Kue “Kontol Kejepit”: Dari Nama Nyeleneh Jadi Warisan Budaya, Cerita Manis dari Tanah Bantul

- Penulis

Sabtu, 11 Oktober 2025 - 09:35 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Sepiring kue kontol kejepit. (Foto: Danangtrihartanto/Wikimedia Commons/CC BY-SA 4.0)

Sepiring kue kontol kejepit. (Foto: Danangtrihartanto/Wikimedia Commons/CC BY-SA 4.0)

SUARAMUDA.NET, SEMARANG — Di antara segudang jajanan pasar Jawa, ada satu kue yang namanya bikin orang otomatis nengok dua kali: kue kontol kejepit.

Tenang dulu, ini bukan lelucon—kue asal Bantul, DIY, ini justru sudah resmi tercatat sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTb) Indonesia, lho!

Lebih dikenal dengan nama tolpit atau adrem, kue ini bukan cuma sekadar camilan manis yang renyah di luar dan lembut di dalam, tapi juga punya makna budaya dan filosofi yang dalam banget

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Dari Panen Padi ke Doa untuk “Kehidupan yang Adhem”

Menurut situs resmi Pemprov DIY, adrem dulunya jadi bagian dari tradisi panen masyarakat pedesaan.

Kue ini sering dijajakan dengan sistem barter—ditukar dengan hasil panen padi sebagai bentuk syukur kepada Dewi Sri, sang dewi kesuburan dalam mitologi Jawa.

Nggak heran kalau kue ini juga dianggap simbol pengampunan, perlindungan, dan ketenteraman hidup. Dalam bahasa Jawa, hidup yang “adhem” artinya tenteram dan damai.

Baca Juga :  Tradisi Gugur Gunung: Simbol Kerukunan Antarwarga Kampung Moderasi Sukun Gempol Kota Malang

Sampai sekarang, tolpit masih sering muncul di acara adat atau selamatan sebagai bentuk doa agar hidup selalu adem ayem.

Teknik “Dijepit” yang Jadi Ciri Khas

Kalau kamu pikir ini cuma soal nama, salah besar. Daya tarik utama adrem justru ada di cara pembuatannya.

Campuran tepung beras dan gula jawa digoreng dengan teknik khusus pakai tiga bilah bambu atau sumpit, membuat adonannya “terjepit” dan membentuk siluet unik yang khas.

Hasilnya? Tekstur crunchy di luar, empuk di dalam, dengan aroma gula jawa yang menggoda.

Salah satu pembuat tolpit, Kisminah, bilang kalau teknik itu wajib dipertahankan.

“Kalau nggak dijepit, bentuknya kayak apem biasa. Tapi kalau dijepit, jadi khas banget,” ujarnya.

Beberapa perajin lain seperti Mardinem juga masih mempertahankan cara tradisional ini supaya rasa dan makna adrem tetap otentik.

Kenapa Namanya “Kontol Kejepit”?

Nah, ini bagian yang paling sering bikin orang ngakak duluan. Nama “kontol kejepit” muncul karena bentuk kue ini—kalau dilihat sepintas—katanya mirip alat vital pria (ya, begitulah imajinasi warga).

Baca Juga :  Lestarikan Tradisi Lisan, Ketua Manassa dan Peneliti BRIN Tinjau Ruwat Pandawa di Songgon Banyuwangi

Tapi jangan buru-buru suudzon, karena menurut beberapa pembuatnya, nama itu bukan soal bentuk, melainkan cara membuatnya yang dijepit pakai sumpit.

“Mungkin karena dijepit tiga sumpit itu, terus diangkat, makanya disebut gitu,” kata Mardinem santai.

Jadi, bukan niat nyeleneh ya, tapi justru bagian dari tradisi unik masyarakat Bantul yang punya humor tersendiri dalam menamai makanan.

Dari Pasar Tradisional ke Panggung Nasional

Dulu, tolpit cuma bisa kamu temui di pasar-pasar kecil di Bantul. Tapi sekarang, pamornya melejit setelah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia.

Artinya, kue yang dulu cuma jadi teman ngopi warga desa, kini diakui secara nasional sebagai bagian dari kekayaan kuliner dan filosofi Jawa yang patut dilestarikan.

Dengan cita rasa manis legit, aroma gula jawa yang khas, dan cerita panjang di baliknya, tolpit bukan cuma jajanan, tapi warisan rasa dan makna dari tanah Bantul yang tak lekang oleh waktu. (Red)

Follow WhatsApp Channel suaramuda.net untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Saat Tari Piring Bertemu Tarian Mandarin, IFSRC Bawa Diplomasi Indonesia–Tiongkok ke Panggung Budaya
Staycation Seru di Montera Glamping Lembang
Chiko Silitonga Tuangkan Kisah Personal Lewat Single “Sementara atau Selamanya”
MTQ Nasional XXXI di Jateng Tuai Apresiasi, Malam Ta’aruf Bikin Semarang Makin Semarak
TEP UI Dorong Hilirisasi Pala Berbasis Riset Melalui Uji Laboratorium
FKUB Goes to School Sambangi SMA 12 Semarang: Saatnya Pelajar Jadi Penggerak Kerukunan!
Pameran Budaya Indonesia Tampilkan 400 Karya Seni dan Foto Nusantara di Rusia
Menyulam Kebhinekaan dalam Irama Borneo
Berita ini 51 kali dibaca

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊


Berita Terkait

Jumat, 18 September 2026 - 09:01 WIB

Saat Tari Piring Bertemu Tarian Mandarin, IFSRC Bawa Diplomasi Indonesia–Tiongkok ke Panggung Budaya

Rabu, 16 September 2026 - 18:44 WIB

Staycation Seru di Montera Glamping Lembang

Sabtu, 12 September 2026 - 15:04 WIB

Chiko Silitonga Tuangkan Kisah Personal Lewat Single “Sementara atau Selamanya”

Sabtu, 12 September 2026 - 11:54 WIB

MTQ Nasional XXXI di Jateng Tuai Apresiasi, Malam Ta’aruf Bikin Semarang Makin Semarak

Jumat, 11 September 2026 - 13:22 WIB

TEP UI Dorong Hilirisasi Pala Berbasis Riset Melalui Uji Laboratorium

Berita Terbaru

Bendera Partai Gerindra, PDIP dan Partai Golkar. (Ilustrasi: Pinterest)

KABAR NUSANTARA

Survei Poltracking: Gerindra 23,2 Persen, PDIP dan Golkar Mengekor

Rabu, 23 Sep 2026 - 19:25 WIB

Sumber foto: sindonews.com

KILAS GLOBAL

BRICS Masih Jadi Magnet Negara Berkembang, 45 Negara Pengen Gabung!

Senin, 21 Sep 2026 - 22:09 WIB