Oleh: Jonathan Jama, S.KM., Mahasiswa Magister Ilmu Komunikasi Pascasarjana Universitas Fajar-Makassar/ Kepala Puskesmas UPTD Puskesmas Long Beluah.
SUARAMUDA.NET., SEMARANG — Perkembangan teknologi digital telah mengubah cara masyarakat mengakses informasi, termasuk dalam bidang politik. Media sosial saat ini juga menjadi ruang utama bagi masyarakat untuk memperoleh berita, membentuk opini, dan mengekspresikan pandangan politik.
Bagi Generasi Z, yang tumbuh dalam lingkungan digital, media sosial bukan sekadar sarana hiburan, tetapi juga menjadi sumber utama informasi politik.
Fenomena ini menunjukkan bahwa proses literasi politik tidak lagi hanya terjadi melalui pendidikan formal atau media konvensional, melainkan juga melalui interaksi di platform digital seperti Instagram, TikTok, X (Twitter), dan YouTube.
Generasi Z memiliki karakteristik yang berbeda dari generasi sebelumnya, terutama dalam cara mereka berkomunikasi dan mengonsumsi informasi. Mereka cenderung mengandalkan konten visual, cepat, dan interaktif.
Hal ini memengaruhi cara mereka memahami isu politik, membentuk sikap, serta menentukan pilihan politik. Maka, media sosial memungkinkan Generasi Z untuk terlibat langsung dalam diskusi politik, mengikuti tokoh publik, serta menyuarakan pendapat secara terbuka.
Namun di sisi lain, arus informasi yang sangat cepat juga membawa risiko berupa hoaks, disinformasi, dan polarisasi opini yang dapat memengaruhi kualitas literasi politik mereka.
Isu literasi politik Generasi Z kini menjadi semakin penting dalam konteks demokrasi digital. Partisipasi politik tidak lagi terbatas pada pemilu atau forum resmi, tetapi juga terjadi melalui komentar, unggahan, dan kampanye digital.
Dalam konteks ini, media sosial berperan dalam membentuk kesadaran politik, meningkatkan keterlibatan warga muda, sekaligus memengaruhi cara mereka memandang demokrasi.
Oleh karena itu, memahami peran media sosial dalam membentuk literasi politik Generasi Z menjadi relevan untuk melihat bagaimana demokrasi berkembang di era digital.
Sebagaimana teori Masyarakat Jaringan (Network Society) dari Manuel Castells dijelaskan bahwa kehidupan sosial, termasuk komunikasi politik, kini berlangsung dalam jaringan digital yang saling terhubung.
Teori Masyarakat Jaringan (Network Society)
Dalam pandangan Castells, kehidupan sosial modern, termasuk komunikasi politik, berlangsung dalam jaringan digital yang saling terhubung. Media sosial menjadi bagian dari space of flows, yaitu ruang aliran informasi yang bergerak cepat melintasi batas geografis dan sosial.
Bagi Generasi Z, jaringan digital ini menjadi sumber utama pengetahuan politik. Informasi tentang isu politik, kebijakan, dan tokoh publik diperoleh melalui platform seperti TikTok, Instagram, dan X, bukan lagi hanya dari media konvensional.
Hal ini menunjukkan bahwa literasi politik Gen Z dibentuk dalam struktur jaringan yang dinamis dan terdesentralisasi.
Jaringan menjelaskan bahwa komunikasi politik tidak terikat oleh waktu tertentu. Konten politik dapat diakses, dibagikan, dan dimaknai ulang kapan saja. Generasi Z pun dapat mengikuti perkembangan isu politik secara terus-menerus, bahkan di luar masa pemilu.
Namun, arus informasi yang tidak terbatas ini juga menciptakan tantangan, seperti banjir informasi dan sulitnya membedakan fakta dengan opini atau hoaks.
Dalam masyarakat jaringan, literasi politik tidak hanya berarti memahami isi pesan, tetapi juga kemampuan mengelola dan mengevaluasi informasi secara kritis.
