HAM Versi Siapa? Ketika Kritik MBG Dianggap Dosa Kemanusiaan

- Penulis

Minggu, 22 Februari 2026 - 11:17 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Ketua BEM UGM, Tiyo Ardiyanto. (dok.istimewa)

Ketua BEM UGM, Tiyo Ardiyanto. (dok.istimewa)

SUARAMUDA.NET, SEMARANG — Di negeri ini, mengkritik program negara tampaknya bukan lagi sekadar beda pendapat. Ia bisa naik kelas menjadi pelanggaran Hak Asasi Manusia.

Setidaknya itulah kesan yang menguar setelah Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Gadjah Mada menyurati UNICEF dan meminta evaluasi—bahkan penghentian—Program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Respons negara datang cepat, keras, dan nyaris tanpa ruang bernapas. Menteri HAM RI Natalius Pigai angkat suara: siapa pun yang ingin meniadakan MBG, kata dia, berarti menentang HAM. Titik.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

“Makan bergizi gratis itu permintaan PBB. Untuk anak-anak kecil. Kesehatan, pendidikan, semua,” ujar Pigai, Jumat (20/2/2026).

Terjemahan bebasnya: kalau Anda tidak sepakat, Anda bukan cuma melawan pemerintah—Anda melawan kemanusiaan.

Dalam satu tarikan napas, Pigai memasukkan daftar panjang program—MBG, cek kesehatan gratis, pendidikan gratis, sekolah rakyat, koperasi merah putih—ke dalam satu paket suci bernama HAM. Mengkritiknya? Sama saja berdiri di barisan anti-HAM.

Baca Juga :  Ngeri! Ini Poin-poin Tuntutan Jaksa terhadap Nadiem dalam Kasus Chromebook

Logika ini sederhana sekaligus menakjubkan: karena program diklaim sejalan dengan Perserikatan Bangsa-Bangsa, maka kritik apa pun otomatis batal demi hukum moral.

“Gimana programnya PBB, Anda minta UNICEF menghentikan? Tidak mungkin,” ulang Pigai, seolah pengulangan bisa menggantikan argumentasi.

Puncaknya, Pigai menegaskan bahwa Prabowo dan Gibran hanya menjalankan amanat rakyat—tentu saja, masih sejalan dengan PBB. Rakyat setuju, PBB setuju, maka perdebatan selesai. Mahasiswa? Silakan pulang.

Mengapa BEM UGM Menulis ke UNICEF?

Surat terbuka BEM UGM bertanggal 6 Februari 2026 itu bukan lahir dari ruang hampa. Ia dipicu tragedi getir: seorang siswa sekolah dasar di Nusa Tenggara Timur meninggal dunia, diduga mengakhiri hidup karena tak mampu membeli alat tulis seharga kurang dari Rp10 ribu.

Baca Juga :  Dari QRIS hingga AI: Mahasiswa KKNT UPN “Veteran” Jawa Timur Bekali UMKM Desa Kalipucang Hadapi Era Digital untuk Mendukung SDGs 1, 8, dan 9

Ironis, di negeri yang sedang sibuk membagi menu bergizi, ada anak yang tumbang karena selembar buku tulis.

BEM UGM membaca tragedi itu sebagai cermin kegagalan negara menjamin hak dasar anak—terutama akses pendidikan.

Mereka menuding adanya jurang lebar antara grafik presentasi pemerintah dan realitas di lapangan. Antara angka-angka yang tampak sehat dan kehidupan yang ternyata rapuh.

Namun di Jakarta, kritik itu terdengar berbeda. Bukan sebagai alarm kebijakan, melainkan sebagai ancaman nilai-nilai universal.

Seolah-olah mempertanyakan desain program sama dengan menolak anak makan. Seolah-olah bertanya “apakah ini tepat?” identik dengan berkata “hentikan kemanusiaan”.

Di titik ini, satiranya terasa pahit: di negeri yang mengaku demokratis, kritik kebijakan bisa berubah menjadi dosa HAM.

Dan ketika HAM dijadikan tameng kebijakan, pertanyaan sederhana dari mahasiswa pun bisa dianggap melawan dunia. (Red)

Follow WhatsApp Channel suaramuda.net untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Survei Poltracking: Gerindra 23,2 Persen, PDIP dan Golkar Mengekor
Pergantian Posisi di JP Group dan Perhatian terhadap Energi Terbarukan
Parpol Nonparlemen Tolak PT 5 Persen, Merasa Dijegal hingga Tuduh Koalisi Arogan
Pajak Seller Marketplace Segera Dipungut, Seller Online Perlu Siap-siap
Saat Tari Piring Bertemu Tarian Mandarin, IFSRC Bawa Diplomasi Indonesia–Tiongkok ke Panggung Budaya
DPR Pertanyakan Rencana 200 Juta Rekening: Yang Belum Punya Rekening Cuma 15,3 Juta
Bukan Cuma Urusan Pemerintah, IFSRC Buka Jalur Baru Diplomasi Indonesia–Tiongkok
GCI dan Masa Depan Hubungan Indonesia–Tiongkok Dibahas di Jakarta
Berita ini 16 kali dibaca

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊


Berita Terkait

Rabu, 23 September 2026 - 19:25 WIB

Survei Poltracking: Gerindra 23,2 Persen, PDIP dan Golkar Mengekor

Minggu, 20 September 2026 - 09:39 WIB

Parpol Nonparlemen Tolak PT 5 Persen, Merasa Dijegal hingga Tuduh Koalisi Arogan

Jumat, 18 September 2026 - 16:42 WIB

Pajak Seller Marketplace Segera Dipungut, Seller Online Perlu Siap-siap

Jumat, 18 September 2026 - 09:01 WIB

Saat Tari Piring Bertemu Tarian Mandarin, IFSRC Bawa Diplomasi Indonesia–Tiongkok ke Panggung Budaya

Kamis, 17 September 2026 - 08:45 WIB

DPR Pertanyakan Rencana 200 Juta Rekening: Yang Belum Punya Rekening Cuma 15,3 Juta

Berita Terbaru

Bendera Partai Gerindra, PDIP dan Partai Golkar. (Ilustrasi: Pinterest)

KABAR NUSANTARA

Survei Poltracking: Gerindra 23,2 Persen, PDIP dan Golkar Mengekor

Rabu, 23 Sep 2026 - 19:25 WIB

Sumber foto: sindonews.com

KILAS GLOBAL

BRICS Masih Jadi Magnet Negara Berkembang, 45 Negara Pengen Gabung!

Senin, 21 Sep 2026 - 22:09 WIB