Kisah Marco Polo dalam Penjelajahan Hingga ke Kekaisaran Tiongkok: Fakta atau Sebatas Dongeng?

- Penulis

Kamis, 5 September 2024 - 14:44 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

SUARAMUDA – Sobat muda pasti pernah mendengar Marco Polo dan kisahnya dalam melakukan ekspedisi ke benua Asia? Perjalanan panjang yang melelahkan, dan tentunya menyeberangi luasnya lautan hingga mencapai daratan Asia.

Ada sebagian kalangan percaya akan penjelajahan yang dilakukan Marco Polo. Tapi ada sebagian lagi, melihat ekspedisi Marco Polo sebagai hal yang kontroversif. Mengapa demikian?

Tulisan National Geographic menyatakan, sulit bagi orang Eropa untuk memercayai perjalanan Marco Polo bersama ayah dan pamannya ke Asia, atau lebih tepatnya ke Kekaisaran Tiongkok di abad 13. Dari situ, muncul anggapan “The Travels of Marco Polo” menjadi kisah petualangan yang kontroversial.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Ada yang menyangkal kebenaran cerita Marco, tetapi ada juga yang terinspirasi seperti Christopher Columbus. Namun berdasarkan catatannya, Marco Polo berangkat dari Venesia bersama ayah dan pamannya yang pedagang pada usia 17 tahun.

Perjalanan yang dimulai sejak 1271 itu melewati banyak negeri seperti Turki, Iran, Afganistan, Pakistan, Asia Tengah, dan akhirnya tiba di Kekaisaran Tiongkok dengan mengikuti track Jalur Sutra.

Kekaisaran Tiongkok saat itu di bawah pengaruh Dinasti Yuan, yakni bagian dari Kekaisaran Mongol dan Kubilai Khan sebagai kaisar tertinggi. Informasi tentang negeri yang belum pernah dikunjungi orang Eropa ini pun dicatat begitu rinci dalam cerita perjalanan Marco Polo.

Menurut pengakuannya sendiri, ia disanjung Kubilai Khan di Kekaisaran Tiongkok, dan berperan di pemerintahannya. Dia menyusuri tempat-tempat yang belum pernah dikunjungi orang Eropa seperti Mongolia, menyisiri Laut Natuna Utara, Malaysia, Sumatra, India, dan menuju Persia.

Baca Juga :  Titiek Puspa dalam Memori, Tapi Karya-Karyanya Akan Terus Abadi

Keluarga Polo begitu lama di wilayah Kekaisaran Tiongkok, sampai akhirnya baru mendapatkan restu pulang ke Venesia di tahun 1295. Kala itu, usia Marco Polo sudah menginjak 41 tahun. Lalu, setibanya di Venesia, ia nyaris tidak fasih bahasa ibunya karena berpengalaman menggunakan bahasa asing. Dia juga mengeklaim bahwa dirinya bisa berbahasa Mongol untuk berbicara dengan Kubilai Khan.

Rasanya sulit dipercaya pengalaman Marco Polo ini. Apa lagi, dia bercerita dalam perjalanannya pernah melihat unicorn—kuda bertanduk. Siapa yang percaya bahwa dia jalan-jalan ke dunia fantasi? Banyak sejarawan yang menduga bahwa unicorn yang dilihat Marco Polo, adalah badak bercula–satu saat kunjungannya ke Asia Tenggara.

“The Travels of Marco Polo” ditulis oleh Rustichello dari Pisa, teman satu sel Marco Polo. Dugaan masyarakat Eropa beberapa tahun berikutnya, Marco Polo hanyalah fiksi yang dibuat-buat Rustichello.

“Bahkan ketika ceritanya tidak luar biasa, sumbernya sering kali kabur,” terang jurnalis sejarah Antonio Ratti di National Geographic. Gaya catatan Marco Polo dinilai terlalu bertele-tele dan banyak dengan kata “konon”, menurut banyak ahli. Dia menyebutkan beberapa tempat yang ternyata tidak pernah dikunjunginya.

Meski demikian, beberapa tempat, baik yang pernah maupun tidak pernah dikunjunginya, benar-benar ada. Misalnya seperti Cipangu yang disebut sebagai istana yang mewah, berlantai emas. Tempat itu benar-benar ada, tetapi itu di Jepang. Marco Polo tidak pernah ke sana.

