SUARAMUDA.NET, BANYUWANGI — Kekayaan budaya Nusantara yang hidup dan berkembang di tengah masyarakat kembali mendapat perhatian dari kalangan akademisi dan peneliti nasional. Sebagai bagian dari upaya pelestarian tradisi lisan dan penguatan dokumentasi warisan budaya takbenda, pada Senin, 01 Juni 2026,
Ketua Umum Masyarakat Pernaskahan Nusantara (Manassa) sekaligus Peneliti Pusat Riset Manuskrip, Literatur, dan Tradisi Lisan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Dr. Agus Iswanto, M.A.Hum., melakukan kunjungan budaya ke Kecamatan Songgon, Kabupaten Banyuwangi.
Kunjungan tersebut dilakukan untuk menyaksikan secara langsung prosesi adat Ruwat Pandawa, sebuah tradisi ritual yang masih lestari dan terus diwariskan secara turun-temurun oleh masyarakat Songgon.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Tradisi ini tidak hanya dipandang sebagai bagian dari praktik spiritual masyarakat, tetapi juga merupakan representasi dari pengetahuan budaya yang telah hidup selama berabad-abad dan terus beradaptasi dengan perkembangan zaman.
Dalam kesempatan tersebut, Agus Iswanto mengungkapkan apresiasinya terhadap masyarakat Songgon yang dinilai berhasil mempertahankan keberlangsungan tradisi di tengah arus modernisasi yang semakin kuat.
Menurutnya, keberadaan Ruwat Pandawa menunjukkan bahwa masyarakat masih memiliki hubungan yang erat dengan nilai-nilai budaya yang diwariskan oleh para leluhur.
“Songgon memiliki kekayaan budaya yang luar biasa. Kehadiran kami di sini adalah bagian dari komitmen BRIN dan Manassa untuk terus memetakan, meneliti, sekaligus mendukung ekosistem ketahanan budaya berbasis tradisi lokal. Tradisi seperti ini bukan hanya warisan masa lalu, tetapi juga sumber pengetahuan yang penting bagi masa depan,” ungkap Agus Iswanto saat menghadiri rangkaian prosesi ritual.
Ia menjelaskan bahwa Ruwat Pandawa dapat dipahami sebagai bentuk nyata dari konsep living manuscript, yaitu keberlanjutan nilai-nilai yang terkandung dalam manuskrip kuno, sastra tradisional, cerita rakyat, dan tradisi lisan yang tidak hanya tersimpan dalam naskah, tetapi juga diwujudkan dalam praktik kehidupan masyarakat.
Dalam konteks ini, ritual adat menjadi media pewarisan pengetahuan yang memungkinkan generasi sekarang tetap terhubung dengan nilai-nilai budaya yang telah diwariskan selama berabad-abad.
Tradisi Ruwat Pandawa sendiri merupakan salah satu ritual adat yang berakar pada filosofi pewayangan Jawa. Upacara ini umumnya diselenggarakan sebagai bentuk ikhtiar spiritual untuk membersihkan diri dari berbagai gangguan, kesialan, atau sengkala yang diyakini dapat memengaruhi kehidupan seseorang maupun sebuah keluarga.
Dalam pelaksanaannya, ritual ini melibatkan berbagai unsur budaya yang sarat makna simbolik, mulai dari pembacaan doa-doa khusus, penggunaan sesaji tradisional, pertunjukan seni yang mengandung pesan moral, hingga pemanfaatan air suci dari sumber mata air yang dianggap memiliki nilai sakral oleh masyarakat setempat.
Bagi masyarakat Songgon, Ruwat Pandawa bukan sekadar seremoni adat. Ritual ini menjadi ruang kolektif yang mempertemukan nilai spiritual, sosial, dan budaya dalam satu kesatuan.
Melalui pelaksanaannya, masyarakat tidak hanya menjaga hubungan dengan warisan leluhur, tetapi juga memperkuat solidaritas sosial antarwarga.
Setiap tahapan prosesi menjadi sarana pendidikan budaya yang memungkinkan generasi muda memahami makna, filosofi, dan identitas budaya yang mereka miliki.
Kecamatan Songgon sendiri dikenal sebagai salah satu wilayah yang memiliki kekayaan tradisi yang cukup kuat di Banyuwangi. Berada di kawasan lereng Gunung Raung, wilayah ini menjadi ruang pertemuan berbagai unsur budaya yang berkembang sejak lama.
