Oleh: Ali Achmadi, Pemerhati Masalah Sosial, Tinggal di Pati
SUARAMUDA.NET, SEMARANG — Bapak-Ibu jamaah yang dirahmati Allah SWT .… Di bulan Ramadhan ini, kita sering mendengar hadits yang sangat populer: “Sampaikanlah dariku walau satu ayat.”
Tapi di kampung saya, hadits itu mengalami sedikit… ehm… penyesuaian kebijakan. Narasinya jadi: “Sampaikanlah MBG walau satu butir telur.” Jamaah tertawa kecil. Pengurus masjid tegang.
Konon, program Makan Bergizi Gratis itu luar biasa. Katanya bisa menaikkan IQ 15 poin. Anak-anak jadi lebih cerdas. Lebih tinggi. Lebih kuat. Bahkan katanya tiap hari dipotong 1.900 ekor sapi.
Saya sampai khawatir… jangan-jangan nanti ada yang yang membuat pernyataan, MBG bisa mempercepat datangnya jodoh.
MasyaAllah. Tapi waktu saya tanya anak kecil yang ikut program itu:
“Dik, tadi makan apa?”
Dia jawab polos,
“Telur, Pak.”
“Utuh?”
“Separuh.” Jamaah mulai berdehem.
Dalam Al-Qur’an ada peringatan keras: “Kabura maqtan ‘indallahi an taqulu ma la taf’alun.” Sungguh besar kebencian Allah, ketika kamu mengatakan apa yang tidak kamu kerjakan. Ayat ini bukan hanya untuk individu. Bisa juga untuk kebijakan.
Nah, ini bukan soal telurnya. Bukan soal lele ataupun daging sapinya. Ini soal antara janji dan porsi. Kadang pidatonya besar. Spanduknya megah. Videonya sinematik. Tapi porsinya amit-amit.
Ramadhan ini mengajarkan kita tentang kejujuran. Puasa itu latihan integritas. Tidak ada CCTV. Tidak ada absensi. Yang tahu kita batal atau tidak, cuma Allah.
Bayangkan kalau program publik juga memakai standar puasa. Tidak ada yang berani melebih-lebihkan. Tidak ada yang berani mengurangi diam-diam. Karena takut… bukan pada komentar netizen di medsos. Tapi pada hisab.
“Jamaah yang dirahmati Allah… Kalau memang satu telur, katakan satu telur. Kalau setengah, katakan setengah. Jangan bilang satu ekor lele utuh kalau yang datang cuma aromanya. Jangan bilang daging sapi kalau yang nyampe gulai nangka muda. Karena rakyat tidak butuh dongeng.”
Ramadhan mengajarkan kita satu hal sederhana: Keberkahan bukan pada besarnya klaim, tapi pada jujurnya niat dan nyatanya perbuatan. Jadi malam ini, mari kita perbaiki diri.
Kalau tidak bisa memberi banyak, beri sedikit. Kalau tidak bisa membuat kebijakan besar, buatlah yang jujur.
Karena pada akhirnya nanti, yang ditimbang bukan konferensi persnya… Tapi isinya.
Wallahu a’lam. (Red)