Kala MBG Digoyang Demo, Kantor BGN Disegel: yang Kenyang Anak atau Masalahnya?

"Dari dapur ke jalanan, panci dan ompreng berubah jadi alat protes saat publik mempertanyakan apakah Program MBG benar-benar menyelesaikan masalah atau justru menambah daftar persoalan baru"

- Penulis

Rabu, 10 Juni 2026 - 21:57 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Sejumlah massa yang menamakan diri MBG Watch menggelar demonstrasi di depan kantor Badan Gizi Nasional (BGN), Rabu (10/6/2026)/ gambar: detikcom

Sejumlah massa yang menamakan diri MBG Watch menggelar demonstrasi di depan kantor Badan Gizi Nasional (BGN), Rabu (10/6/2026)/ gambar: detikcom

SUARAMUDA.NET, JAKARTA — Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang digadang-gadang sebagai salah satu program andalan pemerintah kembali jadi sasaran kritik.

Kali ini, Kantor Badan Gizi Nasional (BGN) di kawasan Tugu Tani, Jakarta Pusat, digeruduk massa dari berbagai elemen masyarakat dalam aksi unjuk rasa, Rabu (10/6/2026).

Bukan demo biasa. Selain membawa spanduk dan pengeras suara, para demonstran datang dengan perlengkapan yang lebih cocok ditemukan di dapur ketimbang di jalanan.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Panci, ompreng MBG, hingga peralatan masak lainnya dibunyikan bersamaan, menciptakan konser dadakan yang suaranya nyaris mengalahkan klakson kendaraan di sekitar lokasi.

Massa menilai program MBG masih menyisakan sederet pekerjaan rumah. Mulai dari kasus dugaan keracunan massal yang sempat mencuat di sejumlah daerah, persoalan tata kelola, hingga dugaan penyimpangan anggaran yang belakangan ramai diperbincangkan publik.

Baca Juga :  Kultum Ramadhan: "Sampaikanlah MBG Walau Satu Butir Telur"

Kantor Disegel, Simbol “Makanan Belum Matang”

Puncak aksi terjadi ketika massa melakukan teatrikal penyegelan kantor BGN menggunakan pita kuning-hitam.

Layaknya adegan di serial kriminal, kantor tersebut diberi garis pembatas sebagai simbol bahwa program yang dijalankan dinilai belum beres dan perlu dievaluasi total.

Menurut peserta aksi, penyegelan itu bukan berarti menghentikan makan gratis, melainkan mengingatkan bahwa sebuah program besar tidak cukup hanya mengenyangkan perut, tetapi juga harus mampu menjawab persoalan transparansi, keamanan pangan, dan efektivitas penggunaan anggaran.

Aksi tersebut langsung menarik perhatian pengguna jalan yang sedang terjebak antrean lampu merah.

Beberapa pengendara terlihat ikut menyuarakan dukungan dengan membunyikan klakson berulang kali, seolah jalan raya berubah menjadi ruang komentar offline.

Baca Juga :  Ssstttt! Pak SBY Minta TNI Aktif Mundur, Jika Masuk Pemerintahan atau Politik

“MBG nggak guna, hentikan programnya! MBG nggak guna, lebih penting pendidikan!” teriak seorang pengendara motor sambil mengangkat tangan dan menekan klakson panjang.

Dari Makan Gratis ke Debat Gratis

Program MBG sejak awal memang menjanjikan banyak hal, mulai dari peningkatan gizi anak hingga penguatan ekonomi lokal.

Namun di lapangan, program ini juga menuai kritik yang tak kalah besar. Jika makanan bergizi seharusnya menambah energi, perdebatan soal MBG justru terus menambah kalori politik di ruang publik.

Di tengah pro dan kontra yang semakin panas, satu hal yang pasti: MBG kini bukan lagi sekadar program makan siang. Ia telah berubah menjadi menu utama dalam perdebatan nasional yang porsinya tampaknya masih akan terus bertambah. (Red)

Penulis : Didik TA

Sumber Berita: Merdeka.com

Follow WhatsApp Channel suaramuda.net untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Panjat Tebing Indonesia Naik Kelas! Putra Tri Ramadani Raih Emas Dunia Pertama
Prabowo Bilang RI Salah Arah Sejak 1990-an, Masak sih? Netizen Langsung Cek Google Maps Nasional!
Nama Raffi Ahmad Muncul di Sidang Suap Bea Cukai, Gara-Gara iPhone 17 yang Tak Jadi ‘Pulang Kampung’
Kampung Wisata Jangan Jadi Proyek Pariwisata Elitis, Warga Jogja Harus Menjadi Pemilik Utama
Sangat Prihatin! 39 Daerah Tak Mampu Gaji PPPK
Korupsi MBG, Apakah Dadan Benar-benar Ditahan?
Kasus Ledakan Bom di Biak: Warisan Berbahaya Perang Dunia II dan Dampaknya terhadap Lingkungan Hidup
Lestarikan Tradisi Lisan, Ketua Manassa dan Peneliti BRIN Tinjau Ruwat Pandawa di Songgon Banyuwangi
Berita ini 6 kali dibaca

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊


Berita Terkait

Kamis, 11 Juni 2026 - 09:09 WIB

Panjat Tebing Indonesia Naik Kelas! Putra Tri Ramadani Raih Emas Dunia Pertama

Rabu, 10 Juni 2026 - 18:06 WIB

Prabowo Bilang RI Salah Arah Sejak 1990-an, Masak sih? Netizen Langsung Cek Google Maps Nasional!

Rabu, 10 Juni 2026 - 17:46 WIB

Nama Raffi Ahmad Muncul di Sidang Suap Bea Cukai, Gara-Gara iPhone 17 yang Tak Jadi ‘Pulang Kampung’

Selasa, 9 Juni 2026 - 10:07 WIB

Kampung Wisata Jangan Jadi Proyek Pariwisata Elitis, Warga Jogja Harus Menjadi Pemilik Utama

Selasa, 9 Juni 2026 - 09:50 WIB

Sangat Prihatin! 39 Daerah Tak Mampu Gaji PPPK

Berita Terbaru