500 Meter Persegi di INNOPROM 2026, Siap Pamerkan 5 Sektor Industri Unggulan
Timor Leste Berduka, Mantan Presiden Francisco Lu Olo Guterres Wafat
Perdana Menteri Inggris Keir Starmer Mundur dari Jabatannya
Dari Konsultasi ke Integrasi Ekonomi: Deklarasi Kazan Buka Jalan Kerja Sama Ekonomi Rusia-ASEAN
Netanyahu dan Kebijakan Kontroversial: Israel Dianggap Abaikan Hukum Internasional dan Perluas Konflik di Timur Tengah
Berita ini 14 kali dibaca

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊


Berita Terkait

Sabtu, 27 Juni 2026 - 12:01 WIB

Trump Ngamuk Lagi! AS Kembali Serang Iran, Gencatan Senjata Terancam Buyar

Jumat, 26 Juni 2026 - 10:02 WIB

China Dorong BRICS Perkuat Kendali Mineral Strategis, Wang Yi Soroti Tantangan Global

Kamis, 25 Juni 2026 - 12:23 WIB

Menteri Hukum RI dan Jaksa Agung Rusia Sepakat Perkuat Penegakan Hukum Transnasional

Rabu, 24 Juni 2026 - 07:48 WIB

Paviliun Indonesia 1.500 Meter Persegi di INNOPROM 2026, Siap Pamerkan 5 Sektor Industri Unggulan

Selasa, 23 Juni 2026 - 12:18 WIB

Timor Leste Berduka, Mantan Presiden Francisco Lu Olo Guterres Wafat

Berita Terbaru