Jamaah Indonesia Bukan Objek Percobaan: Syarikah dan Sistem Haji Saudi Harus Dievaluasi

- Penulis

Sabtu, 7 Juni 2025 - 08:06 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi haji di Tanah Suci, Arab Saudi (gambar: pinterest)

Ilustrasi haji di Tanah Suci, Arab Saudi (gambar: pinterest)

Liputan Khusus Haji 2025 oleh Faiz Rafdillah*)

SUARAMUDA, MAKKAH, ARAB SAUDI — Wukuf di Arafah adalah momen paling agung dalam perjalanan haji. Tapi bagi kami, jamaah asal Indonesia, Arafah 2025 justru menjadi salah satu titik paling menyedihkan.

Bukan karena cuaca atau fisik yang letih, melainkan karena perlakuan sistem yang kacau, koordinasi yang ceroboh, dan pelayanan yang sangat jauh dari kata pantas.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Kloter saya, Kloter 47, mengalami jadwal keberangkatan yang berantakan. Awalnya dijadwalkan pukul 09.00 pagi, lalu berubah mendadak menjadi pukul 16.00 sore.

Namun kenyataan di lapangan, kami baru dijemput pukul 19.00 malam. Tak ada penjelasan, tak ada permintaan maaf. Padahal ini adalah ibadah sakral, bukan wisata rombongan.

Saat tiba di Arafah, kami disambut dengan ketidaksiapan yang menyedihkan. Makan siang dan malam tidak datang untuk sebagian besar kloter.

Beberapa hanya menerima sarapan, itupun sangat telat. Bahkan batu kerikil untuk prosesi lempar jumroh, yang seharusnya dibagikan kepada setiap jamaah, hanya tersedia untuk sebagian kecil.

Alasan dari petugas syarikah: “sudah habis.” Habis? Ini bukan souvenir. Ini bagian dari rukun ibadah yang seharusnya terorganisir sejak jauh-jauh hari.

Baca Juga :  Sangat Prihatin! 39 Daerah Tak Mampu Gaji PPPK

Pelayanan yang Sembrono

Fenomena ini menegaskan satu hal: pelayanan haji tahun ini bukan hanya buruk, tapi sembrono.

Syarikah yang ditunjuk Pemerintah Saudi terlihat tidak profesional, tidak sistematis, bahkan terkesan tidak peduli.

Di titik ini, kita tidak hanya bicara soal logistik. Kita sedang bicara tentang martabat jamaah dan kehormatan negara.

Indonesia adalah negara dengan jumlah jamaah haji terbesar di dunia.

Tapi kenyataannya, jamaah kita diperlakukan bukan sebagai tamu Allah yang dihormati, melainkan sebagai kelompok besar yang dijadikan kelinci percobaan atas sistem baru yang belum matang.

Tahun ini banyak perubahan teknis terjadi di lapangan, mulai dari pemindahan otoritas dari Kementerian Haji ke syarikah, sistem zonasi, hingga manajemen layanan, semuanya terasa seperti uji coba. Dan kami, jamaah Indonesia, seperti objeknya.

Kondisi ini menambah daftar panjang bukti bahwa pihak Saudi, melalui syarikah dan sistem haji mereka, tidak memprioritaskan pelayanan terhadap Indonesia secara serius.

Apakah karena jumlah kami terlalu besar dan dianggap bisa dimaklumi jika sebagian dikecewakan?

Atau memang sejak awal tak ada niat melayani dengan hormat? Kalau seperti ini, untuk apa kita terus bersikap lunak?

Baca Juga :  Perebutan Opini Publik di Rusia: Kampanye Hitam dan Krisis Oposisi Menjelang Pemilu

Pemerintah Indonesia harus menyadari bahwa ini bukan sekadar soal keterlambatan makan. Ini soal perlakuan struktural yang meremehkan jamaah kita secara sistemik.

Saya mendesak agar pemerintah Indonesia bersikap lebih tegas. Tak cukup hanya melakukan evaluasi internal. Kita perlu menyuarakan protes diplomatik yang jelas kepada otoritas Saudi.

Jika perlu, evaluasi menyeluruh atas kerja sama syarikah dan sistem haji baru dilakukan secara terbuka.

Jika perlu, pemerintah Indonesia berani mengancam pembekuan kerja sama hingga standar pelayanan diperbaiki secara sistemik dan terbukti.

Kami datang ke Tanah Suci bukan hanya sebagai individu yang beribadah, tetapi juga sebagai wajah bangsa.

Dan ketika wajah itu dipermalukan, maka yang tercoreng bukan hanya jamaahnya, tapi juga negara yang mengirim mereka.

Hari-hari terakhir menjelang puncak haji seharusnya menjadi titik spiritual tertinggi. Tapi ketika urusan paling mendasar saja tidak dihormati, wajar jika muncul pertanyaan: masihkah haji ini dikelola sebagai ibadah, atau sudah sepenuhnya berubah menjadi industri?

Indonesia harus bicara. Bukan dengan marah, tapi dengan wibawa. Jamaah kita bukan objek percobaan. Mereka layak dilayani dengan martabat, bukan sekadar dimaklumi karena jumlah mereka terlalu besar. (Red)

Follow WhatsApp Channel suaramuda.net untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Survei Poltracking: Gerindra 23,2 Persen, PDIP dan Golkar Mengekor
BRICS Masih Jadi Magnet Negara Berkembang, 45 Negara Pengen Gabung!
Pergantian Posisi di JP Group dan Perhatian terhadap Energi Terbarukan
Parpol Nonparlemen Tolak PT 5 Persen, Merasa Dijegal hingga Tuduh Koalisi Arogan
International Youth Festival 2026: 10.000 Anak Muda dari 191 Negara Serukan Dunia Tanpa Batas
GEKRAFS Buka Jalan Diplomasi Ekonomi Kreatif Indonesia di Rusia, Andre Septiyanto Pimpin DPLN 2026–2029
Pajak Seller Marketplace Segera Dipungut, Seller Online Perlu Siap-siap
Saat Tari Piring Bertemu Tarian Mandarin, IFSRC Bawa Diplomasi Indonesia–Tiongkok ke Panggung Budaya
Berita ini 9 kali dibaca

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊


Berita Terkait

Rabu, 23 September 2026 - 19:25 WIB

Survei Poltracking: Gerindra 23,2 Persen, PDIP dan Golkar Mengekor

Senin, 21 September 2026 - 22:09 WIB

BRICS Masih Jadi Magnet Negara Berkembang, 45 Negara Pengen Gabung!

Minggu, 20 September 2026 - 09:39 WIB

Parpol Nonparlemen Tolak PT 5 Persen, Merasa Dijegal hingga Tuduh Koalisi Arogan

Minggu, 20 September 2026 - 08:36 WIB

International Youth Festival 2026: 10.000 Anak Muda dari 191 Negara Serukan Dunia Tanpa Batas

Minggu, 20 September 2026 - 08:25 WIB

GEKRAFS Buka Jalan Diplomasi Ekonomi Kreatif Indonesia di Rusia, Andre Septiyanto Pimpin DPLN 2026–2029

Berita Terbaru

Bendera Partai Gerindra, PDIP dan Partai Golkar. (Ilustrasi: Pinterest)

KABAR NUSANTARA

Survei Poltracking: Gerindra 23,2 Persen, PDIP dan Golkar Mengekor

Rabu, 23 Sep 2026 - 19:25 WIB

Sumber foto: sindonews.com

KILAS GLOBAL

BRICS Masih Jadi Magnet Negara Berkembang, 45 Negara Pengen Gabung!

Senin, 21 Sep 2026 - 22:09 WIB