SUARAMUDA.NET, SEMARANG — Nama Yakuza selama ini identik dengan sindikat mafia paling ditakuti di Jepang. Namun siapa sangka, nama itu kini muncul di Kediri, Jawa Timur—bukan untuk kejahatan, melainkan untuk gerakan dakwah dan pemberdayaan kaum marjinal.
Deklarasi organisasi bernama Yakuza Maneges langsung menyita perhatian publik. Banyak yang terkejut, bahkan bertanya-tanya: mengapa memakai nama yang identik dengan mafia?
Di balik nama kontroversial itu, tersimpan misi besar. Dipimpin tokoh muda Gus Thuba, Yakuza Maneges hadir sebagai ruang bagi mereka yang kerap dicap “nakal”, “preman”, hingga “orang buangan”—kelompok yang justru disebut sebagai “santri jalur kiri”.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Terinspirasi dari metode dakwah ulama kharismatik Gus Miek, Gus Thuba ingin membalik stigma: mereka yang terpinggirkan bukan untuk dijauhi, tetapi dirangkul dan diberdayakan.
“Yakuza Maneges adalah rumah bagi saudara-saudara kita yang selama ini mungkin tidak mendapat tempat,” tegas Gus Thuba.
Peresmian komunitas ini bahkan mendapat perhatian khusus dari Vinanda Prameswati, yang hadir langsung dalam deklarasi organisasi tersebut.
Lantas, apakah Yakuza Maneges akan menjadi wajah baru dakwah inklusif di Indonesia—atau justru memicu kontroversi baru? Publik kini menanti langkah mereka berikutnya. (Red)













Komentar