Jangan Salah Kaprah! Haedar Nashir: Pendidikan Bukan Buat Cari Kuasa atau Uang

"Ketua Umum PP Muhammadiyah menegaskan pendidikan harus berorientasi pada pengabdian dan pencerdasan bangsa, bukan menjadi alat meraih jabatan, kekuasaan, maupun keuntungan ekonomi."

- Penulis

Senin, 6 Juli 2026 - 15:42 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah Haedar Nashir menghadiri kegiatan di salah satu sekolah Muhammadiyah di Kalurahan Tamantirto, Kapanewon Kasihan, Kabupaten Bantul, Sabtu (4/7). (ANTARA/Agung Dwi Prakoso)

Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah Haedar Nashir menghadiri kegiatan di salah satu sekolah Muhammadiyah di Kalurahan Tamantirto, Kapanewon Kasihan, Kabupaten Bantul, Sabtu (4/7). (ANTARA/Agung Dwi Prakoso)

SUARAMUDA.NET, YOGYAKARTA — Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nashir mengingatkan para pemangku kebijakan agar tidak menjadikan dunia pendidikan sebagai alat meraih kekuasaan maupun keuntungan finansial.

Menurut Haedar, pendidikan adalah amanah besar untuk mencerdaskan bangsa, bukan sekadar jalan menuju jabatan atau ladang mencari uang.

“Salah kalau kita menempatkan pendidikan sebagai faktor kekuasaan, apalagi menjadi faktor uang,” tegas Haedar saat menghadiri acara di Bantul, Sabtu.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Ia menegaskan pesan itu berlaku bagi seluruh pengambil kebijakan pendidikan, mulai dari kepala dinas, menteri, direktur, hingga kepala sekolah.

“Pendidikan itu bukan urusan jabatan dan kekuasaan. Kalau menempatkannya seperti itu, ya keliru,” ujarnya.

Haedar menilai, tantangan dunia pendidikan Indonesia semakin kompleks sehingga dibutuhkan pemimpin yang benar-benar memiliki semangat pengabdian.

Baca Juga :  Ketika Ucapan 'Para' Wapres Gibran Viral: Apa iya, Kesalahan Berbahasa Jadi Bukti Kredibilitas yang Rendah?

Ia juga mengingatkan bahwa sekolah dan perguruan tinggi tidak boleh berubah menjadi institusi yang semata-mata mengejar keuntungan ekonomi.

“Kalau sekolah dan kampus hanya dijadikan jalan mencari uang, nanti bisa dilihat sendiri ujungnya,” katanya.

Karena itu, Haedar mengajak seluruh pihak untuk mengubah cara pandang terhadap pendidikan. Menurutnya, setiap orang yang mendapat amanah di sektor pendidikan harus memegang tanggung jawab besar dalam mencerdaskan kehidupan bangsa.

Ia juga menyoroti kontribusi Muhammadiyah yang telah lebih dari satu abad membangun pendidikan, bahkan sejak masa sebelum Indonesia merdeka ketika pemerintah belum hadir secara maksimal dalam menyediakan layanan pendidikan.

Baca Juga :  Sakola Kembara Hadir di Belajaraya 2026, Dorong Perubahan Pendidikan Indonesia Menjadi Lebih Baik

Di sisi lain, Haedar mengkritik arah pembangunan pendidikan nasional yang kerap berubah setiap kali terjadi pergantian pemerintahan. Akibatnya, program pendidikan sering dimulai dari nol tanpa memiliki peta jalan jangka panjang yang konsisten.

“Kita belum memiliki roadmap yang benar-benar kuat untuk mewujudkan tujuan mencerdaskan kehidupan bangsa,” ungkapnya.

Meski begitu, Haedar optimistis Indonesia kini mulai memiliki arah yang lebih jelas melalui visi Pendidikan Emas 2045. Ia menilai visi tersebut harus diwujudkan lewat langkah nyata, mulai dari reaktualisasi, revitalisasi, reformasi, hingga transformasi pendidikan.

“Semua itu menjadi tugas pemerintah bersama para kepala sekolah untuk menerjemahkannya menjadi kebijakan dan praktik yang nyata,” pungkasnya. (Red)

Follow WhatsApp Channel suaramuda.net untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Survei Poltracking: Gerindra 23,2 Persen, PDIP dan Golkar Mengekor
Pergantian Posisi di JP Group dan Perhatian terhadap Energi Terbarukan
Parpol Nonparlemen Tolak PT 5 Persen, Merasa Dijegal hingga Tuduh Koalisi Arogan
Pajak Seller Marketplace Segera Dipungut, Seller Online Perlu Siap-siap
Saat Tari Piring Bertemu Tarian Mandarin, IFSRC Bawa Diplomasi Indonesia–Tiongkok ke Panggung Budaya
DPR Pertanyakan Rencana 200 Juta Rekening: Yang Belum Punya Rekening Cuma 15,3 Juta
Bukan Cuma Urusan Pemerintah, IFSRC Buka Jalur Baru Diplomasi Indonesia–Tiongkok
GCI dan Masa Depan Hubungan Indonesia–Tiongkok Dibahas di Jakarta
Berita ini 19 kali dibaca

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊


Berita Terkait

Rabu, 23 September 2026 - 19:25 WIB

Survei Poltracking: Gerindra 23,2 Persen, PDIP dan Golkar Mengekor

Minggu, 20 September 2026 - 09:39 WIB

Parpol Nonparlemen Tolak PT 5 Persen, Merasa Dijegal hingga Tuduh Koalisi Arogan

Jumat, 18 September 2026 - 16:42 WIB

Pajak Seller Marketplace Segera Dipungut, Seller Online Perlu Siap-siap

Jumat, 18 September 2026 - 09:01 WIB

Saat Tari Piring Bertemu Tarian Mandarin, IFSRC Bawa Diplomasi Indonesia–Tiongkok ke Panggung Budaya

Kamis, 17 September 2026 - 08:45 WIB

DPR Pertanyakan Rencana 200 Juta Rekening: Yang Belum Punya Rekening Cuma 15,3 Juta

Berita Terbaru

Bendera Partai Gerindra, PDIP dan Partai Golkar. (Ilustrasi: Pinterest)

KABAR NUSANTARA

Survei Poltracking: Gerindra 23,2 Persen, PDIP dan Golkar Mengekor

Rabu, 23 Sep 2026 - 19:25 WIB

Sumber foto: sindonews.com

KILAS GLOBAL

BRICS Masih Jadi Magnet Negara Berkembang, 45 Negara Pengen Gabung!

Senin, 21 Sep 2026 - 22:09 WIB