SUARAMUDA.NET, JAKARTA — Kabar duka datang dari medan panas Lebanon. Tiga prajurit terbaik TNI gugur saat menjalankan misi perdamaian dunia.
Tragedi ini langsung memicu reaksi keras dari Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) yang mendesak Perserikatan Bangsa-Bangsa (United Nations) untuk segera menghentikan penugasan pasukan di misi United Nations Interim Force in Lebanon (UNIFIL).
Tiga pahlawan bangsa yang gugur adalah Mayor Inf (Anumerta) Zulmi Aditya Iskandar, Serka (Anumerta) Muhammad Nur Ichwan, dan Kopda (Anumerta) Farizal Rhomadon.
Tak hanya itu, sejumlah prajurit lainnya dilaporkan mengalami luka berat dalam insiden yang terjadi di wilayah tugas.
SBY mengaku terpukul mendengar kabar ini. Ia bahkan menggambarkan betapa dalamnya duka yang dirasakan keluarga korban—istri, anak, hingga orang tua yang kini harus merelakan kepergian orang tercinta.
Namun lebih dari sekadar belasungkawa, SBY menyoroti kondisi genting di lapangan. Pasukan Indonesia yang tergabung dalam UNIFIL sejatinya bertugas menjaga perdamaian di “Blue Line”, garis pemisah antara Israel dan Lebanon.
Mereka bukan pasukan tempur, dan tidak dipersiapkan untuk menghadapi perang terbuka.
Masalahnya, situasi kini berubah drastis. Wilayah yang dulunya relatif aman kini berubah jadi zona perang aktif akibat memanasnya konflik antara Israel dan Hizbullah. Para penjaga perdamaian, termasuk TNI, kini berada di garis bahaya yang nyata.
“Ini bukan lagi misi damai biasa,” kira-kira begitu pesan keras yang ingin disampaikan SBY.
Ia pun mendesak PBB untuk tidak tinggal diam. Evaluasi total terhadap misi UNIFIL harus segera dilakukan—bahkan jika perlu, penugasan dihentikan atau pasukan ditarik dari area konflik.
Tak berhenti di situ, SBY juga meminta Dewan Keamanan PBB segera turun tangan. Ia menegaskan, keselamatan pasukan perdamaian harus jadi prioritas, tanpa standar ganda.
SBY bahkan mengingatkan dunia pada insiden di Atambua tahun 2000, saat kematian petugas PBB langsung direspons cepat oleh Dewan Keamanan. Menurutnya, konsistensi sikap PBB kini sedang dipertaruhkan di mata dunia.
Sejak 2006, Indonesia dikenal sebagai salah satu kontributor terbesar dalam misi perdamaian di Lebanon. Kontingen Garuda telah lama menjadi simbol komitmen Indonesia untuk perdamaian dunia.
Namun tragedi ini jadi alarm keras: di balik misi mulia, nyawa prajurit jadi taruhannya.
Kini publik menanti—akankah PBB bergerak cepat, atau justru membiarkan risiko ini terus menghantui para penjaga perdamaian?
Gugurnya para prajurit ini bukan hanya kehilangan bagi TNI, tapi juga luka bagi bangsa. (Red)