SUARAMUDA.NET, LANGKAT — Suasana pagi yang cerah pada Jumat (17/7/2026) menjadi saksi kemeriahan hari terakhir pelaksanaan Masa Ta’aruf Siswa Madrasah (MATA MUDA) Tahun Ajaran 2026/2027 di Madrasah Ibtidaiyah Negeri (MIN) 9 Langkat.
Berbeda dengan penutupan masa orientasi pada umumnya yang kerap diisi dengan kegiatan di dalam ruangan, puluhan siswa baru kelas 1 justru diajak untuk bersentuhan langsung dengan alam.
Mereka secara serentak melaksanakan aksi nyata berupa penanaman pohon di lingkungan madrasah, sebuah langkah konkret yang mengimplementasikan konsep ekoteologi, yakni mengaitkan nilai-nilai teologis dengan upaya pelestarian lingkungan hidup.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Gerakan masif yang dilakukan di pekarangan madrasah ini bukanlah tanpa alasan yang kuat, melainkan merupakan pengejawantahan langsung dari gagasan besar Menteri Agama Republik Indonesia, Nasaruddin Umar.
Dalam berbagai kesempatan, Menag selalu menekankan pentingnya ekoteologi sebagai salah satu pilar transformasi madrasah yang selaras dengan program prioritas atau Asta Protas Kemenag.
Melalui visi ini, pendidikan di madrasah tidak hanya dituntut untuk mencetak generasi yang cerdas secara intelektual dan spiritual, tetapi juga memiliki kesadaran ekologis yang tinggi untuk menjaga bumi sebagai amanah dari Sang Pencipta.
Sejak gerbang madrasah dibuka, pemandangan luar biasa sudah terlihat ketika para siswa dari masing-masing kelas, yakni kelas 1-A, 1-B, dan 1-C, berbondong-bondong datang dengan wajah penuh keceriaan.
Tangan-tangan mungil mereka tampak erat memeluk berbagai jenis bibit tanaman pohon buah dan tanaman hias yang sengaja mereka bawa langsung dari rumah.
Dengan menyiratkan kesiapan untuk beraktivitas fisik, anak-anak yang baru saja menanggalkan status sebagai siswa Taman Kanak-Kanak ini terlihat sangat tidak sabar untuk segera memulai misi hijau mereka di lahan sekolah yang telah ditentukan.
Praktik lapangan pun dimulai dengan panduan intensif dari para wali kelas dan guru pendamping.
Anak-anak diajarkan tahapan bercocok tanam yang benar, mulai dari memegang cangkul kecil untuk membuat lubang tanam di tanah yang telah digemburkan, melepaskan plastik polybag dengan kehati-hatian tingkat tinggi agar akar tidak rusak, hingga menempatkan bibit pohon secara tegak ke dalam lubang.
Setelah bibit tertanam kuat dan tertutup tanah, mereka secara bergantian menyiramnya dengan air menggunakan gembor kecil, menjadikan proses tersebut sebagai arena bermain sekaligus belajar yang sangat interaktif.
Melihat dinamika yang luar biasa di lapangan, salah satu wali kelas 1, Nurfadhillah, S.Pd.I., tampak tak henti-hentinya memberikan senyuman dan arahan lembut kepada anak-anak didiknya.
Ia dengan sabar mendampingi siswa yang kesulitan menggali tanah dan memberikan pemahaman bahasa anak-anak tentang mengapa pohon tersebut harus dirawat setiap hari.
Menurutnya, pengalaman sensorik dan motorik yang didapatkan anak-anak pada hari terakhir MATA MUDA ini akan membekas kuat dalam memori mereka serta menjadi fondasi krusial bagi pembentukan karakter peduli lingkungan hidup.
“Anak-anak sungguh luar biasa antusiasnya hari ini. Mereka sama sekali tidak merasa jijik saat harus menyentuh tanah basah, membuat lubang dengan tangan mereka sendiri, dan menyiram tanaman secara bergiliran. Justru, hal ini menjadi petualangan baru yang sangat menyenangkan bagi mereka setelah dua hari sebelumnya kami fokus pada pengenalan lingkungan gedung dan tata tertib kelas,” ungkap Nurfadhillah sembari membantu salah satu siswanya memadatkan tanah pada bibit pohon.
Lebih jauh, Nurfadhillah memaparkan bahwa edukasi ekologis di tingkat dasar harus dimulai melalui praktik langsung, bukan sekadar imbauan di papan tulis kelas.
“Melalui kegiatan membawa dan menanam pohon bersama ini, kami sedang mengajarkan mereka bahwa mencintai alam adalah bagian tak terpisahkan dari keimanan. Mereka belajar bahwa pohon yang mereka tanam dan rawat hari ini akan memberikan udara segar kelak. Ini adalah bentuk tanggung jawab kecil yang kami latih sejak dini,” tambahnya dengan nada penuh kebanggaan melihat semangat para siswa.
Sejalan dengan hal tersebut, Kepala MIN 9 Langkat, Sopian, S.Pd.I., M.Sos., memberikan pandangan strategisnya mengenai kegiatan penutupan MATA MUDA ini.
Ia menilai bahwa integrasi antara pendidikan nilai-nilai agama dan kelestarian alam adalah sebuah keharusan mutlak di era modern.
Madrasah harus memosisikan diri sebagai pelopor gerakan hijau yang berbasis pada nilai-nilai keagamaan, memastikan bahwa setiap regulasi dan arahan dari pusat, terutama terkait Asta Protas, dapat teraplikasikan dengan baik di madrasah.
“Kegiatan pada hari terakhir MATA MUDA ini bukan sekadar seremonial penutupan yang bersifat formalitas, melainkan wujud nyata dari komitmen kami di MIN 9 Langkat dalam merespons arahan Bapak Menteri Agama RI, Nasaruddin Umar, terkait penerapan ekoteologi. Kita ingin memastikan Asta Protas Kemenag benar-benar membumi di lingkungan belajar. Melalui aksi menanam pohon ini, kita sedang menanamkan teologi lingkungan kepada anak-anak, mengajarkan bahwa merawat kelestarian bumi adalah ibadah serta wujud syukur kita kepada Allah SWT,” papar Sopian dengan intonasi tegas dan berwibawa.
Rangkaian kegiatan MATA MUDA Tahun Ajaran 2026/2027 di MIN 9 Langkat pun akhirnya resmi ditutup ditengah hamparan bibit pohon yang baru saja ditanam oleh para siswa. Harapan besar kini disematkan pada pundak generasi muda penerus bangsa ini.
Seiring dengan berjalannya waktu dan pergantian musim, pohon-pohon yang ditanam oleh tangan-tangan kecil siswa kelas 1 tersebut diharapkan akan tumbuh besar dan rindang, merepresentasikan pertumbuhan akhlak, keluasan ilmu, dan tingginya kepedulian ekologis para siswa selama menempuh pendidikan di MIN 9 Langkat. (Fr)














Komentar