Selain itu, Castells menekankan konsep mass self-communication, yaitu kemampuan individu untuk memproduksi dan menyebarkan pesan kepada publik luas melalui media digital.
Pada tataran ini, gen-Z dapat pula memanfaatkan media sosial untuk menyuarakan pendapat politik, membangun identitas politik, dan berpartisipasi dalam diskursus publik.
Mereka bukan hanya penerima pesan, tetapi juga aktor aktif dalam komunikasi politik. Namun, tanpa literasi politik yang memadai, praktik ini berpotensi memperkuat polarisasi dan penyebaran disinformasi.
Oleh karena itu, dalam konteks masyarakat jaringan, penguatan literasi politik menjadi kunci agar partisipasi digital Generasi Z dapat mendukung kualitas demokrasi.
Media Sosial sebagai Sumber Informasi Politik
Media sosial telah menjadi sumber utama informasi politik bagi Generasi Z di era demokrasi digital. Berbeda dengan generasi sebelumnya yang mengandalkan televisi atau surat kabar, Gen Z lebih banyak memperoleh informasi politik melalui platform seperti TikTok, Instagram, dan X.
Informasi ini disajikan dalam bentuk visual, singkat, dan interaktif, sehingga lebih mudah diakses dan dipahami oleh generasi muda.
Menurut Sulaiman & Fauzi (2024), arus informasi politik dalam masyarakat jaringan terjadi melalui space of flows, yaitu aliran informasi digital yang cepat dan lintas batas.
Media sosial memungkinkan Generasi Z menerima berita politik secara real-time, mengikuti perkembangan isu, serta mengakses berbagai sudut pandang dalam waktu singkat.
Generasi Z juga menggunakan media sosial sebagai referensi untuk mengenal tokoh politik, memahami isu kebijakan, serta mengikuti dinamika politik nasional.
Namun, tidak semua informasi yang beredar memiliki kualitas dan akurasi yang sama. Rozi, Normansyah, dan Sjam (2024) menjelaskan bahwa keterbatasan literasi media membuat pemilih pemula rentan terhadap informasi manipulatif.
Dengan demikian, media sosial berperan besar dalam membentuk literasi politik Generasi Z. Akses informasi yang luas membuka peluang peningkatan pengetahuan politik, tetapi juga menuntut kemampuan kritis agar informasi yang dikonsumsi tidak disalahartikan.
Dampak Konten Politik pada Sikap Generasi Z
Konten politik di media sosial tidak hanya berfungsi sebagai sarana penyebaran informasi, tetapi juga berperan dalam membentuk sikap dan persepsi politik Generasi Z.
Berbeda dengan media konvensional, media sosial menyajikan informasi politik dalam berbagai format seperti berita singkat, opini publik, meme, video pendek, hingga satire politik.
Ragam bentuk konten ini membuat pesan politik lebih mudah diterima secara emosional dan kognitif, sehingga memengaruhi cara Gen Z memahami isu-isu publik.
Salah satu bentuk konten yang memiliki pengaruh kuat adalah satire politik. Astuti & Wulandari (2025) menemukan bahwa humor dan sindiran dalam konten satire berfungsi sebagai political cue yang efektif.
Dengan gaya yang ringan dan menghibur, isu politik yang kompleks dapat disampaikan secara sederhana dan menarik. Hal ini mendorong Generasi Z untuk lebih tertarik mengikuti perkembangan politik serta meningkatkan sikap kritis terhadap kebijakan dan aktor politik.
Selain konten visual, interaksi di ruang digital seperti kolom komentar, forum diskusi, dan fitur berbagi pendapat juga membentuk sikap politik Generasi Z.
Melalui diskusi tersebut, mereka terpapar berbagai sudut pandang dari pengguna lain dengan latar belakang yang beragam. Pertukaran opini ini memperkaya pemahaman politik, sekaligus membuka ruang bagi pembentukan identitas politik secara kolektif di dunia digital.
