Mengapa Pemerintah Jakarta Getol Sikat Ikan Sapu-sapu?

- Penulis

Rabu, 15 April 2026 - 09:53 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

POV: ikan sapu-sapu. (dok istimewa)

POV: ikan sapu-sapu. (dok istimewa)

SUARAMUDA.NET, SEMARANG — Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta menyatakan bakal memperluas operasi penangkapan ikan sapu-sapu di wilayah sungai.

Pasalnya, keberadaan ikan yang memiliki nama latin Hypostomus plecostomus itu dianggap bisa menggangu ekosistem di wilayah sungai Jakarta.

Pemprov DKI melakukan operasi pembersihan ikan sapu-sapu di Kali Cideng, Menteng, Jakarta Pusat, pada Jumat (10/4/2026). Operasi itu dilakukan lantaran ikan itu telah tercemar salmoella, E. coli, dan residu logam berat.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Lantas, Mengapa Harus Dibasmi?

Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung Wibowo mengatakan, keberadaan ikan sapu-sapu bisa berdampak buruk terhadap ekosistem sungai. Pasalnya, ikan itu memakan sumber makanan ikan lain, sehingga mengganggu keberadaan ikan lokal.

Ikan sapu-sapu (Pterygoplichthys pardalis) merupakan ikan asing introduksi yang dikenal sebagai spesies invasif dengan kemampuan reproduksi sangat tinggi.

Menurut pakar ikan dan konservasi ikan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan IPB University, Dr Charles PH Simanjuntak, dalam satu siklus, seekor betina mampu menghasilkan hingga 19.000 telur dan dapat berkembang biak beberapa kali dalam setahun.

“Satu ekor ikan jantan dapat membuahi dua ekor ikan betina. Ikan jantan akan menjaga telur di dalam liang yang mereka gali sampai menetas sehingga sintasan (persentase kelangsungan hidup) bisa mencapai lebih dari 90 persen,” paparnya.

Baca Juga :  Pinrang Geger! Sopir MBG Narkoba, Makanan Siswa Berbelatung—HMI Minta Korwil SPPG Angkat Kaki

Tak hanya itu, ikan ini mampu bereproduksi pada ukuran yang masih kecil (23,9–28,99 cm untuk jantan dan 13,0–25,98 cm untuk betina), sehingga mempercepat siklus invasi.

Ikan ini juga bersifat omnivora dan memiliki kemampuan adaptasi tinggi terhadap berbagai sumber makanan.

Di habitat asalnya di Sungai Amazon, Amerika Selatan, predator alami ikan sapu-sapu adalah ikan Common Snook (Centropomus undecimalis), ikan Tarpon (Megalops atlanticus), buaya Spectacled Caiman (Caiman crocodilus), dan burung Neotropic Cormorant (Phalacrocorax brasilianus).

“Tidak adanya predator spesifik di ekosistem seperti Sungai Ciliwung menjadi alasan utama mengapa ikan ini sangat sulit dikendalikan,” jelasnya.

Kombinasi Tiga Strategi

Dr. Charles menekankan pentingnya kombinasi tindakan pengendalian: pencegahan, penangkapan secara fisik, dan kontrol biologis.

Dari sisi pencegahan, Dr Charles menyarankan, “Pemprov Jakarta perlu memperkuat regulasi perdagangan ikan hias dan meningkatkan kesadaran masyarakat agar tidak melepas ikan sapu-sapu ke perairan alami, baik sengaja maupun tidak.”

Selain itu, teknologi pemantauan dini seperti environmental DNA (eDNA) dinilai efektif untuk mendeteksi keberadaan ikan sejak awal sebelum populasinya meledak.

Baca Juga :  CEO Suara Merdeka Akan Berdayakan Remaja Masjid Garap Wisata Ramah Muslim

Dalam kondisi populasi yang sudah tinggi, penangkapan tetap diperlukan, tetapi harus lebih selektif dan terarah.

