Kampung Wisata Jangan Jadi Proyek Pariwisata Elitis, Warga Jogja Harus Menjadi Pemilik Utama

"Pengembangan kampung wisata di Yogyakarta dinilai harus menempatkan warga sebagai pengelola dan penerima manfaat utama agar pariwisata tidak berubah menjadi proyek elitis yang menggeser ruang hidup masyarakat lokal"

- Penulis

Selasa, 9 Juni 2026 - 10:07 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Umar Ma'ruf, Mantan Presiden Mahasiswa UIN Suka/ (dok istimewa)

Umar Ma'ruf, Mantan Presiden Mahasiswa UIN Suka/ (dok istimewa)

SUARAMUDA.NET, YOGYAKARTA — Ambisi Pemerintah Kota (Pemkot) Yogyakarta menggenjot pengembangan kampung wisata sebagai motor pertumbuhan sektor pariwisata patut diapresiasi.

Namun di balik optimisme tersebut, terdapat pertanyaan mendasar yang tidak boleh diabaikan: untuk siapa sebenarnya kampung wisata ini dibangun?

Pemkot Yogyakarta melalui Wakil Wali Kota Wawan Harmawan menyatakan komitmennya mengembangkan kampung wisata berbasis kekhasan budaya dan kehidupan otentik masyarakat.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Langkah ini dinilai sejalan dengan tren wisata modern yang tidak lagi sekadar menjual destinasi, tetapi juga pengalaman, interaksi sosial, dan nilai-nilai budaya lokal.

Koordinator Kajian Gerakan Pemuda Melawan Korupsi (GPMK), Umar Ma’ruf, menilai arah kebijakan tersebut sudah tepat.

Namun, menurutnya, keberhasilan program tidak hanya diukur dari meningkatnya jumlah kunjungan wisatawan, melainkan dari sejauh mana masyarakat memperoleh ruang dan manfaat nyata dalam keseluruhan prosesnya.

“Jangan sampai masyarakat hanya menjadi objek yang dipamerkan untuk kebutuhan industri wisata. Jika yang dijual adalah kehidupan sosial, budaya, dan aktivitas keseharian warga, maka warga harus menjadi subjek utama yang menentukan arah pengembangannya,” tegas Umar.

Baca Juga :  Kejutan Pelatih Patrick, 3 Pemain Naturalisasi ala STY Bakal Dicoret

Menurutnya, salah satu ancaman yang sering muncul dalam pengembangan pariwisata adalah terjadinya komersialisasi ruang hidup masyarakat.

Kampung yang awalnya menjadi ruang sosial warga berpotensi berubah menjadi etalase wisata yang dikendalikan oleh kepentingan investor, pelaku usaha besar, atau pihak luar yang memiliki modal lebih kuat.

Karena itu, Umar mendorong Pemkot Yogyakarta menjadikan konsep Community-Based Tourism (CBT) atau Pariwisata Berbasis Komunitas sebagai fondasi utama pengembangan kampung wisata.

Dalam pendekatan ini, masyarakat tidak hanya dilibatkan pada tahap sosialisasi, tetapi memiliki posisi sebagai perencana, pengelola, sekaligus penerima manfaat utama.

“Pariwisata harus menjadi instrumen pemberdayaan masyarakat, bukan instrumen pengambilalihan ruang hidup masyarakat. Jangan sampai keuntungan ekonomi terpusat pada segelintir pihak, sementara warga lokal hanya mendapatkan dampak keramaian tanpa kesejahteraan,” ujarnya.

Baca Juga :  WhatsApp Kena Saingan? Jack Dorsey Rilis Bitchat, Chat Tanpa Internet!

Umar juga mengingatkan bahwa narasi kolaborasi yang kerap digaungkan pemerintah harus diterjemahkan secara konkret dalam bentuk partisipasi publik yang bermakna.

Keterlibatan masyarakat tidak boleh berhenti pada forum konsultasi formal, melainkan harus diwujudkan dalam kewenangan nyata untuk mengambil keputusan.

Menurutnya, tantangan terbesar pembangunan pariwisata Yogyakarta saat ini bukan sekadar meningkatkan jumlah wisatawan, tetapi memastikan bahwa pertumbuhan tersebut berjalan beriringan dengan keadilan ekonomi dan pelestarian identitas budaya lokal.

“Jogja tidak boleh menjadi kota yang ramai dikunjungi wisatawan tetapi warganya tersisih dari ruang ekonomi yang tumbuh di sekitarnya. Masyarakat harus menjadi aktor utama, pengambil keputusan, sekaligus penerima manfaat terbesar dari perkembangan pariwisata. Jangan sampai warga hanya menjadi penonton di kampungnya sendiri,” pungkas Umar. (Red)

Editor : DT Atmaja

Follow WhatsApp Channel suaramuda.net untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Survei Poltracking: Gerindra 23,2 Persen, PDIP dan Golkar Mengekor
Pergantian Posisi di JP Group dan Perhatian terhadap Energi Terbarukan
Parpol Nonparlemen Tolak PT 5 Persen, Merasa Dijegal hingga Tuduh Koalisi Arogan
Pajak Seller Marketplace Segera Dipungut, Seller Online Perlu Siap-siap
Saat Tari Piring Bertemu Tarian Mandarin, IFSRC Bawa Diplomasi Indonesia–Tiongkok ke Panggung Budaya
DPR Pertanyakan Rencana 200 Juta Rekening: Yang Belum Punya Rekening Cuma 15,3 Juta
Staycation Seru di Montera Glamping Lembang
Bukan Cuma Urusan Pemerintah, IFSRC Buka Jalur Baru Diplomasi Indonesia–Tiongkok
Berita ini 66 kali dibaca

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊


Berita Terkait

Rabu, 23 September 2026 - 19:25 WIB

Survei Poltracking: Gerindra 23,2 Persen, PDIP dan Golkar Mengekor

Minggu, 20 September 2026 - 22:54 WIB

Pergantian Posisi di JP Group dan Perhatian terhadap Energi Terbarukan

Minggu, 20 September 2026 - 09:39 WIB

Parpol Nonparlemen Tolak PT 5 Persen, Merasa Dijegal hingga Tuduh Koalisi Arogan

Jumat, 18 September 2026 - 16:42 WIB

Pajak Seller Marketplace Segera Dipungut, Seller Online Perlu Siap-siap

Jumat, 18 September 2026 - 09:01 WIB

Saat Tari Piring Bertemu Tarian Mandarin, IFSRC Bawa Diplomasi Indonesia–Tiongkok ke Panggung Budaya

Berita Terbaru

Bendera Partai Gerindra, PDIP dan Partai Golkar. (Ilustrasi: Pinterest)

KABAR NUSANTARA

Survei Poltracking: Gerindra 23,2 Persen, PDIP dan Golkar Mengekor

Rabu, 23 Sep 2026 - 19:25 WIB

Sumber foto: sindonews.com

KILAS GLOBAL

BRICS Masih Jadi Magnet Negara Berkembang, 45 Negara Pengen Gabung!

Senin, 21 Sep 2026 - 22:09 WIB