Oleh: Rahma Anindya Irawan, mahasiswa Magister Psikologi Universitas Airlangga dengan peminatan Psikologi Industri dan Organisasi
SUARAMUDA.NET, SEMARANG — Dulu menyelesaikan pendidikan di perguruan tinggi diyakini sebagai langkah terbaik untuk membuka pintu menuju prospek kerja yang lebih menjanjikan.
Namun, realita saat ini menunjukan bahwa gelar sarjana tidak lagi menjamin seseorang untuk mendapatkan pekerjaan dengan mudah. Keluhan tentang sulitnya mencari pekerjaan juga semakin banyak bermunculan di media sosial.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Di tengah persaingan yang semakin ketat, banyak lowongan kerja bagi fresh graduate lebih condong memprioritaskan mereka yang setidaknya sudah memiliki pengalaman salah satunya dengan magang, sehingga fresh graduate yang belum memiliki pengalaman sama sekali berada dalam posisi yang kurang diuntungkan.
Fenomena ini memunculkan situasi di dunia kerja: untuk memperoleh pengalaman seseorang harus memiliki pekerjaan, tetapi untuk memperoleh pekerjaan seseorang dituntut telah memiliki pengalaman.
Saat memasuki proses rekrutmen, mereka sering menemukan persyaratan pengalaman kerja atau pengalaman magang yang belum mereka miliki.
Bahkan sebelum memasuki proses rekrutmen di perusahaan, tekanan tersebut sudah mulai dirasakan ketika mahasiswa mencoba mengikuti berbagai program pengembangan karier, termasuk program magang seperti MagangHub.
Pada tahap pendaftaran, mereka kerap diminta mengisi profil yang memuat pengalaman organisasi, pengalaman kerja atau magang, sertifikasi, portofolio, hingga keterampilan yang dimiliki.
Meskipun sebagian informasi tersebut bersifat opsional, keberadaannya dapat memunculkan persepsi bahwa semakin banyak pengalaman dan pencapaian yang dimiliki, semakin besar peluang untuk diterima.
Sebaliknya, mahasiswa yang merasa belum memiliki banyak pengalaman dapat mulai membandingkan dirinya dengan peserta lain dan mempertanyakan apakah usaha yang telah dilakukan selama kuliah sudah cukup untuk bersaing di dunia kerja.
Tidak semua mahasiswa memiliki kesempatan yang sama untuk magang saat berada di jenjang perkuliahan. Situasi ini menciptakan kesenjangan antara harapan dan kenyataan.
Setelah mengirim puluhan lamaran, mengikuti berbagai seleksi, tetapi terus ditolak karena alasan kurang pengalaman, sebagian fresh graduate mulai merasa bahwa usaha mereka tidak lagi berpengaruh terhadap hasil. Mereka mulai berpikir “Percuma melamar, pasti kalah sama yang sudah punya pengalaman.”
Karena magang dipersepsikan sebagai syarat tidak tertulis, banyak mahasiswa merasa harus mulai mengikuti satu, dua, bahkan beberapa program magang agar saat lulus memiliki peluang diterima bekerja dengan cepat.
Mereka yang tidak memiliki kesempatan magang, misalnya karena keterbatasan ekonomi, lokasi, atau harus fokus menyelesaikan studi, dapat merasa tertinggal.
Akibatnya, magang tidak lagi dipandang sebagai sarana belajar, tetapi sebagai “keharusan” menuju dunia kerja. Persepsi ini berpotensi memperkuat rasa ketidakberdayaan pada fresh graduate yang belum memiliki pengalaman tersebut.
Kondisi tersebut dapat berdampak pada kondisi psikologis individu. Berdasarkan teori Learned Helplessness yang dikemukakan oleh Seligman (1975), individu yang berulang kali menghadapi kegagalan atau situasi yang dirasa berada di luar kendalinya cenderung mengembangkan keyakinan bahwa apa pun usaha yang dilakukan tidak akan mengubah hasil yang diperoleh.