Menurutnya, penangkapan terhadap ikan berukuran kecil (kurang dari 30 cm) dapat lebih efektif dalam menekan populasi.

Pelibatan masyarakat juga menjadi kunci. Perburuan berbasis komunitas dinilai mampu menekan populasi dalam skala lokal, meskipun keberhasilan jangka panjang dapat terbatas oleh imigrasi (masuknya ikan sapu-sapu) dari daerah lain.

“Karena itu, perlu dilakukan secara sistematis di sepanjang aliran sungai. Ikan sapu-sapu yang telah ditangkap juga perlu dimusnahkan untuk mengurangi jumlahnya,” papar dia.

Dari sisi kontrol biologis, pemanfaatan predator alami seperti ikan baung dan betutu dapat membantu mengendalikan populasi, meskipun hanya efektif pada fase juvenil ikan sapu-sapu berukuran 0,6–1,0 cm.

Ia juga mengusulkan upaya pemanfaatan ikan sapu-sapu untuk mengurangi populasi. Namun, tidak dalam konteks untuk dikonsumsi.

“Tidak direkomendasikan jika berasal dari perairan tercemar nerpotensi mengandung logam berat, sehingga tidak direkomendasikan untuk dikonsumsi,” tegasnya.

Dengan pendekatan terpadu dan melibatkan berbagai pihak, pengendalian ikan sapu-sapu diharapkan dapat dilakukan lebih efektif dan berkelanjutan, sekaligus menjaga keseimbangan ekosistem perairan di Jakarta. (Red)

Follow WhatsApp Channel suaramuda.net untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Survei Poltracking: Gerindra 23,2 Persen, PDIP dan Golkar Mengekor
Pergantian Posisi di JP Group dan Perhatian terhadap Energi Terbarukan
Parpol Nonparlemen Tolak PT 5 Persen, Merasa Dijegal hingga Tuduh Koalisi Arogan
Pajak Seller Marketplace Segera Dipungut, Seller Online Perlu Siap-siap
Saat Tari Piring Bertemu Tarian Mandarin, IFSRC Bawa Diplomasi Indonesia–Tiongkok ke Panggung Budaya
DPR Pertanyakan Rencana 200 Juta Rekening: Yang Belum Punya Rekening Cuma 15,3 Juta
Staycation Seru di Montera Glamping Lembang
Bukan Cuma Urusan Pemerintah, IFSRC Buka Jalur Baru Diplomasi Indonesia–Tiongkok
Berita ini 45 kali dibaca

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊


Berita Terkait

Rabu, 23 September 2026 - 19:25 WIB

Survei Poltracking: Gerindra 23,2 Persen, PDIP dan Golkar Mengekor

Minggu, 20 September 2026 - 09:39 WIB

Parpol Nonparlemen Tolak PT 5 Persen, Merasa Dijegal hingga Tuduh Koalisi Arogan

Jumat, 18 September 2026 - 16:42 WIB

Pajak Seller Marketplace Segera Dipungut, Seller Online Perlu Siap-siap

Jumat, 18 September 2026 - 09:01 WIB

Saat Tari Piring Bertemu Tarian Mandarin, IFSRC Bawa Diplomasi Indonesia–Tiongkok ke Panggung Budaya

Kamis, 17 September 2026 - 08:45 WIB

DPR Pertanyakan Rencana 200 Juta Rekening: Yang Belum Punya Rekening Cuma 15,3 Juta

Berita Terbaru

Bendera Partai Gerindra, PDIP dan Partai Golkar. (Ilustrasi: Pinterest)

KABAR NUSANTARA

Survei Poltracking: Gerindra 23,2 Persen, PDIP dan Golkar Mengekor

Rabu, 23 Sep 2026 - 19:25 WIB

Sumber foto: sindonews.com

KILAS GLOBAL

BRICS Masih Jadi Magnet Negara Berkembang, 45 Negara Pengen Gabung!

Senin, 21 Sep 2026 - 22:09 WIB