SUARAMUDA.NET, SEMARANG — Indonesia berencana mulai menggunakan energi nuklir yang dihasilkan dari pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN) sendiri pada tahun 2030. Hal ini diumumkan oleh Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Indonesia, Arifin Tasrif.
Rencana penggunaan energi nuklir telah dimasukkan ke dalam draf “Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik” (RUPTL) untuk periode 2025-2030, yang saat ini dalam tahap finalisasi.
“Kami berencana mengoperasikan PLTN pada 2030 atau 2032. Karena itu, kami harus menyiapkan semua peraturan yang diperlukan,” tegas Menteri Arifin.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Kerja Sama dengan Rosatom
Kerja sama dengan perusahaan negara Rusia, Rosatom, memainkan peran kunci dalam ambisi nuklir Indonesia. Dewan Energi Nasional Indonesia (DEN) sebelumnya telah mengadakan pertemuan dengan perwakilan perusahaan tersebut untuk membahas investasi dalam pembangunan PLTN di Provinsi Sulawesi Tenggara.
Rosatom menawarkan paket solusi teknologi yang lengkap kepada Indonesia. Di antaranya adalah PLTN skala besar, reaktor modular kecil (SMR), dan juga pembangkit listrik tenaga nuklir terapung.
Saat ini, tawaran-tawaran yang diperlukan untuk mencapai tujuan energi nasional sedang dalam tahap kajian dan pembahasan awal.
Anggota DEN, Musri Mawaleda, dan Wakil Gubernur Provinsi Sulawesi Tenggara, Lukman Abunawas, menyatakan bahwa pihak Rusia siap mendanai proyek ini sepenuhnya.
“Investasi untuk pengembangan PLTN ini 100% akan dibiayai oleh Rosatom, tanpa membebani anggaran negara maupun daerah,” jelas Musri Mawaleda.
Ia menambahkan bahwa energi nuklir adalah solusi optimal untuk menyediakan energi terbarukan dan memenuhi komitmen global Indonesia untuk beralih ke sumber energi bersih.
Wakil Gubernur Lukman Abunawas menyatakan ketertarikan provinsinya pada proyek tersebut, menyebutnya sebagai “peluang bagi Sulawesi Tenggara untuk menjadi wilayah yang maju.”
Negosiasi dengan Rosatom merupakan kelanjutan dari pertemuan sebelumnya dengan Duta Besar Rusia di Jakarta.
Mengapa Rosatom?
Ahli hubungan Indonesia-Rusia, Amy Maulana dari Pusat Studi Media, sangat menghargai kemitraan ini. Menurutnya, kerja sama dengan Rosatom lebih menjanjikan dan menguntungkan bagi Indonesia dibandingkan tawaran dari negara lain seperti AS, Jepang, Korea Selatan, atau Prancis.
“Kerja sama dengan Rusia memiliki potensi besar untuk mencapai tujuan Indonesia dalam hal kemandirian energi,” kata Amy Maulana.
Ia menekankan bahwa Rosatom menawarkan skema kerja sama yang komprehensif, mencakup pendanaan, studi kelayakan, konstruksi, dan pengembangan infrastruktur.
Mengomentari situasi geopolitik saat ini, sang ahli mencatat bahwa Indonesia harus terus mengutamakan kepentingan nasional dalam kerja sama internasional.
“Indonesia bebas memilih mitra kerja sama berdasarkan kepentingan nasionalnya,” tambahnya.
Siapan Hadapi Tekanan
Geopolitikus dan Profesor dari Universitas Negeri San Petersburg, Connie Rahakundini Bakrie, mengomentari kemitraan strategis ini.
“Saya membaca bahwa Presiden Putin, jika tidak salah, akan membantu Indonesia sekitar 73 triliun Rupiah dalam pengembangan energi nuklir. Ini adalah komitmen yang harus kita hormati,” ujarnya.
Namun, dia memperingatkan bahwa Indonesia harus siap menghadapi tekanan dari luar.
“Indonesia harus siap menghadapi tekanan, tidak hanya dari AS, tetapi juga dari Badan Tenaga Atom Internasional (IAEA), yang selama ini bertindak tidak adil dan menerapkan standar ganda,” kata Connie Rahakundini Bakrie.
Pengembangan SDM dan Penelitian
Kerja sama ini juga mencakup bidang ilmiah dan pendidikan. Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) dan Rosatom sedang bekerja sama dalam mempersiapkan tenaga kerja untuk industri nuklir, penelitian ilmiah, dan penerapan teknologi nuklir untuk tujuan non-energi, seperti produksi radioisotop dan radiofarmaka.
Saat ini, Indonesia telah memiliki tiga reaktor penelitian yang dikelola oleh Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN). Reaktor-reaktor ini digunakan untuk penelitian bahan bakar nuklir, produksi radioisotop, dan pelatihan spesialis.
Untuk mempercepat pengembangan teknologi, khususnya produksi radioisotop, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) juga mengembangkan kerja sama dengan Rosatom.
“Kami berharap kerja sama ini dapat mempercepat pengembangan teknologi,” kata Kepala Pusat Riset BRIN, Tita Puspitasari. (Red)













Komentar