Denmark Menyesal Tak Jaga Baik-baik “Greendland”, Kini Trump ingin Menguasainya

- Penulis

Sabtu, 11 Januari 2025 - 12:11 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi bendera Denmark/ sumber: pinterest

Ilustrasi bendera Denmark/ sumber: pinterest

SUARAMUDA, SEMARANG — Dalam pemberitaan CNN, Jumat (10/1/2025), Denmark mengakui telah menelantarkan wilayah otonomi mereka di Arktik, Greenland. Karena hal itu, Greenland, kini menjadi incaran Presiden terpilih Amerika Serikat Donald Trump.

Menteri Pertahanan Denmark Troels Lund Poulsen mengatakan pihaknya tak memperhatikan pertahanan Greenland selama bertahun-tahun dan karenanya mesti memperbaiki situasi itu saat ini.

“Selama bertahun-tahun kami telah lalai melakukan investasi yang diperlukan pada kapal dan pesawat terbang yang akan membantu memantau kerajaan kami,” kata Poulsen kepada wartawan, Kamis (9/1), seperti dikutip Reuters.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

“Kami sekarang sedang berusaha memperbaikinya,” lanjut Poulsen.

Pengakuan Poulsen ini dilontarkan usai Trump membuka peluang menggunakan kekuatan militer agar bisa membeli Greenland.

Sejak Desember, Trump telah mengemukakan wacana untuk membeli pulau terbesar di dunia tersebut. Menurutnya, menguasai Greenland penting untuk keamanan nasional AS.

Keinginan membeli Greenland ini sendiri sebetulnya sudah dia utarakan sejak menjabat Presiden AS periode 2017-2021. Namun, hal itu tak terwujud karena Greenland dan Denmark menolak keras.

Baca Juga :  Kalkulasi Tersembunyi AS: Mengapa Amerika Berburu Pengaruh di Asia Tengah?

Berbeda dengan pernyataan Trump, Kedutaan Amerika Serikat di Copenhagen menyatakan Washington tidak memiliki niat untuk menambah kehadiran militer di Greenland.

“Tak ada rencana meningkatkan kehadiran militer AS saat ini di Greenland,” kata juru bicara kedutaan kepada Reuters.

“Kami akan terus bekerja sama dengan Copenhagen dan Nuuk (ibu kota Greenland) untuk memastikan tiap-tiap tujuan sesuai dengan kebutuhan keamanan bersama kami,” lanjutnya.

Wacana Trump membeli Greenland telah membuat geger publik, terutama pemerintah Greenland dan Denmark.

Perdana Menteri Denmark Mette Frederiksen sampai mengumpulkan para pemimpin partai di parlemen untuk membahas rencana Trump ini. Pertemuan itu melibatkan dua perwakilan Greenland.

Kepada wartawan, Frederiksen mengatakan pihaknya telah meminta untuk bicara dengan Trump mengenai masalah tersebut.

“Kami sudah mengajukan pembicaraan di antara kami. Saya tidak berpikir sesuatu yang konkret akan terjadi sampai presiden terpilih dilantik,” kata Frederiksen usai melakukan pertemuan, Kamis (9/1)

Baca Juga :  Balas Paman Sam, Iran Serang Pangkalan Militer AS di Qatar: Berani, Memang!

Greenland merupakan wilayah otonomi Denmark yang pernah menjadi koloni Copenhagen hingga 1953 ketika pulau itu ditetapkan sebagai distriknya.

Kerajaan Denmark pada 2009 memberinya status otonom sehingga memungkinkan Greenland membentuk pemerintahan sendiri dan membuat kebijakan domestik secara mandiri.

Kendati begitu, Denmark tetap memegang kendali atas kewarganegaraan, kebijakan moneter, urusan luar negeri, serta pertahanan.

Greenland sangat penting bagi Amerika Serikat karena rute terpendek dari Eropa ke Amerika Utara melewati pulau itu.

Greenland juga dinilai penting bagi AS, karena bisa menjadi basis pertahanan AS dari ancaman Rusia. Selain itu, Greenland merupakan pulau yang kaya akan sumber daya alam.

Kawasan Arktik tersebut mengandung mineral langka yang kini tampaknya juga sedang dibidik China. (Red)

Follow WhatsApp Channel suaramuda.net untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

BRICS Masih Jadi Magnet Negara Berkembang, 45 Negara Pengen Gabung!
International Youth Festival 2026: 10.000 Anak Muda dari 191 Negara Serukan Dunia Tanpa Batas
GEKRAFS Buka Jalan Diplomasi Ekonomi Kreatif Indonesia di Rusia, Andre Septiyanto Pimpin DPLN 2026–2029
Mengapa Orang Kaya China Kini Mulai Pindahkan Duit ke Malaysia?
Pameran Budaya Indonesia Tampilkan 400 Karya Seni dan Foto Nusantara di Rusia
EEF-2026: Kehadiran Internasional Tunjukkan Pergeseran Ekonomi Global, Barat Tak Lagi Sentral
Iran Tebar Ranjau Lagi di Selat Hormuz, Perang dengan AS Makin Memanas
Prabowo di Rusia: Samudra Pasifik Penghubung, Indonesia Tegaskan Posisi Non-Blok
Berita ini 12 kali dibaca

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊


Berita Terkait

Senin, 21 September 2026 - 22:09 WIB

BRICS Masih Jadi Magnet Negara Berkembang, 45 Negara Pengen Gabung!

Minggu, 20 September 2026 - 08:36 WIB

International Youth Festival 2026: 10.000 Anak Muda dari 191 Negara Serukan Dunia Tanpa Batas

Minggu, 20 September 2026 - 08:25 WIB

GEKRAFS Buka Jalan Diplomasi Ekonomi Kreatif Indonesia di Rusia, Andre Septiyanto Pimpin DPLN 2026–2029

Sabtu, 12 September 2026 - 12:14 WIB

Mengapa Orang Kaya China Kini Mulai Pindahkan Duit ke Malaysia?

Rabu, 9 September 2026 - 07:53 WIB

Pameran Budaya Indonesia Tampilkan 400 Karya Seni dan Foto Nusantara di Rusia

Berita Terbaru

Bendera Partai Gerindra, PDIP dan Partai Golkar. (Ilustrasi: Pinterest)

KABAR NUSANTARA

Survei Poltracking: Gerindra 23,2 Persen, PDIP dan Golkar Mengekor

Rabu, 23 Sep 2026 - 19:25 WIB

Sumber foto: sindonews.com

KILAS GLOBAL

BRICS Masih Jadi Magnet Negara Berkembang, 45 Negara Pengen Gabung!

Senin, 21 Sep 2026 - 22:09 WIB