SUARAMUDA.NET, SEMARANG — Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) UIN Walisongo Semarang menyelenggarakan seminar internasional bertajuk “Research on Environment and Its Impact on Policy and Social Movement” di Lantai 4 ICT Center, Kampus III UIN Walisongo Semarang, Selasa (4/8/2026).
Kegiatan tersebut menghadirkan Prof. Sadhan Kumar Ghosh, Guru Besar Teknik Mesin Jadavpur University, Kolkata, India, sekaligus Presiden International Society of Waste Management, Air and Water (ISWMAW).
Prof. Ghosh dikenal sebagai akademisi dan peneliti yang menaruh perhatian pada pengelolaan limbah, ekonomi sirkular, pembangunan berkelanjutan, serta inovasi teknologi lingkungan.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Seminar dibuka oleh Dekan FISIP UIN Walisongo Semarang, Prof. Dr. Moh. Fauzi, M.Ag. Dalam sambutannya, Fauzi menegaskan bahwa persoalan lingkungan merupakan tanggung jawab bersama yang membutuhkan keterlibatan pemerintah, perguruan tinggi, dunia usaha, masyarakat, dan generasi muda.
Menurutnya, isu lingkungan tidak lagi hanya menjadi persoalan ilmu pengetahuan, tetapi telah berkembang menjadi isu strategis yang berkaitan langsung dengan kebijakan publik, pembangunan berkelanjutan, serta dinamika gerakan sosial di berbagai negara.
“Permasalahan lingkungan tidak dapat diselesaikan oleh satu pihak. Diperlukan kolaborasi lintas sektor, lintas disiplin, dan lintas negara agar pengetahuan yang dihasilkan perguruan tinggi dapat memberikan dampak nyata bagi masyarakat,” ujarnya.
Fauzi juga menyampaikan bahwa kegiatan akademik internasional menjadi bagian penting dari upaya FISIP UIN Walisongo dalam memperluas perspektif mahasiswa dan dosen, meningkatkan kualitas pembelajaran, serta memperkuat jejaring penelitian dengan perguruan tinggi dan lembaga internasional.
Dalam paparannya, Prof. Ghosh menekankan bahwa persoalan lingkungan kini semakin nyata dan dirasakan dalam kehidupan sehari-hari. Oleh karena itu, penelitian mengenai lingkungan tidak seharusnya berhenti pada publikasi ilmiah, melainkan perlu diterjemahkan menjadi solusi konkret yang dapat diterapkan oleh masyarakat, memengaruhi proses perumusan kebijakan, dan mendorong lahirnya gerakan sosial.
Ia menjelaskan bahwa langkah sederhana seperti memilah sampah berdasarkan jenisnya dapat memberikan dampak yang besar. Pemilahan sampah tidak hanya membantu mengurangi pencemaran udara, air, dan tanah, tetapi juga membuka peluang pengolahan kembali sampah menjadi produk yang memiliki nilai ekonomi.
Prof. Ghosh turut memperkenalkan sejumlah inovasi berbasis penelitian yang telah dikembangkan dan dipatenkan. Salah satunya adalah teknologi untuk mengolah sampah plastik menjadi biji plastik yang dapat digunakan kembali sebagai bahan baku produksi.
Inovasi tersebut menunjukkan bahwa sampah plastik tidak selalu harus berakhir di tempat pembuangan akhir. Dengan teknologi dan sistem pengelolaan yang tepat, limbah plastik dapat dikembalikan ke dalam siklus produksi dan dimanfaatkan kembali sebagai bagian dari penerapan ekonomi sirkular.
Selain itu, Prof. Ghosh juga memaparkan inovasi teknologi untuk meningkatkan efisiensi pemrosesan tanaman jute atau goni. Teknologi tersebut dikembangkan untuk mendukung proses produksi yang lebih efisien sekaligus memperhatikan aspek keberlanjutan lingkungan.
Menurutnya, inovasi teknologi perlu berjalan seiring dengan kebijakan yang mendukung, partisipasi masyarakat, serta perubahan pola pikir. Tanpa adanya perubahan perilaku dan tata kelola yang baik, teknologi lingkungan tidak akan memberikan hasil yang optimal.
