SUARAMUDA.NET, LAMONGAN — Komitmen terhadap peningkatan kualitas pendidikan tidak hanya diukur dari nilai akademik siswa, melainkan juga dari ekosistem belajar yang sehat dan suportif.
Menyadari hal tersebut, Dewan Guru MTs Muhammadiyah 20 Menongo, Desa Menongo, Kecamatan Sukodadi, Kabupaten Lamongan, secara serentak dan penuh tanggung jawab melaksanakan Survei Lingkungan Belajar (Sulingjar) Tahun 2026.
Kegiatan ini bukan sekadar pemenuhan kewajiban administratif nasional, melainkan momentum refleksi diri yang krusial untuk memetakan kekuatan dan kelemahan madrasah sebagai dasar perbaikan mutu pendidikan di masa depan.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Cermin Evaluasi Ekosistem Sekolah
Survei Lingkungan Belajar (Sulingjar) adalah instrumen evaluasi resmi dari Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) yang terintegrasi dalam Asesmen Nasional.
Berbeda dengan asesmen yang mengukur kompetensi peserta didik, Sulingjar secara spesifik “membidik” kondisi lingkungan satuan pendidikan itu sendiri.
Tujuannya adalah mengevaluasi kualitas pembelajaran, iklim keamanan, inklusivitas, kepemimpinan sekolah, serta dukungan sarana prasarana.
Hasil survei ini akan menjadi fondasi penyusunan Profil dan Rapor Pendidikan MTs Muhammadiyah 20 Menongo, sehingga program kerja tahun ajaran berikutnya dapat dirancang berbasis data yang valid, akurat, dan tepat sasaran, bukan berdasarkan asumsi semata.
Partisipasi Kepala Madrasah dan Guru
Pelaksanaan Sulingjar 2026 di MTs Muhammadiyah 20 Menongo melibatkan dua kelompok responden utama sesuai ketentuan Surat Edaran Nomor 0212/B/F/SK.02.02/2026.
Kepala Madrasah sebagai pemimpin yang dievaluasi terkait gaya kepemimpinan, manajemen sumber daya, dan kemampuan menciptakan iklim sekolah yang kondusif.
Seluruh dewan guru yang terdaftar di Dapodik. Ini sebagai garda terdepan proses pembelajaran yang memberikan masukan langsung mengenai kualitas pengajaran, umpan balik kepada siswa, serta dukungan fasilitas yang mereka terima sehari-hari.
Setiap responden mengisi survei secara mandiri menggunakan akun SSO, token, dan NPSN yang telah diverifikasi oleh operator madrasah, menjamin bahwa setiap jawaban merupakan refleksi jujur dan objektif dari pengalaman nyata di lapangan.
Pengisian Daring Selama Periode Nasional
Kegiatan Sulingjar 2026 dilaksanakan secara serentak di tingkat nasional pada periode 20 Juli 2026 hingga 17 Agustus 2026. Di MTs Muhammadiyah 20 Menongo, seluruh proses pengisian dilakukan secara daring (online) melalui Dashboard resmi Kementerian Agama di https://dashboard.kemenag.go.id/sulingjar.
Fleksibilitas waktu pengisian memungkinkan guru dan kepala madrasah untuk menjawab pertanyaan survei dengan tenang dan mendalam tanpa mengganggu jam mengajar, sekaligus memastikan partisipasi mencapai target 100% sebelum batas waktu nasional berakhir.
Dari Data Menuju Kebijakan Berkelanjutan
Mengapa Sulingjar begitu vital bagi MTs Muhammadiyah 20 Menongo? Karena data yang dihasilkan adalah “cermin” yang jujur. Melalui survei ini, madrasah dapat mengidentifikasi aspek mana yang sudah kuat (misalnya: iklim kebinekaan atau semangat kolaborasi guru) dan aspek mana yang masih perlu diperbaiki (misalnya: variasi metode pembelajaran atau ketersediaan alat peraga).
Lebih jauh, partisipasi aktif dalam Sulingjar adalah wujud nyata visi Muhammadiyah dalam mencerdaskan kehidupan bangsa; bahwa pendidikan berkualitas harus dimulai dari lingkungan yang aman, nyaman, inklusif, dan bebas kekerasan. Tanpa evaluasi berkala seperti ini, upaya peningkatan mutu hanya akan berjalan di tempat tanpa arah yang jelas.
Penilaian dan Tindak Lanjut Program
Sulingjar 2026 menggali lima dimensi fundamental yang saling berkaitan:
1. Kualitas Proses Pembelajaran: Menilai keterlibatan siswa, diferensiasi pembelajaran, dan efektivitas umpan balik guru.
2. Iklim Keamanan Sekolah: Mengukur persepsi warga sekolah terhadap rasa aman fisik dan psikologis, termasuk pencegahan perundungan dan kekerasan.
3. Iklim Kebinekaan dan Inklusivitas: Melihat sejauh mana madrasah menghargai perbedaan latar belakang siswa dan menyediakan akses belajar yang adil.
4. Kepemimpinan Sekolah: Mengevaluasi kemampuan kepala madrasah dalam memotivasi, mengelola konflik, dan mendistribusikan sumber daya secara transparan.
5. Dukungan Sarana Prasarana: Memastikan fasilitas fisik dan digital memadai untuk mendukung kurikulum Merdeka Belajar.
Setelah periode pengisian selesai, data akan diolah oleh Kemendikbudristek dan Kemenag.
Hasilnya kemudian didiskusikan dalam rapat dewan guru untuk diterjemahkan menjadi Rencana Kerja Madrasah (RKM) yang konkret, terukur, dan berorientasi pada kesejahteraan serta kemajuan bersama.
Bergerak, Reflektif, dan Berkualitas
Pelaksanaan Sulingjar 2026 di MTs Muhammadiyah 20 Menongo adalah bukti bahwa keluarga besar madrasah ini tidak puas dengan pencapaian saat ini. Mereka berani melihat ke dalam, mengakui kekurangan, dan berkomitmen untuk berbenah. (Red)
Penulis : SAM













Komentar