Memeluk Ragu, Menempa Layak: Sebuah Perjalanan Menemukan Value Diri

- Penulis

Kamis, 15 Januari 2026 - 13:44 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh: Muti Arta Simamora, Mahasiswa Ilmu Hukum UMRAH

SUARAMUDA.NET, SEMARANG — Di antara riuh rendah suara rapat dan tumpukan agenda organisasi, seringkali suara yang paling bising justru datang dari dalam kepala sendiri: “apakah aku benar-benar pantas berada di sini?”

Sebuah pertanyaan yang mungkin terdengar seperti bentuk ketidakpercayaan diri, namun bagi sebagian orang, ia adalah kompas. Ia adalah titik berangkat bagi sebuah perjalanan panjang untuk menaikkan nilai diri, bukan melalui tepuk tangan orang lain, melainkan melalui proses yang penuh peluh dan tanya.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Bermula dari Baris Biasa

Langkah itu bermula dari sebuah posisi yang barangkali terlihat jamak: anggota OSIS. Di sana, tak ada sorot lampu yang berlebih. Namun, di balik seragam yang rapi itu, ada proses pendisiplinan yang sedang bekerja.

Menghargai pendapat orang lain dan belajar melebur dalam kerja tim menjadi fondasi awal. Di titik ini, “value” bukanlah tentang siapa yang paling vokal, melainkan siapa yang paling mampu mendengar dan menempatkan ego di bawah kepentingan bersama.

Baca Juga :  Gus Yasin antara Pesantren dan NU, Faktor Kunci Kemenangan

Keberanian untuk melangkah lebih jauh kemudian membawa diri pada kursi Wakil Ketua OSIS. Sebuah transisi yang tak hanya mengubah status, tapi juga beban di pundak.

Tanggung jawab mulai terasa nyata, tekanan menjadi kawan sarapan pagi, dan ketenangan diuji saat keputusan-keputusan krusial harus diambil dalam hitungan detik.

Saat Ragu Menjadi Guru

Menariknya, semakin tinggi jabatan yang dipangku mulai dari memimpin sebagai Ketua Angkatan Hukum hingga mengemban amanah sebagai Sekretaris Umum 1 HIMA, keraguan itu bukannya menguap, malah seringkali kian mengental.

Ada paradoks yang unik di sini: jabatan mentereng justru mengundang tanya yang lebih tajam tentang kelayakan diri.

Namun, di sinilah letak titik baliknya. Bertanya pada diri sendiri tentang “apakah aku sanggup memikul beban orang lain” bukanlah tanda sebuah kelemahan. Sebaliknya, itu adalah tanda kesadaran yang tinggi. Itu adalah bukti bahwa amanah tersebut tidak dianggap enteng.

Baca Juga :  Peran Media Sosial dalam Literasi Politik Generasi Z di Era Demokrasi Digital

Value diri ternyata tidak terbentuk saat kita merasa paling hebat atau paling yakin. Ia justru lahir dan mengeras saat kita memilih untuk tetap maju meski kaki gemetar, saat kita tetap bertanggung jawab meski ketakutan akan kesalahan membayangi.

Melewati Proses, Bukan Pembenaran

Pada akhirnya, kita belajar bahwa nilai seorang manusia tidak terpaku pada deretan titel yang tertulis di atas kertas legalitas.

Titel hanyalah cangkang. Isinya adalah keberanian untuk terus mencoba, konsistensi dalam memegang janji, dan keteguhan untuk tidak melarikan diri saat badai datang menghampiri.

Belajar menaikkan value diri adalah tentang membuktikan pada diri sendiri, bukan pada dunia, bahwa kita layak bertumbuh melalui proses yang jujur, bukan lewat pembenaran-pembenaran yang semu.

Sebab, di setiap keraguan yang kita peluk dengan tanggung jawab, di sanalah kita sedang menenun kualitas diri yang sesungguhnya. (Red)

Follow WhatsApp Channel suaramuda.net untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Paradoks Fresh Graduate: Ketika Magang Menjadi Syarat Tak Tertulis Dunia Kerja
Mengapa Hukum Terlihat Berbeda Wajah? Sebuah Refleksi atas Keadilan di Indonesia
Mengapa Publik Lebih Cepat Menghakimi Pencuri Ayam daripada Koruptor?
Apakah Indonesia Membutuhkan Universitas Baru?
Mewaspadai Arah Kepemimpinan PBNU, Demi Menjaga Rumah Besar Kaum Nahdliyin
Solo Membara, Demokrasi Diuji
Satu Kerja, Lima Nama: Kenapa “Tugas Kelompok” Sering Berakhir Tidak Adil?
Gol yang Membakar Bumi
Berita ini 6 kali dibaca

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊


Berita Terkait

Minggu, 2 Agustus 2026 - 09:31 WIB

Paradoks Fresh Graduate: Ketika Magang Menjadi Syarat Tak Tertulis Dunia Kerja

Rabu, 29 Juli 2026 - 07:55 WIB

Mengapa Hukum Terlihat Berbeda Wajah? Sebuah Refleksi atas Keadilan di Indonesia

Senin, 27 Juli 2026 - 22:59 WIB

Mengapa Publik Lebih Cepat Menghakimi Pencuri Ayam daripada Koruptor?

Senin, 27 Juli 2026 - 07:47 WIB

Apakah Indonesia Membutuhkan Universitas Baru?

Minggu, 26 Juli 2026 - 07:48 WIB

Mewaspadai Arah Kepemimpinan PBNU, Demi Menjaga Rumah Besar Kaum Nahdliyin

Berita Terbaru

Foto: REUTERS/Anastasia Barashkova

KILAS GLOBAL

Malaysia Merasa Ditipu Gibran, Begini Penjelasannya!

Minggu, 2 Agu 2026 - 10:25 WIB

Gambar: Kompas.com

KABAR NUSANTARA

Masyarakat Tak Yakin Kopdes Merah Putih Akan Mampu Berkembang?

Sabtu, 1 Agu 2026 - 20:05 WIB