Serigala di Kepala

- Penulis

Sabtu, 14 Maret 2026 - 10:01 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi kawanan Srigala (pinterest)

Ilustrasi kawanan Srigala (pinterest)

Oleh: Ali Achmadi, Praktisi Pendidikan dan Pemerhati Masalah Sosial, Tinggal di Pati

SUARAMUDA.NET, SEMARANG — Ibnu Sina punya cara aneh untuk menjelaskan kehidupan. Ia tidak menulis motivasi di Instagram. Ia tidak membuat seminar “healing your inner child” Ia menaruh dua domba di dua kandang. Makanan sama. Air sama. Lingkungan sama.

Di belakang kandang domba ada kandang serigala. Serigala itu tiap hari diberi makanan cukup. Serigala itu tidak menyerang. Tidak menggonggong. Tidak mengaum. Ia hanya ada.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Domba pertama bisa melihatnya. Domba kedua tidak. Tiga puluh hari kemudian hasilnya mengejutkan. Domba pertama mati. Bukan karena diterkam. Karena stres. Setiap pagi domba pertama bangun dengan ancaman yang tidak terlihat.

Setiap malam, tidur dengan ketidakpastian. Sementara domba kedua? Sehat. Gemuk. Tenang. Padahal makanannya sama persis. Lingkungan kandang sama persis

Ibnu Sina—filsuf besar dari dunia Islam yang hidup kurang lebih seribu tahun lalu—menulisnya dalam karyanya Concerning the Soul. Ia menjelaskan sesuatu yang sebenarnya sangat sederhana: Kadang yang membunuh kita bukan musuh. Tapi bayangan musuh di kepala kita sendiri.

Baca Juga :  Ketika Minoritas Bicara Etika: Pelajaran Demokrasi dari Muslim Thailand Selatan (Refleksi atas praktik etika politik di Patani)

Kalau eksperimen itu dilakukan hari ini, mungkin Ibnu Sina tidak perlu pakai domba. Bisa pakai manusia modern. Taruh satu orang di kamar dengan: cicilan rumah, cicilan mobil, target kantor, notifikasi WhatsApp grup keluarga, Instagram teman yang tiap minggu liburan.

Serigalanya lengkap. Serigala zaman sekarang memang tidak berbulu. Namanya: perbandingan hidup.

Serigala lain juga banyak. Ada yang bernama masa depan. Setiap pagi kita bangun dengan pertanyaan:
Kalau bisnis gagal gimana?” Kalau pekerjaan tidak bisa menjamin masa depan giman?” “Masa depan anak-anak gimana?” “Kalau uang tidak cukup sampai tua gimana?”

Padahal masa depan itu belum datang. Tapi tubuh kita sudah bereaksi seolah-olah serigala itu sudah melompat ke leher.

Ada lagi serigala bernama toxic relationship. Lucunya, kadang serigala itu tidak menggigit.
Ia hanya: mengkritik, meremehkan, membuat kita merasa kecil. Tidak ada luka fisik. Tapi jiwa kita berdarah setiap hari. Dan seperti domba pertama Ibnu Sina, kita pelan-pelan mati.

Yang tenang justru domba kedua. Ia sehat. Ia tidak tahu ada serigala. Dalam bahasa filsafat: ketidaktahuan menyelamatkannya. Dalam bahasa sehari-hari: kadang hidup lebih damai kalau kita tidak tahu terlalu banyak. Tidak tahu siapa yang lebih sukses. Tidak tahu siapa yang lebih kaya.

Baca Juga :  Menarasikan Makna Sila Pertama pada Butir Pancasila

Tidak tahu siapa yang lebih bahagia di Instagram. Karena banyak hal yang kita sebut “informasi”, sebenarnya hanya pakan untuk serigala di kepala kita.

Ibnu Sina mungkin tidak pernah membayangkan dunia hari ini. Dunia yang penuh serigala digital. Setiap scroll media sosial adalah tur keliling kebun binatang: serigala kesuksesan orang lain.

Serigala kecantikan standar internet. Serigala kekayaan yang dipamerkan. Dan kita menatap semuanya setiap hari. Persis seperti domba pertama. Bedanya, kita tidak dikurung. Kita sendiri yang membuka pintu kandang itu setiap hari.

Ibnu Sina sudah memberi kesimpulan seribu tahun lalu: jiwa bisa membunuh tubuhnya sendiri. Atau menyembuhkannya. Pilihan itu tidak ada di serigala. Ia ada di cara kita memandang serigala itu.

Jadi kalau hidup terasa berat, mungkin masalahnya bukan karena ada serigala. Masalahnya karena kita terlalu rajin menatapnya. Dan seperti domba malang dalam eksperimen Ibnu Sina…, kita lupa bahwa sebenarnya serigala itu tidak pernah benar-benar menyentuh kita. (Red)

Follow WhatsApp Channel suaramuda.net untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Menghemat Anggaran, Menekan Food Waste: Kantin Sekolah adalah Jalan Tengah MBG
Filosofi “Haha-Hihi” Purbaya: Belajar Tenang di Tengah Badai
Membaca dan Memahami: Jalan Menuju Keselamatan
Membaca Nalar Logis Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 282/PUU-XXIII/2025: Lembaga Negara Tidak Memiliki Perasaan Seperti Manusia
Profesionalisme: Seni Beradaptasi di Lingkungan Kerja
Palu Arit dan Bulan Bintang: Jalan Sunyi Sang Bolsyewik Mengawinkan Dua Poros Besar
Di Balik Tenda Pengungsian, Ada Rasa Aman yang Harus Dijaga
Menjaga Gunung Ungaran, Menimbang Masa Depan Energi Kabupaten Semarang
Berita ini 12 kali dibaca

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊


Berita Terkait

Senin, 21 September 2026 - 21:50 WIB

Menghemat Anggaran, Menekan Food Waste: Kantin Sekolah adalah Jalan Tengah MBG

Jumat, 18 September 2026 - 18:53 WIB

Filosofi “Haha-Hihi” Purbaya: Belajar Tenang di Tengah Badai

Kamis, 17 September 2026 - 08:25 WIB

Membaca dan Memahami: Jalan Menuju Keselamatan

Kamis, 10 September 2026 - 07:34 WIB

Membaca Nalar Logis Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 282/PUU-XXIII/2025: Lembaga Negara Tidak Memiliki Perasaan Seperti Manusia

Selasa, 8 September 2026 - 08:49 WIB

Profesionalisme: Seni Beradaptasi di Lingkungan Kerja

Berita Terbaru

Bendera Partai Gerindra, PDIP dan Partai Golkar. (Ilustrasi: Pinterest)

KABAR NUSANTARA

Survei Poltracking: Gerindra 23,2 Persen, PDIP dan Golkar Mengekor

Rabu, 23 Sep 2026 - 19:25 WIB

Sumber foto: sindonews.com

KILAS GLOBAL

BRICS Masih Jadi Magnet Negara Berkembang, 45 Negara Pengen Gabung!

Senin, 21 Sep 2026 - 22:09 WIB