Tradisi masyarakat Jawa berpadu dengan budaya Osing yang menjadi identitas khas Banyuwangi, menghasilkan ragam ekspresi budaya yang unik dan terus hidup di tengah masyarakat.
Kondisi geografis yang relatif dekat dengan kawasan pegunungan dan sumber-sumber mata air juga turut memengaruhi berkembangnya berbagai tradisi agraria dan ritual spiritual di daerah ini.
Tidak mengherankan jika hingga saat ini Songgon masih menjadi salah satu wilayah yang menyimpan beragam pengetahuan lokal, tradisi lisan, serta praktik budaya yang memiliki nilai penting bagi kajian sejarah, antropologi, dan kebudayaan.
Dalam perspektif penelitian kebudayaan, tradisi seperti Ruwat Pandawa memiliki nilai yang sangat strategis.
Selain merekam sistem kepercayaan masyarakat, ritual ini juga menyimpan berbagai informasi mengenai struktur sosial, hubungan manusia dengan alam, konsep keseimbangan hidup, serta mekanisme pewarisan pengetahuan yang berlangsung secara turun-temurun.
Oleh karena itu, dokumentasi yang komprehensif menjadi langkah penting agar berbagai pengetahuan tersebut tidak hilang seiring perubahan zaman.
Kunjungan yang dilakukan oleh Manassa dan BRIN merupakan bagian dari upaya yang lebih luas dalam memetakan tradisi lisan, manuskrip, dan berbagai bentuk warisan budaya takbenda di kawasan Tapal Kuda Jawa Timur.
Wilayah ini selama ini dikenal memiliki keragaman budaya yang tinggi, namun masih banyak tradisi yang belum terdokumentasi secara optimal.
Melalui penelitian lapangan dan dialog langsung dengan masyarakat, para peneliti berupaya mengumpulkan berbagai data mengenai sejarah tradisi, narasi lisan, simbol-simbol budaya, serta praktik-praktik adat yang masih dijalankan hingga saat ini.
Hasil dokumentasi tersebut diharapkan dapat menjadi dasar bagi pengembangan kajian ilmiah sekaligus mendukung upaya pelestarian budaya berbasis masyarakat.
Selain mendukung kegiatan penelitian, kunjungan ini juga membuka peluang kolaborasi yang lebih luas antara lembaga riset, pemerintah daerah, komunitas adat, akademisi, dan masyarakat.
Sinergi antarberbagai pihak dinilai penting untuk memastikan keberlanjutan tradisi budaya yang masih hidup di tengah masyarakat.
Pelestarian budaya tidak cukup hanya melalui dokumentasi, tetapi juga memerlukan dukungan kebijakan, ruang edukasi, serta partisipasi aktif generasi muda. Dengan adanya kerja sama yang baik, berbagai tradisi yang menjadi identitas masyarakat lokal dapat terus berkembang tanpa kehilangan nilai-nilai dasarnya.
Di tengah derasnya arus globalisasi dan perkembangan teknologi informasi, keberadaan tradisi seperti Ruwat Pandawa menjadi pengingat bahwa kebudayaan merupakan fondasi penting dalam kehidupan masyarakat.
Tradisi tidak hanya menyimpan memori kolektif tentang masa lalu, tetapi juga menjadi sumber inspirasi dalam membangun masa depan yang berakar pada identitas dan kearifan lokal.
Melalui kunjungan budaya ini, Manassa dan BRIN menegaskan komitmennya untuk terus mendukung upaya pelestarian tradisi lisan, manuskrip, dan berbagai warisan budaya Nusantara.
Harapannya, kekayaan budaya yang dimiliki masyarakat Songgon dan Banyuwangi dapat semakin dikenal, didokumentasikan secara ilmiah, serta memperoleh perlindungan dan pengakuan yang lebih luas sebagai bagian dari khazanah budaya Indonesia.
Ruwat Pandawa yang masih lestari hingga hari ini menjadi bukti bahwa warisan leluhur tidak hanya bertahan sebagai cerita masa lalu, tetapi tetap hidup dalam praktik sosial masyarakat.
Di tengah perubahan zaman, tradisi tersebut menunjukkan bahwa nilai-nilai budaya lokal masih memiliki relevansi dan peran penting dalam menjaga harmoni kehidupan, memperkuat identitas masyarakat, serta memperkaya keberagaman budaya bangsa Indonesia. (Red)














Komentar