SUARAMUDA.NET, SEMARANG — Ternyata alasan Prabowo Subianto berkali-kali maju Pilpres bukan sekadar karena hobi ikut kontestasi lima tahunan.
Menurut pengakuannya, ada misi yang lebih besar: membetulkan arah Indonesia yang, menurutnya, sudah melenceng sejak era 1990-an.
Pernyataan itu disampaikan Prabowo saat membuka Munas HIPMI XVIII di Bandar Lampung, Rabu (10/6). Di hadapan para pengusaha muda, ia mengingat kembali perjalanan panjangnya mengejar kursi RI 1.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Kalau dihitung-hitung, perjalanan politik Prabowo memang lebih panjang daripada antrean diskon tanggal kembar.
Mulai dari Konvensi Golkar 2004, Pilpres 2009, 2014, 2019, hingga akhirnya menang pada 2024. Total lima kali mencoba, empat kali harus menerima kenyataan pahit.
“Saya usaha jadi presiden dari 2004, 2009, 2014, 2019, 2024. Lima kali. Empat kali kalah,” kata Prabowo.
Selama bertahun-tahun, banyak yang mengira ambisi politiknya sekadar soal hasrat menjadi presiden. Para analis, pengamat, podcaster, hingga komentator kolom media sosial ramai-ramai membuat teori.
Ada yang bilang ambisi. Ada yang bilang obsesi. Ada pula yang mungkin sudah menyiapkan episode khusus berjudul “Mengapa Prabowo Tidak Pernah Kapok?”
Namun Prabowo punya versi cerita sendiri.
Menurutnya, ia terus maju bukan karena ingin mengoleksi jabatan, melainkan karena merasa Indonesia sudah berada di jalur yang kurang tepat sejak dekade 1990-an.
“Kenapa saya ingin jadi presiden? Karena saya sudah lihat dari tahun 90-an Indonesia menuju arah yang salah,” ujarnya.
Pernyataan itu langsung mengundang berbagai tafsir. Sebagian publik mungkin bertanya: salah arahnya di mana? Belok kiri? Belok kanan? Atau malah nyasar ke jalan tikus pembangunan?
Yang jelas, setelah resmi menjadi presiden, kini Prabowo tak lagi berdiri di pinggir jalan sambil menunjuk arah. Ia sudah duduk di kursi sopir.
Publik pun menunggu: setelah puluhan tahun dianggap salah jalur, apakah Indonesia akan menemukan rute baru menuju tujuan yang dijanjikan, atau justru kembali mendengar suara khas navigasi nasional: “Anda berada di jalur yang salah. Menghitung ulang rute…”. (Red)













Komentar