SUARAMUDA.NET, SURABAYA — Bosan dengan pameran yang cuma menyuguhkan lukisan di dinding? ARTSUBS 2026 punya pengalaman berbeda.
Pengunjung diajak menjelajahi beragam ekspresi seni kontemporer, mulai dari lukisan abstrak, patung, instalasi berbahan limbah, hingga karya seni berbasis teknologi.
Bertempat di kompleks Balai Pemuda Surabaya, Jalan Gubernur Suryo No. 15, pameran ini berlangsung pada 19 September hingga 8 November 2026.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Sebanyak lebih dari 500 karya dari 113 seniman di berbagai daerah di Indonesia hadir untuk menyuguhkan pengalaman seni yang beragam.
Memasuki tahun ketiganya, ARTSUBS mengusung tema “Border, Thresholds and Beyond“. Tema tersebut mengeksplorasi batas-batas seni konvensional sekaligus membuka ruang pertemuan dengan disiplin lain, seperti arsitektur, teknologi, musik, dan tradisi.
Hasilnya, pengunjung tidak hanya diajak menikmati keindahan karya, tetapi juga menafsirkan gagasan dan pesan yang disampaikan para seniman.
Bukan Sekadar Lukisan, Ada Banyak Hal untuk Dieksplorasi
Salah satu daya tarik ARTSUBS 2026 adalah deretan lukisan abstrak berukuran besar yang menghiasi dinding putih ruang pamer. Sapuan warna-warni berpadu dengan pencahayaan sorot yang menonjolkan karakter setiap karya.
Namun, pengalaman menjelajahi pameran ini tidak berhenti pada lukisan. Pengunjung juga bisa menemukan patung kontemporer, instalasi dari limbah plastik dan logam, miniatur arsitektur, hingga new media art yang memanfaatkan teknologi sebagai bagian dari ekspresi artistik.
Pameran dibagi menjadi enam zona dengan karakter ruang dan warna dinding yang berbeda. Penataan tersebut memberikan pengalaman visual yang beragam sekaligus membantu pengunjung menikmati karakter setiap karya.
Keberagaman medium juga memperlihatkan bahwa seni kontemporer tidak selalu harus hadir dalam bentuk lukisan atau patung. Material sehari-hari, teknologi, dan gagasan lintas disiplin dapat menjadi medium untuk menyampaikan pesan kepada publik.
Pengunjung: Karyanya Bagus, tetapi Juga Bikin Mikir
Bagi pengunjung yang baru pertama kali datang, ARTSUBS menawarkan pengalaman yang lebih dari sekadar melihat-lihat karya seni.
Lutfia, pengunjung asal Sidoarjo, mengaku terkesan dengan konsep pameran yang memberikan ruang bagi pengunjung untuk memahami karya secara lebih mendalam.
“Kesannya keren banget, baru pertama kali ke ARTSUBS. Karya-karyanya tidak hanya bagus buat foto, tapi bikin mikir. Apalagi ada barcode untuk baca deskripsi karya jadi lebih paham,” ujarnya.
Menurut Lutfia, keberadaan barcode yang memuat informasi karya membantu pengunjung memahami konteks dan gagasan di balik karya yang dipamerkan.
Pengalaman serupa juga dirasakan Fano, seorang mahasiswa desain. Ia menilai sejumlah karya abstrak memberikan tantangan tersendiri karena tidak selalu mudah dipahami melalui pengamatan sekilas.
“Banyak karya abstrak yang mungkin tidak bisa ditangkap semua orang, tapi petugasnya sangat membantu menjelaskan,” ujarnya.
Pengalaman kedua pengunjung tersebut menunjukkan bahwa apresiasi terhadap seni tidak selalu berhenti pada penilaian apakah sebuah karya terlihat bagus atau menarik.
Informasi pendukung dan penjelasan dari petugas turut membantu pengunjung memahami pesan yang ingin disampaikan seniman.
Mau Berkunjung? Perhatikan Jam Ramainya
Bagi masyarakat yang ingin menikmati ARTSUBS 2026, pameran ini buka setiap hari pukul 10.00–22.00 WIB.
Tiket masuk reguler dibanderol Rp100.000 dan tersedia melalui pembelian daring maupun langsung di lokasi.
Berdasarkan pantauan di lokasi, jumlah pengunjung cenderung ramai setelah pukul 15.00 WIB. Bagi yang ingin menikmati karya dengan suasana lebih leluasa, datang lebih pagi pada hari kerja bisa menjadi pilihan.
Dengan ratusan karya, beragam medium, dan pendekatan seni lintas disiplin, ARTSUBS 2026 menjadi ruang bagi publik untuk mengenal seni kontemporer dari sudut pandang yang lebih luas.
Pameran ini sekaligus mengingatkan bahwa seni bukan hanya tentang apa yang terlihat oleh mata. Di balik warna, bentuk, dan material, ada gagasan yang bisa mengundang pertanyaan, membuka perspektif, dan memantik percakapan. (Red)
Penulis: Fitrotul Mufiddah, mahasiswa Program Studi Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI), Fakultas Agama Islam, Universitas Hasyim Asy’ari (UNHASY) Tebuireng, Jombang














Komentar