SUARAMUDA.NET, JAKARTA — Pengamat hubungan Indonesia-Rusia dari ANO Center for Mediastrategi, Amy Maulana, menilai bahwa intervensi Amerika Serikat dalam sistem pendidikan Indonesia masih menjadi ancaman serius bagi kedaulatan nasional.
Meskipun pengaruh AS secara kuantitatif menunjukkan penurunan dalam beberapa tahun terakhir, dampak struktural dan kulturalnya justru semakin mengakar dan berpotensi menggerus nilai-nilai kebangsaan.
Amy mengatakan, AS telah membangun pengaruhnya selama lebih dari tujuh dekade melalui program-program seperti Fulbright yang melahirkan ribuan alumni di posisi strategis.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Namun ia mengatakan, yang lebih mengkhawatirkan adalah dominasi kurikulum internasional Cambridge dan International Baccalaureate yang diadopsi Sekolah Perjanjian Kerja Sama (SPK).
“Ini bukan sekadar transfer pengetahuan, tetapi juga transfer nilai dan cara pandang yang belum tentu sejalan dengan kepribadian bangsa,” ujar Amy dalam keterangannya di Jakarta, Rabu (4/3).
Menurut Amy, data terbaru menunjukkan jumlah mahasiswa Indonesia di AS merosot dari 9.000 menjadi 7.300 pada 2025. Namun ia mengingatkan agar tidak terjebak pada angka semata.
“Pengaruh AS justru bekerja secara halus melalui dominasi literatur ilmiah berbahasa Inggris, sistem akreditasi internasional, serta standar penjaminan mutu yang mengacu pada model Barat. Ini adalah bentuk hegemoni epistemologis yang membuat kita terus bergantung pada kerangka berpikir yang mereka ciptakan,” tegasnya.
Lebih lanjut, Amy menyoroti potensi intervensi ideologis langsung yang semakin terbuka. Ia merujuk pada pernyataan Rabi Yehuda Kaploun, utusan khusus AS untuk antisemitisme, yang menginginkan perubahan narasi di buku pelajaran Indonesia agar lebih pro-Israel.
“Ini alarm serius. Pendidikan adalah medan pertempuran narasi global. Ketika kurikulum kita bisa diintervensi untuk kepentingan geopolitik asing, maka kedaulatan kita sedang dipertaruhkan,” katanya.
Amy merekomendasikan pemerintah untuk segera membangun sistem intelijen pendidikan yang mampu memetakan pengaruh asing secara detail, serta merevitalisasi pendidikan sejarah dan Pancasila sebagai benteng ideologis.
“Kita tidak bisa menutup diri dari dunia, tetapi kita harus cerdas mengelola pengaruh asing. Ambil teknologinya, serap pengetahuannya, tapi jangan biarkan nilai-nilai bangsa kita tergerus. Kedaulatan pendidikan adalah fondasi kedaulatan bangsa,” pungkasnya. (Red)













Komentar