KKL FISIP UIN Walisongo di Penglipuran: Belajar Mandiri Adat hingga Kritik Pembagian Retribusi Wisata

- Penulis

Kamis, 9 April 2026 - 08:29 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

SUARAMUDA.NET, DENPASAR — Sebanyak 173 mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) UIN Walisongo Semarang mengadakan Kuliah Kerja Lapangan (KKL) ke Desa Adat Penglipuran, Kabupaten Bangli, pada Rabu (8/4/2026).

Rombongan yang terdiri dari 94 mahasiswa program studi Sosiologi dan 79 mahasiswa Ilmu Politik angkatan 2023 ini tiba di lokasi pada pukul 15.40 WITA guna mempelajari tata kelola desa terbersih ketiga di dunia tersebut.

Wakil Dekan 3 FISIP UIN Walisongo, Dr. Parmudi, M.Si., dalam sambutannya membuka kunjungan dengan mengapresiasi manajemen pariwisata Penglipuran.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

“Kami memohon kepada Kepala Desa untuk bisa berbagi wawasan, bagaimana desa ini bisa viral dan dinobatkan sebagai desa terbersih ketiga di dunia, serta bagaimana sistem manajemen yang diterapkan di sini,” ujar Dr. Parmudi.

Kelian (Kepala) Desa Adat Penglipuran, I Wayan Budiarta, merespons dengan memaparkan sejarah panjang desanya. Menurut Budiarta, daya tarik utama desa ini bukanlah pada fasilitas modern, melainkan kelestarian adatnya.

“Penglipuran saat ini bisa menjadi desa wisata karena adatnya. Usia desa ini sudah sekitar 700 tahun, tetapi adat kita sudah ada jauh sebelum itu, yakni ketika leluhur kita masih tinggal di Bayung Gede,” jelas Budiarta.

Ia menambahkan, nama ‘Penglipuran’ memiliki filosofi Pengeling Pura, yang bermakna upaya untuk selalu mengingat budaya dan tanah leluhur.

Baca Juga :  Diskusi Bareng PCINU Tiongkok, Duta Besar RI untuk Tiongkok Tekankan Diplomasi Berbasis Dialog

Menolak Pemodal Luar dan Adaptasi Hukum Adat

Kunjungan ini menjadi wadah diskusi kritis saat memasuki sesi tanya jawab. Mahasiswa menggali lebih dalam mengenai ketahanan masyarakat adat di tengah modernisasi.

Menjawab pertanyaan Alfani terkait intervensi pemodal, Budiarta menegaskan bahwa kemandirian adalah kunci.

“Pembangunan kita dilakukan secara bertahap. Pernah ada pemodal (investor) yang datang, tapi kita tolak. Desa ini dikelola oleh kelompok wisata dengan mengusung konsep Community-Based Tourism (pariwisata berbasis masyarakat),” tegasnya.

Terkait adaptasi hukum adat dengan fenomena modern yang ditanyakan oleh Huda, Budiarta menjelaskan bahwa masyarakat berpegang pada konsep Desa Kala Patra (penyesuaian terhadap tempat, waktu, dan keadaan). Segala gesekan diselesaikan melalui jalur musyawarah mufakat.

Merespons pertanyaan Fyra mengenai posisi perempuan, ia memaparkan sistem kekerabatan patrilineal Bali, termasuk tradisi perkawinan Nyentana sebagai solusi pewarisan klan jika sebuah keluarga tidak memiliki keturunan laki-laki.

Kritik Terhadap Pemerintah Daerah

Dinamika diskusi semakin hangat ketika seorang mahasiswa bernama Beler mempertanyakan sumbangsih negara, mengingat 40 persen pendapatan tiket wisata Penglipuran disetorkan kepada pemerintah daerah.

Budiarta secara terbuka menyampaikan keluh kesah desa terkait Perjanjian Kerja Sama (PKS) dengan Dinas Pariwisata.

“Dalam PKS, fungsi pemerintah seharusnya adalah melakukan promosi. Kita sudah menyumbang 40 persen, tetapi kenyataannya anggaran promosi untuk Desa Penglipuran dari pemerintah itu nol rupiah. Saat ini skema pembagiannya adalah 40:60, ke depan kita ingin berubah menjadi 85:15. Kami ingin statusnya dikelola sebagai pajak, bukan sekadar retribusi lagi,” ungkap Budiarta secara lugas.

