SUARAMUDA.NET, BANTUL, YOGYAKARTA — Menikah bukan soal siapa yang paling cepat, melainkan siapa yang benar-benar siap. Pesan inilah yang mengemuka dalam kegiatan edukasi tentang pernikahan dini di Pondok Pesantren dan Lembaga Kesejahteraan Sosial Anak (LKSA) Bintan Sa’adillah Ar Rosyid, Krapyak Wetan, Panggungharjo, Sewon, Bantul, Kamis (22/10/2026).
Kegiatan yang menyasar remaja putri tersebut menjadi ruang belajar untuk memahami bahwa keputusan menikah bukan perkara sederhana.
Ada kesiapan fisik, mental, dan sosial yang perlu dipertimbangkan, termasuk konsekuensinya terhadap pendidikan dan rencana masa depan.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Edukasi ini merupakan bagian dari pengabdian kepada masyarakat yang dilakukan tim dosen Keperawatan Universitas Jenderal Achmad Yani Yogyakarta. Tim tersebut terdiri atas Dwi Yati, Latifah Susilowati, dan Sujono Riyadi.
Dalam pemaparannya, tim mengulas berbagai dampak pernikahan dini, mulai dari risiko kesehatan, tantangan psikologis, hingga kemungkinan terganggunya keberlanjutan pendidikan.
Pemahaman tersebut penting agar remaja tidak mengambil keputusan besar hanya karena tekanan lingkungan, tuntutan sosial, atau anggapan bahwa menikah lebih cepat merupakan sebuah pencapaian.
“Menikah bukan perlombaan. Yang terpenting bukan seberapa cepat, tetapi seberapa siap,” ujar Dwi Yati dalam kegiatan tersebut.
Belajar dari Kasus Nyata, Bukan Sekadar Teori
Agar materi lebih mudah dipahami, edukasi disampaikan melalui presentasi, diskusi, dan pembahasan kasus. Pendekatan interaktif ini mengajak peserta melihat persoalan pernikahan dini melalui situasi yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Para remaja tidak hanya memperoleh informasi mengenai risiko pernikahan dini, tetapi juga diajak mempertimbangkan pentingnya mengenali diri, memahami konsekuensi keputusan, serta menyusun rencana masa depan secara lebih matang.
Suasana kegiatan berlangsung interaktif. Para peserta tampak antusias mengikuti diskusi dan pembahasan kasus yang disampaikan oleh tim dosen.
Bagi remaja yang tinggal di lingkungan pesantren dan LKSA, edukasi semacam ini menjadi salah satu upaya memperkuat bekal pengetahuan dalam menghadapi persoalan kehidupan, termasuk ketika berhadapan dengan pilihan untuk menikah.
Menyiapkan Masa Depan, Bukan Sekadar Mengejar Status
Melalui kegiatan tersebut, tim berharap para remaja semakin memahami dampak pernikahan dini dan mampu mempertimbangkan kesiapan diri sebelum mengambil keputusan terkait pernikahan.
Pesan yang ingin ditegaskan sederhana: setiap orang memiliki perjalanan hidup dan waktunya masing-masing. Pernikahan tidak semestinya dijadikan ajang perbandingan, apalagi ukuran keberhasilan seseorang pada usia tertentu.
Membangun pemahaman sejak dini menjadi langkah penting agar remaja dapat mengambil keputusan secara sadar, mempertimbangkan berbagai konsekuensi, serta tetap memiliki ruang untuk mengembangkan pendidikan dan potensi diri.
Sebab, masa depan tidak ditentukan oleh seberapa cepat seseorang menikah, tetapi juga oleh kemampuannya mempersiapkan diri untuk menjalani setiap pilihan hidup dengan bertanggung jawab. (Red)














Komentar