SUARAMUDA.NET, SEMARANG — Kalau kepercayaan publik itu lomba lari, hasil survei terbaru Indikator Politik Indonesia menunjukkan satu hal jelas: ada yang masih sprint di depan, ada yang ngos-ngosan di tengah, dan ada juga yang nyaris ditinggal penonton.
Survei yang digelar 15–21 Januari 2026 terhadap 1.220 responden ini memotret tingkat kepercayaan rakyat terhadap 11 lembaga negara.
Hasilnya? TNI kembali jadi juara umum. Sebanyak 93 persen responden mengaku percaya. Disusul Presiden RI dengan 91 persen. Dua lembaga ini konsisten jadi “anak emas” kepercayaan publik—stabil, kuat, dan relatif minim drama di mata rakyat.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Masuk ke barisan penegak hukum, angkanya mulai turun tapi belum ambruk. Kejaksaan Agung mengantongi 80 persen, Mahkamah Konstitusi 75 persen, pengadilan 74 persen, dan KPK di angka 72 persen. Masih dipercaya, tapi jelas bukan tanpa catatan kaki.
Begitu masuk ke wilayah politik, grafiknya mulai melandai. MPR dipercaya 67 persen, Polri dan DPD sama-sama 65 persen, sementara partai politik hanya 61 persen.
Dan di dasar klasemen, seperti biasa tanpa kejutan: DPR RI, dengan 56 persen kepercayaan publik. Bukan nol, tapi cukup untuk mengingatkan bahwa gedung megah tak selalu sebanding dengan rasa percaya.
Damkar Justru Jadi Pilihan Rakyat!
Tapi tunggu dulu. Ada satu plot twist yang tak muncul di tabel survei, tapi hidup subur di kepala rakyat.
Di luar 11 lembaga yang diukur Indikator, publik justru ramai-ramai “menobatkan” pemadam kebakaran (Damkar) sebagai lembaga paling bisa dipercaya. Tanpa baliho. Tanpa konferensi pers. Tanpa jargon reformasi.
Fakta ini sedang ramai di kanal sosial media. Banyak netizen yang lebih memilih Damkar sebagai lembaga paling bisa dipercaya. Mereka enggan mengamini hasil survei rilisan Indikator.
Bagi rakyat, Damkar selalu datang kalau dipanggil. Datang cepat. Tidak tanya afiliasi politik. Tidak sibuk pencitraan. Bahkan sering membantu hal-hal yang “bukan job desk”: dari menolong kucing nyangkut sampai membuka cincin warga. Kerja sunyi, tapi nyata.
Ironis? Banget. Di tengah lembaga negara yang sibuk membangun narasi, justru institusi yang jarang bicara itulah yang paling dipercaya. Rakyat seolah bilang: kami tidak butuh janji, kami butuh hadir.
Survei Indikator ini akhirnya bukan cuma soal angka, tapi cermin besar tentang krisis makna kepercayaan. Bahwa di mata publik, kepercayaan lahir dari kerja nyata, bukan dari pidato panjang atau rapat berjam-jam.
Dan kalau tren ini terus berlanjut, jangan kaget kalau suatu hari rakyat bercanda setengah serius: “Kalau urusan negara makin ribet, panggil Damkar saja! ” (Red)













Komentar