Salah satu gagasan utama yang menjadi perhatian dalam seminar tersebut adalah program “Catch Them Young”, yakni program edukasi lingkungan yang digagas oleh Prof. Ghosh untuk menanamkan kesadaran mengenai daur ulang, pengelolaan sampah, dan keberlanjutan sejak usia dini.
Program tersebut menyasar anak-anak usia sekolah dasar dan sekolah menengah pertama. Melalui pendekatan pendidikan sejak dini, anak-anak diajak untuk memahami pentingnya memilah sampah, mengurangi penggunaan bahan sekali pakai, mendaur ulang, dan menjaga kebersihan lingkungan.
Prof. Ghosh berpandangan bahwa perubahan pola pikir akan lebih efektif apabila dimulai sejak anak-anak. Kesadaran yang ditanamkan sejak dini diharapkan dapat berkembang menjadi kebiasaan dan membentuk generasi yang lebih bertanggung jawab terhadap lingkungan.
Program “Catch Them Young” tidak hanya diarahkan kepada peserta didik, tetapi juga membutuhkan dukungan sekolah, keluarga, pemerintah, perguruan tinggi, pelaku usaha, dan komunitas masyarakat.
Kolaborasi berbagai pihak dinilai penting agar pendidikan lingkungan tidak berhenti pada pengetahuan, tetapi berkembang menjadi praktik sehari-hari.
Dalam kesempatan tersebut, Prof. Ghosh mengajak seluruh entitas untuk terlibat dalam membangun ekosistem pengelolaan lingkungan yang berkelanjutan. Menurutnya, persoalan sampah, pencemaran, dan perubahan iklim terlalu kompleks apabila hanya dibebankan kepada pemerintah atau kelompok tertentu.
Ia menegaskan bahwa perguruan tinggi memiliki peran strategis dalam menghasilkan riset, mengembangkan inovasi, memberikan rekomendasi kebijakan, serta membangun kesadaran publik.
“Sementara itu, pemerintah berperan menyediakan regulasi dan dukungan kelembagaan, sedangkan masyarakat menjadi aktor penting dalam perubahan perilaku dan gerakan sosial, “ujarnya.
Seminar juga membahas hubungan antara pengelolaan lingkungan, pembangunan berkelanjutan, ekonomi sirkular, kebijakan publik, dan gerakan sosial.
Prof. Ghosh membagikan pengalamannya dalam membangun kolaborasi penelitian di berbagai negara untuk menghasilkan solusi terhadap persoalan lingkungan global.
Diskusi yang dimoderatori oleh dosen FISIP UIN Walisongo, Nur Hasyim, M.A., ini berlangsung interaktif. Dosen dan mahasiswa memanfaatkan forum tersebut untuk mendiskusikan berbagai isu, mulai dari pengelolaan sampah, inovasi teknologi, partisipasi masyarakat, pendidikan lingkungan, hingga peran kebijakan publik dalam merespons perubahan iklim.
Para peserta juga menyoroti pentingnya menghubungkan hasil penelitian dengan kebutuhan masyarakat. Riset dinilai perlu menghasilkan rekomendasi yang dapat diterapkan, baik melalui kebijakan pemerintah, program pemberdayaan masyarakat, maupun gerakan sosial yang melibatkan generasi muda.
Kegiatan ini menjadi salah satu wujud komitmen FISIP UIN Walisongo dalam meningkatkan kualitas pembelajaran dan memperkuat internasionalisasi akademik.
Kehadiran akademisi internasional diharapkan tidak hanya memperluas wawasan global mahasiswa, tetapi juga membuka peluang kolaborasi dalam bidang penelitian, publikasi ilmiah, pertukaran pengetahuan, dan pengembangan program pendidikan lingkungan.
Melalui penyelenggaraan seminar internasional tersebut, FISIP UIN Walisongo mendorong perguruan tinggi agar tidak hanya berperan sebagai pusat pengembangan ilmu pengetahuan, tetapi juga menjadi bagian dari upaya menghasilkan inovasi, memengaruhi kebijakan publik, serta menggerakkan kolaborasi sosial untuk mewujudkan lingkungan yang lebih berkelanjutan. (Red)













Komentar