Begini Dampak Pengguna Telegram Usai Bos Telegram Pavel Durov Ditangkap, Serem!

- Penulis

Sabtu, 28 September 2024 - 01:07 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

SUARAMUDA — CEO Telegram Pavel Durov dikabarkan ditangkap. Dan akhirnya, platform perpesanan Telegram menyerah dan berencana membagikan data pribadi, seperti alamat IP dan nomor telepon pengguna, kepada otoritas terkait.

Padahal, Telegram selama ini dikenal sebagai platform yang menjunjung tinggi kerahasiaan 950 juta penggunanya berkat teknologi enkripsi dan privasi penggunanya.

Tapi sisi buruknya, diduga banyak penjahat seperti pengedar narkoba, ekstremis, termasuk supremasi kulit putih dan kelompok teror seperti ISIS menggunakan Telegram sebagai sarana komunikasi mereka.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Durov kemudian mengambil langkah drastis dengan mengubah persyaratan layanannya untuk mencegah penjahat menyalahgunakan platform tersebut. Hal tersebut disampaikan Durov dalam sebuah postingan di Telegram pada Senin (23/6/2024), seperti diberitakan CNN Indonesia.

Platform ini mengatakan akan mengungkap semua data pengguna yang dibagikan kepada aparat penegak hukum dalam laporan transparansi triwulanan. Durov juga mengatakan jika pihaknya telah mengidentifikasi dan menghapus konten-konten bermasalah dari fitur

Baca Juga :  "Mas Mbak Jateng" Kembali Digelar, Anantya Haryo dan Chairunisa Ardelia Jadi Pemenangnya

“Pencarian di Telegram lebih kuat dibandingkan aplikasi perpesanan lainnya karena memungkinkan pengguna untuk menemukan saluran publik dan bot. Sayangnya, fitur ini telah disalahgunakan oleh orang-orang yang melanggar Ketentuan Layanan kami untuk menjual barang ilegal,” tulis Durov, mengutip CNN, Kamis (26/9/2024) lalu.

“Jika Anda masih menemukan sesuatu yang tidak aman atau ilegal di Telegram Search, silakan laporkan kepada kami melalui @SearchReport,” lanjut dia.

Menurut Durov fitur pencarian di Telegram bertujuan untuk mencari teman dan menemukan berita, bukan untuk mempromosikan barang ilegal.

Meskipun perubahan ini kemungkinan akan mengurangi aktivitas kriminal di area publik platform, hal ini tidak serta merta menghentikan penggunaan ilegal dari obrolan pribadi yang terenkripsi secara end-to-end. Pasalnya, Telegram mengaku “tidak memiliki cara untuk menguraikan informasi yang sebenarnya” dari percakapan.

Baca Juga :  156 Ribu Anak Aceh Terancam Stunting, APBA 2026 Tanpa Anggaran?

Telegram mengatakan bahwa mereka sebelumnya telah menindak beberapa konten yang melanggar peraturannya, termasuk membatasi akses ke beberapa saluran yang terkait atau dioperasikan oleh Hamas di tengah-tengah perang kelompok militan tersebut dengan Israel.

Telegram juga menghapus seruan untuk melakukan kekerasan setelah adanya laporan bahwa aplikasi ini digunakan untuk mengorganisir kerusuhan anti-imigran sayap kanan di Inggris.

Durov sebelumnya ditangkap dan diinterogasi oleh jaksa penuntut Prancis atas dugaan aktivitas kriminal di platform tersebut, termasuk transaksi geng dan perdagangan orang, serta dugaan kegagalan perusahaan untuk menyerahkan data yang terkait dengan penyelidikan. Namun, dia akhirnya dibebaskan dari tahanan polisi dengan jaminan sebesar 5 juta euro atau sekitar Rp85,7 miliar. (Red)

 

Follow WhatsApp Channel suaramuda.net untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Survei Poltracking: Gerindra 23,2 Persen, PDIP dan Golkar Mengekor
Pergantian Posisi di JP Group dan Perhatian terhadap Energi Terbarukan
Parpol Nonparlemen Tolak PT 5 Persen, Merasa Dijegal hingga Tuduh Koalisi Arogan
Pajak Seller Marketplace Segera Dipungut, Seller Online Perlu Siap-siap
Saat Tari Piring Bertemu Tarian Mandarin, IFSRC Bawa Diplomasi Indonesia–Tiongkok ke Panggung Budaya
DPR Pertanyakan Rencana 200 Juta Rekening: Yang Belum Punya Rekening Cuma 15,3 Juta
Bukan Cuma Urusan Pemerintah, IFSRC Buka Jalur Baru Diplomasi Indonesia–Tiongkok
GCI dan Masa Depan Hubungan Indonesia–Tiongkok Dibahas di Jakarta
Berita ini 8 kali dibaca

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊


Berita Terkait

Rabu, 23 September 2026 - 19:25 WIB

Survei Poltracking: Gerindra 23,2 Persen, PDIP dan Golkar Mengekor

Minggu, 20 September 2026 - 22:54 WIB

Pergantian Posisi di JP Group dan Perhatian terhadap Energi Terbarukan

Minggu, 20 September 2026 - 09:39 WIB

Parpol Nonparlemen Tolak PT 5 Persen, Merasa Dijegal hingga Tuduh Koalisi Arogan

Jumat, 18 September 2026 - 16:42 WIB

Pajak Seller Marketplace Segera Dipungut, Seller Online Perlu Siap-siap

Jumat, 18 September 2026 - 09:01 WIB

Saat Tari Piring Bertemu Tarian Mandarin, IFSRC Bawa Diplomasi Indonesia–Tiongkok ke Panggung Budaya

Berita Terbaru

Bendera Partai Gerindra, PDIP dan Partai Golkar. (Ilustrasi: Pinterest)

KABAR NUSANTARA

Survei Poltracking: Gerindra 23,2 Persen, PDIP dan Golkar Mengekor

Rabu, 23 Sep 2026 - 19:25 WIB

Sumber foto: sindonews.com

KILAS GLOBAL

BRICS Masih Jadi Magnet Negara Berkembang, 45 Negara Pengen Gabung!

Senin, 21 Sep 2026 - 22:09 WIB