Baca Juga :  RTAR Rayon Fisip PMII Wahid Hasyim, Fajri Hermansyah Dipastikan Lengser

Dinamika Lapangan

Di luar agenda formal, kunjungan lapangan ini tidak lepas dari dinamika khas mahasiswa. Sebagian mahasiswa merasa alokasi waktu untuk eksplorasi mandiri berkurang akibat panjangnya sesi seremonial dan cuaca yang kurang bersahabat.

“Kepala desa menjelaskan ulang mengenai sejarah dan makna desa, padahal informasi itu sudah dijelaskan oleh pemandu wisata di dalam bus saat perjalanan. Ini cukup memotong waktu kami untuk keliling desa secara langsung,” ungkap Bagus, mahasiswa Sosiologi.

Cuaca hujan di sore hari turut menambah kekhawatiran peserta. “Karena hujan, jadi kurang seru karena kita tidak bisa mengeksplorasi desa dengan bebas. Walaupun hujannya nanti reda, jalanannya mungkin akan becek,” tambah Revangga, mahasiswa Ilmu Politik.

Meski demikian, kekhawatiran terkait kondisi jalan berlumpur tidak terbukti. Tata ruang Desa Penglipuran telah dirancang dengan jalan utama berlapis batu alam serta sistem drainase kuno yang sangat baik, sehingga jalanan tetap bersih dan bebas becek meski diguyur hujan lebat. (Red)

Follow WhatsApp Channel suaramuda.net untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Bukan Sekadar Datang! Guru MTs Muhammadiyah 20 Menongo Siap “Berburu” Inspirasi di EXTRANAS 2026
Honor Guru Madrasah Swasta Cuma Rp50 Ribu, Menag Akui Realita Pahit
Zuhri: Diplomasi Bukan Cuma Urusan Negara, Warga Bisa Jadi Jembatan Indonesia–Tiongkok
Dari Usus Ayam Jadi Cuan: UPN Veteran Jatim Dorong Siswa SMK Nazhatut Thullab Jadi Wirausaha
Dorong Produksi Lebih Efisien dan Bermutu, Tim Pengabdian Terapkan Mesin Chopper Kedelai Termodifikasi di UMKM Tahu Tulungagung
Tingkatkan Mutu Produk Olahan, Tim Pengabdian UPN Veteran Jatim Dampingi UMKM Sambal Pecel “Lestari” Blitar
Modernisasi Produksi Telur Asin di Tulungagung, Alat Pencuci Berbasis Riset Bikin UMKM Makin Efisien
Dorong UMKM Naik Kelas, Akademisi UPN Veteran Jawa Timur Kenalkan Oven Multitray dan Kemasan Baru di Bolu “Bu Pur”
Berita ini 16 kali dibaca

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊


Berita Terkait

Minggu, 13 September 2026 - 05:53 WIB

Bukan Sekadar Datang! Guru MTs Muhammadiyah 20 Menongo Siap “Berburu” Inspirasi di EXTRANAS 2026

Sabtu, 12 September 2026 - 11:41 WIB

Honor Guru Madrasah Swasta Cuma Rp50 Ribu, Menag Akui Realita Pahit

Rabu, 9 September 2026 - 17:39 WIB

Zuhri: Diplomasi Bukan Cuma Urusan Negara, Warga Bisa Jadi Jembatan Indonesia–Tiongkok

Selasa, 8 September 2026 - 18:53 WIB

Dari Usus Ayam Jadi Cuan: UPN Veteran Jatim Dorong Siswa SMK Nazhatut Thullab Jadi Wirausaha

Senin, 7 September 2026 - 22:34 WIB

Dorong Produksi Lebih Efisien dan Bermutu, Tim Pengabdian Terapkan Mesin Chopper Kedelai Termodifikasi di UMKM Tahu Tulungagung

Berita Terbaru

Bendera Partai Gerindra, PDIP dan Partai Golkar. (Ilustrasi: Pinterest)

KABAR NUSANTARA

Survei Poltracking: Gerindra 23,2 Persen, PDIP dan Golkar Mengekor

Rabu, 23 Sep 2026 - 19:25 WIB

Sumber foto: sindonews.com

KILAS GLOBAL

BRICS Masih Jadi Magnet Negara Berkembang, 45 Negara Pengen Gabung!

Senin, 21 Sep 2026 - 22:09 WIB