Paparan opini yang berulang dalam lingkungan digital juga berpotensi memperkuat kecenderungan berpihak pada kelompok tertentu.
Algoritma media sosial cenderung menampilkan konten yang sejalan dengan preferensi pengguna, sehingga menciptakan ruang gema (echo chamber). Akibatnya, Generasi Z bisa menjadi kurang terbuka terhadap pandangan yang berbeda dan lebih mudah terpolarisasi secara politik.
Media sosial memiliki peran penting dalam membentuk sikap politik Generasi Z. Di satu sisi, konten politik dapat meningkatkan kesadaran, minat, dan pemahaman terhadap isu publik.
Di sisi lain, tanpa literasi digital yang memadai, paparan konten yang bias berisiko memperkuat polarisasi opini. Oleh karena itu, penguatan literasi politik dan media menjadi kunci agar pengaruh media sosial dapat dimanfaatkan secara positif dalam kehidupan demokrasi.
Partisipasi Politik era Digital
Media sosial membuka ruang baru bagi Generasi Z untuk berpartisipasi dalam politik secara digital. Partisipasi ini tidak hanya terbatas pada pemilu, tetapi juga mencakup diskusi online, kampanye digital, dan penyebaran opini politik.
Dalam konsep mass self-communication, individu dapat menjadi produsen sekaligus konsumen pesan politik. Sulaiman & Fauzi (2024) menjelaskan bahwa Generasi Z dapat membuat konten, menyuarakan kritik, dan menyebarkan gagasan politik tanpa bergantung pada media arus utama.
Menjelang Pemilu 2024, media sosial menjadi ruang diskusi politik yang aktif. Rahmadani & Hidayat (2025) mencatat bahwa Generasi Z menggunakan platform digital untuk mengekspresikan aspirasi, berdiskusi tentang kebijakan, dan memantau kinerja kandidat.
Namun, tanpa literasi politik yang memadai, partisipasi digital berisiko berubah menjadi penyebaran opini yang tidak berbasis fakta dan memicu konflik sosial.
Hoaks dan Polarisasi Opini
Salah satu tantangan terbesar dalam literasi politik digital adalah maraknya hoaks dan polarisasi opini. Arus informasi yang cepat membuat konten palsu mudah menyebar dan sulit diverifikasi oleh pengguna muda.
Menurut Sulaiman & Fauzi (2024), Generasi Z sering terpapar echo chamber, yaitu lingkungan informasi yang hanya memperkuat pandangan pribadi tanpa mempertimbangkan perspektif lain.
Kurangnya bimbingan literasi media membuat pemilih pemula rentan terhadap manipulasi informasi politik. Rozi et al. (2024) menegaskan bahwa hoaks dapat memengaruhi persepsi politik dan bahkan keputusan memilih.
Polarisasi opini di media sosial berpotensi merusak kualitas diskusi demokratis, sehingga diperlukan penguatan literasi politik agar Generasi Z mampu menyikapi informasi secara rasional.
Literasi Digital dan Pendidikan Politik
Literasi digital menjadi kunci utama dalam meningkatkan kualitas literasi politik Generasi Z. Kemampuan mengevaluasi informasi, mengenali hoaks, dan memahami konteks politik sangat diperlukan di era demokrasi digital.
Sulaiman & Fauzi (2024) menekankan pentingnya strategi literasi kognitif, teknis, dan etis agar Generasi Z mampu berpikir kritis dan bermedia sosial secara bertanggung jawab.
Rendahnya literasi digital membuat mahasiswa kesulitan membedakan informasi valid dan hoaks, terutama di platform TikTok yang memiliki pengaruh besar terhadap preferensi politik (Kusnadi et al., 2025).
Sejalan dengan temuan Rozi et al. (2024), pendidikan politik berbasis digital perlu dikembangkan agar media sosial benar-benar menjadi sarana penguatan demokrasi, bukan sumber disinformasi. (Red)