SUARAMUDA, YOGYAKARTA – Kompetisi fashion di dunia membuat persaingan di Indonesia menjadi tinggi. Namun, brand lokal dari Indonesia sendiri justru mengalami kesulitan dalam bersaing di pasar nasional.
Padahal, brand lokal bersama UMKM lainnya telah menyumbang 61% dari penghasilan PDB negara. Selain itu, brand lokal dsan UMKM telah menyerap 97% tenaga kerja Indonesia.
Dengan sumbangan yang diberikan, brand lokal sebenarnya memiliki potensi yang cukup besar dalam peningkatan perekonomian negara. Namun seringkali hanya disepelekan dan dipandang remeh oleh pemerintah.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Sulit berkembangnya brand lokal ini dikarenakan masih banyaknya peredaran barang brand luar di Indonesia. Selain itu, banyaknya pengimporan barang bekas menjadi faktor penting kesulitan perkembangan ini.
Dengan masifnya peredaran brand luar negeri di Indonesia membuat harga barang tersebut semakin murah. Bahkan hampir menyamai harga brand lokal.
Adanya perbedaan harga yang sedikit ini membuat konsumen lebih memilih untuk membeli barang brand luar.
Hal ini sering terjadi karena masih adanya stigma di masyarakat mengenai kualitas brand lokal yang dianggap masih jauh dibawah brand luar.
Selain itu, harga produksi yang tinggi di Indonesia membuat brand lokal semakin kesulitan dalam bersaing.
Berdasarkan survei Asosiasi Persepatuan Indonesia, diukur dari nilai pasar dan penjualan tertinggi di Indonesia, Adidas menjadi brand dengan penjualan yang paling tinggi pada tahun 2018. Hal ini terbukti dengan nilai pasar saham yang mencapai 6,99%.
Diposisi kedua, ditempati brand sepatu Nike dan Bata dengan persentase nilai pasar masing masing 4,77% dan 4,64%. Sedangkan brand Indonesia hanya bisa menempati urutan ke 4 dan 5 dengan perolehan 4,19% dan 1,80%.
Brand Indonesia yang bisa menembus 5 besar adalah Fladeo dan Piero. Data tersebut menunjukan brand lokal masih belum bisa menguasai pasar dalam negeri sendiri.
Selain itu, maraknya impor produk barang bekas tercatat mengalami peningkatan (2017 sampai 2020). Total berat impor pada tahun 2020 mencapai 6.560.424 dengan Nilai 41 juta US dollar. Imbasnya, produk barang bekas marak di pasaran Indonesia.
Dengan banyaknya tantangan yang dialami oleh brand lokal ini, mereka membutuhkan peran dari pemerintah dan juga masyarakat.
Hematnya, akan sangat dikhawatirkan jika brand lokal masih tetap kesulitan dalam berkembang di negerinya sendiri. Padahal potensi mereka tergolong sangat besar. (Red)
Penulis: Marcel Aria Ramadan, mahasisqa Universitas Negeri Yogyakarta













Komentar