SUARAMUDA.NET, SEMARANG — Nahdlatul Ulama (NU) tidak lahir dari ruang rapat atau meja birokrasi. Organisasi keagamaan terbesar di Indonesia ini lahir dari doa, tirakat, dan petunjuk langit.
Kisahnya dimulai dari santri KHR As’ad Syamsul Arifin yang berjalan kaki dari Bangkalan ke Tebuireng, membawa amanah KH Cholil Bangkalan: seuntai tasbih dan pesan Asmaul Husna—Ya Jabbar, Ya Qahhar.
Amanah itu tak disentuhnya sedikit pun hingga diserahkan langsung kepada KH Hasyim Asy’ari. Pesan itu diyakini sebagai isyarat ilahiah: NU boleh didirikan.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Sebelumnya, KH Wahab Chasbullah telah menggagas pendirian jam’iyyah. Namun KH Hasyim Asy’ari tak gegabah. Ia memilih istikharah.
Menariknya, jawaban spiritual itu justru “turun” melalui gurunya, KH Cholil Bangkalan. Inilah ciri khas NU sejak lahir: hati-hati, tawadhu, dan selalu konfirmasi ke Tuhan.
Secara gerakan, NU bukan muncul tiba-tiba. Ia adalah kelanjutan dari semangat kebangkitan pesantren lewat Nahdlatul Wathon, Nahdlatut Tujjar, dan forum diskusi Tashwirul Afkar. Semua berakar pada satu hal: menjaga Islam yang bermazhab, berbudaya, dan membumi.
Momentum penentu lahirnya NU datang dari panggung global. Ketika Dinasti Saud di Arab Saudi ingin menghapus praktik mazhab dan tradisi ziarah, para kiai pesantren angkat suara.
Upaya diplomasi lewat kelompok Islam modernis gagal. Maka dibentuklah Komite Hijaz—langkah berani para kiai tradisional.
Agar ada lembaga resmi yang mengirim delegasi ke Makkah, pada 31 Januari 1926 (16 Rajab 1344 H) lahirlah Jam’iyyah Nahdlatul Ulama. Sejak saat itu, NU berdiri sebagai penjaga tradisi Islam Ahlussunnah wal Jamaah sekaligus sahabat kebangsaan.
Hampir satu abad berjalan, NU konsisten merawat Islam yang ramah, moderat, dan berakar kuat di budaya Indonesia. Lahir dari doa, tumbuh dalam perjuangan, dan tetap relevan hingga hari ini. (Red)














Komentar