Menarasikan Makna Sila Pertama pada Butir Pancasila

- Penulis

Sabtu, 22 Maret 2025 - 12:24 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Dena Ryani Santosa, mahasiswa Prodi Pendidikan Kimia, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Negeri Yogyakarta

Dena Ryani Santosa, mahasiswa Prodi Pendidikan Kimia, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Negeri Yogyakarta

SUARAMUDA, SEMARANG – “Ketuhanan yang Maha Esa” merupakan sila Pancasila yang berada pada posisi pertama. Penentuan sebagai sila pertama inipun tidak mudah.

Tarik ulur dan perdebatan panjang tak terhindarkan. Hal ini karena tak lepas dari beragam kepentingan saat itu. Walhasil, Pancasila sukses disepakati dan menjadi dasar negara.

Lantas, mengapa sila “Ketuhanan yang Maha Esa” berada pada posisi pertama Pancasila?

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Tak dipungkiri, sila ini menegaskan bahwa Tuhanlah yang memiliki kekuasaan tertinggi pada kehidupan ini.

Baca Juga :  Krisis Moral dan Implementasi Nilai-nilai Pancasila

Sila ini tidak hanya mengandung nilai-nilai Ketuhanan, namun juga mengandung konsep yang berperan sebagai dasar moral, etika, dan prinsip-prinsip hidup.

Prinsip inilah yang akan mengarahkan masyarakat untuk hidup berbangsa dan bernegara serta membentuk warga negara yang berkarakter.

Sila ini juga mengajarkan kita untuk bersikap toleran terhadap keyakinan dan agama lain yang dianut oleh masyarakat Indonesia.

Perlu kita sepakati, bahwa sila “Ketuhanan Yang Maha Esa” adalah pondasi bagi keempat sila pada butir-butit Pancasila lainnya.

Oleh karenanya, jika sila pertama tidak dijalankan dengan baik, maka keempat sila Pancasila lainnya akan sulit pula untuk dijalankan.

Baca Juga :  Mengurai Batang Tubuh Pancasila

Dengan mengakui adanya Tuhan Yang Maha Esa, memiliki arti bahwa seluruh kegiatan di muka bumi ini berjalan dan berkembang berdasarkan pada pengakuan terhadap Tuhan Yang Maha Esa.

*) Penulis: Dena Ryani Santosa, mahasiswa Prodi Pendidikan Kimia, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Negeri Yogyakarta
**) Artikel ini disusun untuk memenuhi tugas perkuliahan
***) Isi dan pesan dalam artikel bukan menjadi pandangan redaksi

Follow WhatsApp Channel suaramuda.net untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Ketika Jas Putih Ikut Berdarah, Kematian dr. Icha dan Cermin Buram Empati Kita
Giliran Bayar Tak Boleh Telat, Giliran Listrik Mati Disuruh Maklum
Rupiah, Ekspor, dan Masa Depan Ekonomi Indonesia: Jangan Terjebak pada Angka Semata
Mencermati Dugaan Intervensi Politik di Balik Aksi Mahasiswa Kendal
Ruang Lingkup Ekonomi Manajerial dan Alat Pengambilan Keputusan di Era Digital
Pengaruh Nilai Guna Marjinal terhadap Perilaku Konsumen dan Keputusan Pembelian
Ekonomi Digital dan Masa Depan Bisnis di Era E-Commerce
Pasar Tidak Pernah Benar-Benar Bebas: Memahami Monopoli hingga Oligopsoni dalam Realitas Ekonomi Indonesia
Berita ini 6 kali dibaca

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊


Berita Terkait

Minggu, 28 Juni 2026 - 08:25 WIB

Ketika Jas Putih Ikut Berdarah, Kematian dr. Icha dan Cermin Buram Empati Kita

Rabu, 24 Juni 2026 - 10:34 WIB

Giliran Bayar Tak Boleh Telat, Giliran Listrik Mati Disuruh Maklum

Selasa, 23 Juni 2026 - 22:23 WIB

Rupiah, Ekspor, dan Masa Depan Ekonomi Indonesia: Jangan Terjebak pada Angka Semata

Senin, 22 Juni 2026 - 17:22 WIB

Mencermati Dugaan Intervensi Politik di Balik Aksi Mahasiswa Kendal

Minggu, 21 Juni 2026 - 10:34 WIB

Ruang Lingkup Ekonomi Manajerial dan Alat Pengambilan Keputusan di Era Digital

Berita Terbaru

KABAR NUSANTARA

Mengapa Sekjen dan Pengurus Partai Buruh Mundur Rame-rame?

Minggu, 28 Jun 2026 - 09:08 WIB

LINTAS AKADEMIKA

“Sekolah Layak, Pendidikan Bermartabat”

Minggu, 28 Jun 2026 - 08:47 WIB