Begini Dampak Pengguna Telegram Usai Bos Telegram Pavel Durov Ditangkap, Serem!

SUARAMUDA — CEO Telegram Pavel Durov dikabarkan ditangkap. Dan akhirnya, platform perpesanan Telegram menyerah dan berencana membagikan data pribadi, seperti alamat IP dan nomor telepon pengguna, kepada otoritas terkait.

Padahal, Telegram selama ini dikenal sebagai platform yang menjunjung tinggi kerahasiaan 950 juta penggunanya berkat teknologi enkripsi dan privasi penggunanya.

Tapi sisi buruknya, diduga banyak penjahat seperti pengedar narkoba, ekstremis, termasuk supremasi kulit putih dan kelompok teror seperti ISIS menggunakan Telegram sebagai sarana komunikasi mereka.

Durov kemudian mengambil langkah drastis dengan mengubah persyaratan layanannya untuk mencegah penjahat menyalahgunakan platform tersebut. Hal tersebut disampaikan Durov dalam sebuah postingan di Telegram pada Senin (23/6/2024), seperti diberitakan CNN Indonesia.

Platform ini mengatakan akan mengungkap semua data pengguna yang dibagikan kepada aparat penegak hukum dalam laporan transparansi triwulanan. Durov juga mengatakan jika pihaknya telah mengidentifikasi dan menghapus konten-konten bermasalah dari fitur

“Pencarian di Telegram lebih kuat dibandingkan aplikasi perpesanan lainnya karena memungkinkan pengguna untuk menemukan saluran publik dan bot. Sayangnya, fitur ini telah disalahgunakan oleh orang-orang yang melanggar Ketentuan Layanan kami untuk menjual barang ilegal,” tulis Durov, mengutip CNN, Kamis (26/9/2024) lalu.

“Jika Anda masih menemukan sesuatu yang tidak aman atau ilegal di Telegram Search, silakan laporkan kepada kami melalui @SearchReport,” lanjut dia.

Menurut Durov fitur pencarian di Telegram bertujuan untuk mencari teman dan menemukan berita, bukan untuk mempromosikan barang ilegal.

Meskipun perubahan ini kemungkinan akan mengurangi aktivitas kriminal di area publik platform, hal ini tidak serta merta menghentikan penggunaan ilegal dari obrolan pribadi yang terenkripsi secara end-to-end. Pasalnya, Telegram mengaku “tidak memiliki cara untuk menguraikan informasi yang sebenarnya” dari percakapan.

Telegram mengatakan bahwa mereka sebelumnya telah menindak beberapa konten yang melanggar peraturannya, termasuk membatasi akses ke beberapa saluran yang terkait atau dioperasikan oleh Hamas di tengah-tengah perang kelompok militan tersebut dengan Israel.

Telegram juga menghapus seruan untuk melakukan kekerasan setelah adanya laporan bahwa aplikasi ini digunakan untuk mengorganisir kerusuhan anti-imigran sayap kanan di Inggris.

Durov sebelumnya ditangkap dan diinterogasi oleh jaksa penuntut Prancis atas dugaan aktivitas kriminal di platform tersebut, termasuk transaksi geng dan perdagangan orang, serta dugaan kegagalan perusahaan untuk menyerahkan data yang terkait dengan penyelidikan. Namun, dia akhirnya dibebaskan dari tahanan polisi dengan jaminan sebesar 5 juta euro atau sekitar Rp85,7 miliar. (Red)

 

Redaksi Suara Muda, Saatnya Semangat Kita, Spirit Indonesia

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You might also like