Demi Menjaga Marwah Pemerintah, DPRA Didesak Bentuk Pansus Penyelidikan Integritas Sekda Aceh

- Penulis

Rabu, 18 Februari 2026 - 08:10 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

SUARAMUDA.NET, BANDA ACEH — Polemik integritas yang menyeret Sekretaris Daerah (Sekda) Aceh kian memantik sorotan tajam publik.

Pengamat politik dan kebijakan publik, Nasrul Zaman, menilai situasi ini tidak boleh dibiarkan berlarut karena berpotensi menggerus wibawa pemerintahan dan merusak disiplin birokrasi.

Ia mendesak DPR Aceh segera membentuk Panitia Khusus (Pansus) guna menguji integritas pejabat yang menjadi pusat polemik.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Dalam keterangannya di Banda Aceh, Nasrul menyebut kegaduhan dua bulan terakhir mencerminkan lemahnya respons kelembagaan terhadap isu yang menyentuh ranah etik pejabat publik.

Ia menilai pembiaran justru memperpanjang spekulasi dan memperdalam krisis kepercayaan.

“Jika persoalan yang menyangkut integritas pejabat tinggi hanya direspons dengan diam, maka publik berhak membaca itu sebagai kegagalan tata kelola. Birokrasi tidak boleh dipimpin oleh bayang-bayang kontroversi,” tegas Nasrul melalui keterangan tertulis, Senin 16 Februari 2026.

Ia mengingatkan, posisi Sekda sebagai komando administratif aparatur sipil negara (ASN) menjadikan dampak polemik ini bersifat sistemik.

Baca Juga :  KOSAMI Jaya Ulurkan Bantuan, Hangatkan Harapan Warga Korban Banjir Aceh Selatan

Menurutnya, keraguan terhadap integritas pimpinan dapat memicu demoralisasi hingga pembangkangan administratif terselubung di tingkat bawah.

“ASN bekerja dengan rujukan teladan struktural. Jika standar etik di pucuk kepemimpinan terlihat longgar, maka disiplin di lapisan bawah ikut melemah. Ini ancaman nyata terhadap ketertiban administrasi negara,” ujarnya.

Nasrul juga menyoroti potensi dampak lanjutan terhadap tata kelola fiskal daerah. Ia menyebut energi birokrasi yang terpecah akibat polemik dapat memperlambat koordinasi lintas perangkat daerah dan mengganggu percepatan realisasi anggaran.

“Ketika fokus pimpinan tersita oleh polemik personal, keputusan strategis berisiko tertunda. Jika ini berimbas pada serapan anggaran, maka yang dirugikan bukan pejabat, melainkan rakyat,” ujar Nasrul.

Ia menambahkan, ketidakjelasan sikap kelembagaan juga dapat mengikis kepercayaan mitra pembangunan terhadap stabilitas tata kelola Pemerintah Aceh.

“Integritas pejabat publik adalah mata uang kepercayaan. Ketika nilainya merosot, investor dan mitra strategis membaca sinyal ketidakpastian,” jelasnya.

Baca Juga :  Young Ambassador Agriculture Hadiri Peringatan Hari PBB

Karena itu, Nasrul menilai pembentukan Pansus bukan sekadar langkah politik, melainkan mekanisme pengawasan untuk memastikan transparansi serta menjaga marwah pemerintahan daerah.

“Pansus harus dipandang sebagai instrumen klarifikasi institusional, bukan alat kompromi. Jika DPR Aceh abai, maka yang dipertaruhkan adalah legitimasi pemerintahan itu sendiri,” kata Nasrul.

Ia menegaskan, transparansi dan keberanian mengambil langkah pengawasan merupakan ujian integritas lembaga legislatif dalam menjaga kepercayaan publik.

“Marwah pemerintah tidak dijaga dengan pembiaran, tetapi dengan akuntabilitas. Jika ada keraguan etik, uji secara terbuka. Itulah cara negara menunjukkan kewibawaannya di mata masyarakat dan dalam kerangka tata kelola di Indonesia,” tambahnya.

Desakan tersebut menambah tekanan publik agar polemik yang telah berlarut-larut segera ditangani secara institusional, bukan dibiarkan menjadi riuh tanpa kepastian. (Red)

Follow WhatsApp Channel suaramuda.net untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Survei Poltracking: Gerindra 23,2 Persen, PDIP dan Golkar Mengekor
Pergantian Posisi di JP Group dan Perhatian terhadap Energi Terbarukan
Parpol Nonparlemen Tolak PT 5 Persen, Merasa Dijegal hingga Tuduh Koalisi Arogan
Pajak Seller Marketplace Segera Dipungut, Seller Online Perlu Siap-siap
Saat Tari Piring Bertemu Tarian Mandarin, IFSRC Bawa Diplomasi Indonesia–Tiongkok ke Panggung Budaya
DPR Pertanyakan Rencana 200 Juta Rekening: Yang Belum Punya Rekening Cuma 15,3 Juta
Bukan Cuma Urusan Pemerintah, IFSRC Buka Jalur Baru Diplomasi Indonesia–Tiongkok
GCI dan Masa Depan Hubungan Indonesia–Tiongkok Dibahas di Jakarta
Berita ini 8 kali dibaca

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊


Berita Terkait

Rabu, 23 September 2026 - 19:25 WIB

Survei Poltracking: Gerindra 23,2 Persen, PDIP dan Golkar Mengekor

Minggu, 20 September 2026 - 22:54 WIB

Pergantian Posisi di JP Group dan Perhatian terhadap Energi Terbarukan

Minggu, 20 September 2026 - 09:39 WIB

Parpol Nonparlemen Tolak PT 5 Persen, Merasa Dijegal hingga Tuduh Koalisi Arogan

Jumat, 18 September 2026 - 16:42 WIB

Pajak Seller Marketplace Segera Dipungut, Seller Online Perlu Siap-siap

Jumat, 18 September 2026 - 09:01 WIB

Saat Tari Piring Bertemu Tarian Mandarin, IFSRC Bawa Diplomasi Indonesia–Tiongkok ke Panggung Budaya

Berita Terbaru

Bendera Partai Gerindra, PDIP dan Partai Golkar. (Ilustrasi: Pinterest)

KABAR NUSANTARA

Survei Poltracking: Gerindra 23,2 Persen, PDIP dan Golkar Mengekor

Rabu, 23 Sep 2026 - 19:25 WIB

Sumber foto: sindonews.com

KILAS GLOBAL

BRICS Masih Jadi Magnet Negara Berkembang, 45 Negara Pengen Gabung!

Senin, 21 Sep 2026 - 22:09 WIB