Nuzulul Quran Jadi Ajang “Revolusi” Urban Farming Santri Sahabat Bumi dan ‘Emak-Emak’ Muslimat NU

- Penulis

Sabtu, 7 Maret 2026 - 09:15 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

SUARAMUDA.NET, KARTASURA — Peringatan Nuzulul Quran lazimnya diisi dengan gemuruh tadarus semata. Namun, gebrakan berbeda dan mendobrak tradisi justru tersaji di Makamhaji pada Kamis (5/3/2026) kemarin.

Santri Sahabat Bumi (SSB) bersama ibu-ibu tangguh dari Ranting Muslimat NU Makamhaji menyulap momen turunnya wahyu ini menjadi gerakan nyata melawan ketergantungan pangan keluarga lewat jalan urban farming.

Mengambil waktu bakda Ashar (baca: pukul 15.30 WIB), acara ini tetap menjaga akar spiritualnya yang pekat. Lantunan Asmaul Husna, semaan, dan khotmil Quran yang dipandu Ibu Nyai Intan Nafisah, S.Ag., mengalun khidmat.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Namun, “tamparan” kesadaran muncul saat Ibu Nyai Hj. Murtafiah Mubarokah Dian Nafi membedah makna Al-Quran dalam konteks krisis lingkungan di era modern.

“Al-Quran itu bukan sekadar teks mati untuk dibaca lalu selesai. Ia harus hidup, membumi, dan dijadikan pedoman mutlak dalam setiap tindakan kita, termasuk dalam urusan krusial menjaga bumi dan memastikan pangan keluarga kita aman,” sentil Ibu Nyai Hj. Murtafiah, membakar semangat jamaah yang didominasi kaum perempuan tersebut.

Baca Juga :  TKD Dipangkas Rp442 Miliar, Wali Kota Agustina: Layanan Publik Tetap Jalan, Semarang Nggak Patah Semangat!

Transisi mulus dari mimbar agama ke mimbar alam terjadi lewat sesi yang paling ditunggu: “Ngaji Pertanian”. Kehadiran praktisi kawakan dari PT. Agrikencana Perkasa, Drs. Priyo Djatmiko, sukses membius peserta. Priyo dengan tajam mengkritik gaya hidup pasif masyarakat perkotaan.

“Jangan cuma jago menikmati hasil panen saat sudah tersaji di meja makan, tapi buta akan darah dan keringat para petani di ladang. Mandiri pangan itu wajib! Kita harus berhenti terus-terusan mengandalkan pasokan dari orang lain,” tegas Priyo.

 

Tanpa basa-basi, Priyo langsung membongkar “jurus rahasia” bertani di lahan sempit. Untuk cabai rawit, ia menginstruksikan pemangkasan cabang di usia 28 hari secara presisi demi memicu tiga ranting baru yang lebih rimbun.

Sebaliknya, cabai keriting dilarang dipotong terlalu cepat karena fase pertumbuhannya yang lambat. Pantangan lain yang ditekankan? “Jangan biarkan tanah terlalu becek,” pesannya.

Ia juga membagikan trik reparasi kesuburan tanah lewat bakteri alami pada kompos, serta rahasia panen ketela pohung yang melimpah hanya bermodalkan pupuk organik dan jamur mikoriza.

Baca Juga :  Halo Warga Jepara! Ukiran Jepara Galang Dukungan Bosnia Menuju UNESCO

Edukasi ini jelas bukan isapan jempol belaka. Di penghujung acara, setiap peserta langsung dipersenjatai dengan paket “amunisi” polybag dari Santri Sahabat Bumi.

Dua bibit cabai keriting, dua cabai rawit, dan satu terong dibawa pulang sebagai modal awal mengubah pekarangan rumah menjadi lumbung sayur mandiri.

“Ini bukan sekadar seremonial. Ini wujud syukur yang revolusioner dari seorang hamba Allah. Kami menantang masyarakat luas untuk bangun dan sadar bahwa mandiri pangan itu sudah menjadi kebutuhan genting saat ini,” pungkas M. Ibnu Nafiudin, Ketua Santri Sahabat Bumi.

Ditutup dengan kehangatan buka puasa bersama, peringatan Nuzulul Quran di Makamhaji tahun ini meninggalkan jejak inspirasi yang kuat.

Sebuah bukti nyata bahwa lantunan ayat suci dan kelestarian alam bisa berpadu menjadi kekuatan yang mampu mengubah kebiasaan masyarakat. (Red)

Follow WhatsApp Channel suaramuda.net untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Wujudkan Inklusi Sosial Tanpa Sekat, BAZNAS RI dan Yayasan Kiblat Abinaya Gagas Pembinaan Edutainment bagi Kaum Marjinal Sukoharjo
Wali Kota Semarang Resmikan TPU Pancasila Dukung FKUB Kota Semarang Jaga Toleransi Hingga Akhir Hayat
Sosialisasi Empat Pilar Kebangsaan: Menjaga Persatuan, Merawat Perdamaian
MTQ Nasional XXXI di Jateng Tuai Apresiasi, Malam Ta’aruf Bikin Semarang Makin Semarak
FKUB Goes to School Sambangi SMA 12 Semarang: Saatnya Pelajar Jadi Penggerak Kerukunan!
Soal Geothermal, Bupati Semarang Tegas: Lanjut atau Tidak, Kewenangan Pusat
Gaji PPPK Mau Diambil Alih Pemerintah Pusat? Jateng Bisa Punya Napas Baru Rp2 Triliun
MUI Jateng Punya “Skuad” Baru: Banyak Profesor, Siap Jadi Cooling System di Tengah Dinamika Zaman
Berita ini 12 kali dibaca

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊


Berita Terkait

Senin, 21 September 2026 - 21:18 WIB

Wali Kota Semarang Resmikan TPU Pancasila Dukung FKUB Kota Semarang Jaga Toleransi Hingga Akhir Hayat

Minggu, 13 September 2026 - 15:36 WIB

Sosialisasi Empat Pilar Kebangsaan: Menjaga Persatuan, Merawat Perdamaian

Sabtu, 12 September 2026 - 11:54 WIB

MTQ Nasional XXXI di Jateng Tuai Apresiasi, Malam Ta’aruf Bikin Semarang Makin Semarak

Kamis, 10 September 2026 - 15:15 WIB

FKUB Goes to School Sambangi SMA 12 Semarang: Saatnya Pelajar Jadi Penggerak Kerukunan!

Senin, 7 September 2026 - 20:18 WIB

Soal Geothermal, Bupati Semarang Tegas: Lanjut atau Tidak, Kewenangan Pusat

Berita Terbaru

Mantan Mendikbudristek Nadiem Makarim. (Gambar: Dery Ridwansah/ JawaPos.com)

KABAR NUSANTARA

Vonis Nadiem Makarim Turun Jadi 9 Tahun, Ini yang Berubah

Minggu, 27 Sep 2026 - 11:44 WIB

LINTAS AKADEMIKA

Membedah Program Unggulan Sakola Kembara (Bimbel Gratis Masuk PTN)

Minggu, 27 Sep 2026 - 09:20 WIB