SUARAMUDA.NET, SEMARANG — Pergantian tahun 2026 di Kota Semarang berlangsung dengan nuansa berbeda. Alih-alih pesta kembang api yang gemerlap, Pemerintah Kota Semarang memilih perayaan yang lebih sederhana, reflektif, dan penuh makna.
Pemkot Semarang resmi meniadakan pesta kembang api yang biasanya memeriahkan malam tahun baru di kawasan Simpang Lima.
Keputusan ini diambil sebagai bentuk empati terhadap para korban bencana banjir yang melanda Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Sebagai gantinya, malam pergantian tahun diarahkan pada kegiatan doa lintas agama serta penggalangan donasi kemanusiaan. Warga diajak merayakan tahun baru dengan kepedulian sosial, bukan sekadar hiburan.
Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng Pramestuti, menyampaikan bahwa kebijakan tersebut lahir dari semangat solidaritas dan rasa kemanusiaan.
“Untuk kembang api dari pemerintah kota, saya kira tidak. Biasanya memang ada di Simpang Lima, tapi kemarin saya sarankan kepada panitia agar tidak perlu,” ujarnya di Semarang, Rabu.
Meski tanpa dentuman kembang api, Agustina menegaskan bahwa perayaan tahun baru tetap digelar.
Hanya saja, konsepnya dibuat lebih bermakna dengan mengajak masyarakat yang hadir untuk berdoa bersama demi keselamatan, kedamaian, dan harapan baik di tahun 2026.
Tahun baru pun disambut bukan dengan cahaya di langit, melainkan dengan doa dan kepedulian dari hati. (Red)













Komentar