NU Satu Abad: Lahir dari Doa, Tradisi, dan Perlawanan

- Penulis

Sabtu, 31 Januari 2026 - 13:52 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

SUARAMUDA.NET, SEMARANG — Nahdlatul Ulama (NU) tidak lahir dari ruang rapat atau meja birokrasi. Organisasi keagamaan terbesar di Indonesia ini lahir dari doa, tirakat, dan petunjuk langit.

Kisahnya dimulai dari santri KHR As’ad Syamsul Arifin yang berjalan kaki dari Bangkalan ke Tebuireng, membawa amanah KH Cholil Bangkalan: seuntai tasbih dan pesan Asmaul Husna—Ya Jabbar, Ya Qahhar.

Amanah itu tak disentuhnya sedikit pun hingga diserahkan langsung kepada KH Hasyim Asy’ari. Pesan itu diyakini sebagai isyarat ilahiah: NU boleh didirikan.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Sebelumnya, KH Wahab Chasbullah telah menggagas pendirian jam’iyyah. Namun KH Hasyim Asy’ari tak gegabah. Ia memilih istikharah.

Baca Juga :  Peluncuran Single Pertama "Sahabat Bintang" dari Suara Mungil Gemintang Adam di Kandank Jurank Doank

Menariknya, jawaban spiritual itu justru “turun” melalui gurunya, KH Cholil Bangkalan. Inilah ciri khas NU sejak lahir: hati-hati, tawadhu, dan selalu konfirmasi ke Tuhan.

Secara gerakan, NU bukan muncul tiba-tiba. Ia adalah kelanjutan dari semangat kebangkitan pesantren lewat Nahdlatul Wathon, Nahdlatut Tujjar, dan forum diskusi Tashwirul Afkar. Semua berakar pada satu hal: menjaga Islam yang bermazhab, berbudaya, dan membumi.

Momentum penentu lahirnya NU datang dari panggung global. Ketika Dinasti Saud di Arab Saudi ingin menghapus praktik mazhab dan tradisi ziarah, para kiai pesantren angkat suara.

Baca Juga :  Sering Begadang Jadi Tanda Awal Gangguan Mental, Benarkah?

Upaya diplomasi lewat kelompok Islam modernis gagal. Maka dibentuklah Komite Hijaz—langkah berani para kiai tradisional.

Agar ada lembaga resmi yang mengirim delegasi ke Makkah, pada 31 Januari 1926 (16 Rajab 1344 H) lahirlah Jam’iyyah Nahdlatul Ulama. Sejak saat itu, NU berdiri sebagai penjaga tradisi Islam Ahlussunnah wal Jamaah sekaligus sahabat kebangsaan.

Hampir satu abad berjalan, NU konsisten merawat Islam yang ramah, moderat, dan berakar kuat di budaya Indonesia. Lahir dari doa, tumbuh dalam perjuangan, dan tetap relevan hingga hari ini. (Red)

 

Follow WhatsApp Channel suaramuda.net untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Keajaiban di Lereng Sindoro: Satu Dekade Stuc General Mengawal Mimpi Anak Desa
Konser Guns N’ Roses di Indonesia Bakal Pecah! Panggung Super Mewah, Produksinya Disebut Terbesar
Mengenal Ekonomi Manajerial: Kunci Pengambilan Keputusan Bisnis yang Efektif
Sri Sultan Hamengku Buwono X Sakit, Siapa yang Jadi Pelaksana Tugas Gubernur Jogja?
Waduh, Peserta SPPI Kok pada Meninggal Saat Latihan Militer?
Sino-Nusantara Institute Jembatani Peluang Investasi Kesehatan Indonesia–Tiongkok
Taufik Hidayat, Rupanya Kau Benar-benar Sangat Sadis dan Keji!
Geger! Ketua BEM FH UBK Ngaku Terima Uang Rp20 Juta dari Wapres Gibran
Berita ini 2 kali dibaca

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊


Berita Terkait

Minggu, 28 Juni 2026 - 08:14 WIB

Keajaiban di Lereng Sindoro: Satu Dekade Stuc General Mengawal Mimpi Anak Desa

Sabtu, 27 Juni 2026 - 11:51 WIB

Konser Guns N’ Roses di Indonesia Bakal Pecah! Panggung Super Mewah, Produksinya Disebut Terbesar

Sabtu, 27 Juni 2026 - 09:35 WIB

Mengenal Ekonomi Manajerial: Kunci Pengambilan Keputusan Bisnis yang Efektif

Jumat, 26 Juni 2026 - 18:45 WIB

Sri Sultan Hamengku Buwono X Sakit, Siapa yang Jadi Pelaksana Tugas Gubernur Jogja?

Jumat, 26 Juni 2026 - 08:10 WIB

Waduh, Peserta SPPI Kok pada Meninggal Saat Latihan Militer?

Berita Terbaru