Waisak 2026 Tak Sekadar Ritual, GEMABUDHI Sulsel Tanam 45 Pohon untuk Jaga Bumi

SUARAMUDA.NET, GOA, SULSEL — Dalam rangka memperingati Hari Tri Suci Waisak 2570 B.E. / 2026, Dewan Pengurus Daerah Gerakan Pemuda Buddhis Indonesia (DPD GEMABUDHI) Sulawesi Selatan menginisiasi aksi nyata kepedulian lingkungan bertajuk “Gerakan Penghijauan Terpadu Waisak 2026”.

Aksi kolaboratif ini diwujudkan melalui penanaman 45 bibit pohon produktif dan pelindung yang dipusatkan di kawasan Vihara Sasanadipa Mawang (Yayasan Ratanajoti), Mawang, Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan, pada Sabtu.

Kegiatan ini diselenggarakan secara sinergis bersama Pembimbing Masyarakat (Bimas) Buddha Kanwil Kementerian Agama Provinsi Sulawesi Selatan, Persatuan Guru Agama Buddha Indonesia (PERGABI) Sulawesi Selatan, Yayasan Ratanajoti Mawang, serta Persatuan Umat Buddha Indonesia (PERMABUDHI) Sulawesi Selatan.

Mengusung tema “Implementasi Strategis Penanaman Pohon dalam Mendukung Ketahanan Ekosistem dan Mitigasi Dampak Perubahan Iklim di Wilayah Sulawesi Selatan”, gerakan ini menjadi bukti konkret bahwa spiritualitas agama harus termanifestasi dalam tindakan menjaga kelestarian bumi.

Suasana khidmat dan penuh gotong royong tampak sejak pagi hari. Para pemuda, tokoh agama, guru, hingga pengurus yayasan bahu-membahu menggali tanah, menancapkan ajir bambu, dan menanam bibit-bibit pohon di area sekitar vihara.

Kehadiran berbagai elemen ini menegaskan komitmen kolektif umat Buddha di Sulawesi Selatan dalam mendukung program-program lingkungan yang berkelanjutan.

Ketua GEMABUDHI Sulawesi Selatan, Enrique Justine Sun, S.Kom., menekankan pentingnya transisi dari sekadar perayaan ritual menuju aksi sosial yang berdampak jangka panjang bagi alam.

Dia menyatakan bahwa Waisak bukan sekadar merayakan penerangan sempurna Buddha di masa lalu, melainkan menyalakan lentera kepedulian di masa kini. Menanam satu pohon hari ini adalah bentuk komitmen nyata pemuda Buddhis dalam menjaga napas kehidupan bumi.

Manusia tidak mewarisi alam ini dari leluhur, melainkan meminjamnya dari generasi masa depan. Lewat 45 bibit pohon ini, GEMABUDHI Sulsel ingin menanam harapan agar harmoni antara manusia dan alam tetap terjaga utuh.

Sejalan dengan hal tersebut, Pembimbing Masyarakat (Bimas) Buddha Sulawesi Selatan, Sumarjo, S.Ag., M.M., memberikan ulasan mendalam mengenai keterkaitan erat antara ajaran Buddha (Dhamma) dengan pelestarian lingkungan hidup melalui pendekatan Eco-Teologi.

Sumarjo menjelaskan bahwa dalam perspektif Eco-Teologi Buddha, alam dan manusia adalah satu kesatuan yang saling bergantungan (Paticcasamuppada), sehingga merawat bumi sama dengan merawat diri sendiri.

Ia juga mengapresiasi peran aktif pemuda dan menyampaikan bahwa aksi di Mawang ini merupakan program penanaman pohon ke-5 yang dilaksanakan oleh Bimas Buddha Sulawesi Selatan sebagai bagian dari komitmen gerakan penghijauan yang berkelanjutan.

Sebagai tuan rumah, Mantang Kurnia selaku perwakilan dari Yayasan Ratanajoti Mawang mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada GEMABUDHI, Bimas Buddha, dan seluruh ormas yang terlibat.

Mantang menegaskan bahwa Vihara Sasanadipa bukan hanya tempat mengolah batin, tetapi juga harus menjadi pusat edukasi lingkungan. Pohon-pohon yang ditanam tersebut akan dirawat dengan baik oleh pihak yayasan agar tumbuh subur dan memberikan dampak ekologis yang positif bagi kawasan Mawang.

Dukungan penuh juga mengalir dari sektor pendidikan keagamaan. Perwakilan PERGABI Sulawesi Selatan, Joko Tri Santoso, S.Pd.B., menyatakan bahwa aksi terpadu ini merupakan implementasi nyata untuk mendukung program Dirjen Bimas Buddha Kementerian Agama RI yang konsisten menggaungkan gerakan merawat alam dan lingkungan hidup.

Menurutnya, sebagai pendidik, mereka berkewajiban mencontohkan secara langsung bahwa mencintai Dhamma juga berarti menjaga ciptaan-Nya. Melalui aksi ini, diharapkan nilai ekologis tertanam kuat di sanubari anak didik agar mereka tumbuh menjadi generasi yang peka terhadap mitigasi perubahan iklim.

Angka 45 bibit pohon yang ditanam secara simbolis dalam kegiatan ini sekaligus melambangkan semangat persatuan, perjuangan, dan sinergi yang kokoh antarlambaga keagamaan Buddhis di Sulawesi Selatan dalam menjaga kelestarian bumi nusantara. (Red)

Redaksi Suara Muda, Saatnya Semangat Kita, Spirit Indonesia

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You might also like