Penolakan berulang akibat minimnya pengalaman dapat membuat fresh graduate kehilangan motivasi untuk melamar pekerjaan, menurunkan kepercayaan terhadap kemampuan dirinya, hingga merasa tidak memiliki kesempatan yang sama dengan pelamar yang telah memiliki pengalaman kerja maupun magang.
Kondisi ini menunjukkan bahwa persoalan rekrutmen tidak hanya berkaitan dengan kompetensi, tetapi juga berpotensi memengaruhi kesejahteraan psikologis calon tenaga kerja.
Kondisi tersebut juga dapat memengaruhi self-efficacy, yaitu keyakinan individu terhadap kemampuannya untuk mencapai tujuan tertentu. Menurut Bandura (1997), pengalaman kegagalan yang terjadi secara berulang merupakan salah satu faktor yang dapat menurunkan self-efficacy seseorang.
Ketika fresh graduate terus mengalami penolakan karena dianggap kurang berpengalaman, mereka berpotensi mulai meragukan kemampuan yang sebenarnya dimiliki.
Akibatnya, mereka menjadi kurang percaya diri dalam mengikuti proses seleksi, enggan mencoba peluang kerja baru, bahkan memilih menurunkan ekspektasi kariernya.
Situasi ini tidak bisa dibebankan kepada satu pihak saja. Perusahaan tentu berhak mencari kandidat terbaik, tetapi sudah saatnya proses rekrutmen untuk posisi fresh graduate lebih berfokus pada potensi dibanding sekadar pengalaman.
Tidak semua fresh graduate memiliki kesempatan untuk mengikuti banyak program magang, padahal mereka bisa saja memiliki kemampuan belajar yang baik, cepat beradaptasi, dan mampu berkembang ketika diberi kesempatan.
Di sisi lain, perguruan tinggi juga perlu memperkuat perannya dalam menyiapkan mahasiswa menghadapi dunia kerja. Program magang seharusnya tidak hanya menjadi formalitas untuk memenuhi syarat akademik, tetapi benar-benar memberikan pengalaman yang relevan dengan kebutuhan industri.
Pemerintah pun memiliki peran penting dalam membuka lebih banyak peluang kerja bagi fresh graduate, misalnya melalui insentif bagi perusahaan yang merekrut lulusan atau memperluas program transisi dari dunia pendidikan ke dunia kerja.
Kebijakan seperti ini tidak hanya membantu menekan angka pengangguran lulusan perguruan tinggi, tetapi juga memberikan ruang bagi perusahaan untuk membentuk talenta sesuai kebutuhan organisasi tanpa harus selalu mencari kandidat yang sudah berpengalaman.
Dengan begitu, kesempatan memperoleh pekerjaan tidak hanya dimiliki oleh mereka yang sudah berpengalaman, tetapi juga oleh mereka yang memiliki potensi untuk berkembang.
Pada akhirnya, yang dibutuhkan fresh graduate bukanlah perlakuan istimewa, melainkan kesempatan. Pengalaman memang penting, tetapi pengalaman tidak akan pernah dimiliki jika kesempatan tidak pernah diberikan.
Ketika setiap lowongan untuk fresh graduate masih menuntut pengalaman, kita sedang menciptakan sebuah situasi dimana banyak anak muda berhenti sebelum benar-benar memulai perjalanan kariernya.
Sudah saatnya dunia kerja tidak hanya bertanya, “Apa saja pengalaman kerja kamu?”, tetapi juga “Apa yang bisa kamu pelajari dan kembangkan jika kami memberimu kesempatan?”
Sebab, organisasi yang mampu melihat potensi, bukan sekadar pengalaman, tidak hanya membantu membuka jalan bagi fresh graduate, tetapi juga sedang berinvestasi pada sumber daya manusia yang akan tumbuh bersama organisasi di masa depan. (Red)













Komentar