SUARAMUDA.NET, MOJOKERTO — Suasana khidmat, religius, dan penuh keberkahan menyelimuti Masjid Agung Pondok Pesantren (Ponpes) Mambaul Ihsan, Mojokerto, pada Minggu malam (18/10/2026).
Ratusan santri bersama dzurriyah (keluarga besar pengasuh pesantren) dan masyarakat sekitar memadati majelis untuk mengikuti pembacaan Manaqib Syekh Abdul Qodir Al-Jailani, dalam sebuah kegiatan spiritual yang sarat makna dan nilai keteladanan.
Kegiatan yang dimulai pukul 19.30 WIB tersebut diselenggarakan dalam rangka memperingati Hari Santri Nasional 2026. Momentum ini menjadi wujud nyata komitmen pesantren dalam menjaga tradisi keislaman, memperkuat spiritualitas, serta menanamkan nilai-nilai perjuangan dan keteladanan ulama kepada generasi santri.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Sejak awal acara, suasana religius begitu terasa. Para jamaah yang mengenakan pakaian putih bersih dan kopiah hitam khas santri tampak duduk tertib memenuhi area masjid.
Dengan penuh kekhusyukan, mereka mengikuti setiap rangkaian pembacaan manaqib, menyimak kisah perjalanan hidup, perjuangan dakwah, kemuliaan akhlak, serta keteladanan Syekh Abdul Qodir Al-Jailani, ulama besar yang dikenal luas dalam tradisi tasawuf Islam.
Majelis berlangsung semakin khidmat ketika pembacaan manaqib dipimpin langsung oleh Pengasuh PP Mambaul Ihsan, H. Solakhuddin. Lantunan bacaan yang menggema di dalam masjid menghadirkan suasana spiritual yang mendalam, menyatukan para santri, dzurriyah, dan masyarakat dalam satu majelis penuh doa dan harapan akan limpahan keberkahan.
Lebih dari sekadar kegiatan keagamaan, pembacaan manaqib ini menjadi ruang untuk merawat warisan spiritual para ulama sekaligus memperkuat ikatan persaudaraan di lingkungan pesantren dan masyarakat.
Melalui kegiatan tersebut, para santri diajak untuk tidak hanya mengenal sosok ulama besar melalui kisah hidupnya, tetapi juga berupaya meneladani akhlak, ketekunan beribadah, keikhlasan, dan semangat perjuangannya dalam kehidupan sehari-hari.
Salah satu pengurus, Rahmat Iswahyuddin, menyampaikan bahwa kegiatan tersebut memiliki makna penting dalam mempererat tali silaturahmi antara dzurriyah, para santri, dan masyarakat sekitar.
Menurutnya, majelis manaqib juga menjadi sarana untuk menumbuhkan kecintaan kepada para ulama serta memperkuat nilai-nilai spiritual yang menjadi fondasi kehidupan pesantren.
“Melalui kegiatan ini, kami berharap silaturahmi antara dzurriyah, santri, dan masyarakat semakin erat. Lebih dari itu, momentum ini diharapkan dapat menumbuhkan semangat untuk meneladani akhlak mulia para ulama serta menjaga tradisi keagamaan yang telah diwariskan dari generasi ke generasi,” demikian pesan yang tercermin dari pelaksanaan kegiatan tersebut.
Peringatan Hari Santri Nasional 2026 melalui majelis manaqib ini sekaligus menegaskan bahwa pesantren bukan sekadar tempat menimba ilmu agama, melainkan juga pusat pembentukan karakter, penguatan moral, dan pelestarian tradisi keislaman yang hidup di tengah masyarakat.
Kehadiran ratusan santri dan masyarakat sekitar menjadi gambaran kuatnya ikatan antara pesantren dan lingkungan sosialnya. Kebersamaan yang terbangun dalam majelis tersebut memperlihatkan bahwa nilai-nilai keagamaan dapat menjadi jembatan pemersatu sekaligus sumber inspirasi untuk membangun kehidupan masyarakat yang lebih harmonis.
Seluruh rangkaian kegiatan berlangsung dengan tertib dan penuh kekhusyukan, kemudian ditutup dengan doa bersama. Doa dipanjatkan untuk memohon keberkahan bagi Pondok Pesantren Mambaul Ihsan, keselamatan dan kemuliaan para masyayikh, serta kedamaian, keselamatan, dan kemajuan bangsa dan negara.
Melalui kegiatan ini, keluarga besar Ponpes Mambaul Ihsan berharap semangat Hari Santri Nasional 2026 tidak berhenti pada seremoni peringatan semata.
Lebih dari itu, momentum ini diharapkan menjadi pengingat bagi seluruh santri untuk terus menghidupkan tradisi keilmuan, menjaga akhlakul karimah, memperkuat persaudaraan, dan mengamalkan nilai-nilai perjuangan ulama demi agama, masyarakat, dan Indonesia. (Red)
Penulis: Ulul Azmi, mahasiswa Program Studi Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI), Fakultas Agama Islam, Universitas Hasyim Asy’ari (UNHASY) Tebuireng, Jombang













Komentar