Tempat yang pernah disambanginya dan itu benar-benar ada seperti Hormuz, Balkh, Kashgar, dan tempat yang salah dengar seperti Angaman. Banyak ahli berpendapat yang dimaksud adalah Kepulauan Andaman di India, dekat Myanmar. Namun, Marco Polo dalam catatannya menyebut orang-orang di sana punya kepala seperti anjing.

Baca Juga :  Siap-siap! Penukaran Uang Baru untuk Lebaran Idul Fitri Mulai Dibuka 3 Maret 2025, Begini Caranya

Inilah yang membuat The Travels of Marco Polo juga dikenal sebagai “Il milione”. Nama itu identik dengan Polo Il milione yang berarti “Polo si Sejuta Dongeng”.

“Satu-satunya sumber informasi untuk rute keluarga Polo adalah kisah Marco, dan tidak selalu mudah untuk membedakan antara apa yang sebenarnya dilihat keluarga dengan mata kepala sendiri dan cerita apa yang diceritakan orang lain kepada mereka,” lanjut Ratti.

Hari ini, manuskrip asli catatan perjalanan Marco Polo ke Kekaisaran Tiongkok dan dunia timur hilang. Akan tetapi, ada 100 salinannya yang bertahan dari Abad Pertengahan. Salah satunya disimpan di Perpustakaan Bodlein, Oxford, Inggris.

Buku cerita perjalanan menyisiri Jalur Sutra yang dialami Marco Polo dan keluarganya populer di Eropa, walau memunculkan desas-desus. Ratti berpendapat salinannya terjual banyak dan menyebar ke seluruh Italia dalam hitungan bulan. “Prestasi yang luar biasa di zaman sebelum penemuan mesin cetak oleh Gutenberg,” tulisnya

Meski pada masanya, Eropa tengah disibukkan dengan Perang Salib di Yerusalem dan serangan Mongol yang telah bercokol di Hungaria, pengalaman Marco Polo menginspirasi banyak orang.

Di antaranya, membuka kemungkinan perdagangan, dan perluasan kekuasaan kerajaan-kerajaan Eropa pada abad-abad berikutnya setelah Konstantinopel jatuh. Lantas, apakah kisah perjalanan Marco Polo benar-benar terjadi, atau hanya sebatas kisah dongeng? National Geographic tak memberikan kesimpulan atas kebenaran ini. (Red)

Sumber: National Geographic

 

Follow WhatsApp Channel suaramuda.net untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Saat Tari Piring Bertemu Tarian Mandarin, IFSRC Bawa Diplomasi Indonesia–Tiongkok ke Panggung Budaya
Staycation Seru di Montera Glamping Lembang
Chiko Silitonga Tuangkan Kisah Personal Lewat Single “Sementara atau Selamanya”
MTQ Nasional XXXI di Jateng Tuai Apresiasi, Malam Ta’aruf Bikin Semarang Makin Semarak
TEP UI Dorong Hilirisasi Pala Berbasis Riset Melalui Uji Laboratorium
FKUB Goes to School Sambangi SMA 12 Semarang: Saatnya Pelajar Jadi Penggerak Kerukunan!
Pameran Budaya Indonesia Tampilkan 400 Karya Seni dan Foto Nusantara di Rusia
Menyulam Kebhinekaan dalam Irama Borneo
Berita ini 9 kali dibaca

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊


Berita Terkait

Jumat, 18 September 2026 - 09:01 WIB

Saat Tari Piring Bertemu Tarian Mandarin, IFSRC Bawa Diplomasi Indonesia–Tiongkok ke Panggung Budaya

Rabu, 16 September 2026 - 18:44 WIB

Staycation Seru di Montera Glamping Lembang

Sabtu, 12 September 2026 - 15:04 WIB

Chiko Silitonga Tuangkan Kisah Personal Lewat Single “Sementara atau Selamanya”

Sabtu, 12 September 2026 - 11:54 WIB

MTQ Nasional XXXI di Jateng Tuai Apresiasi, Malam Ta’aruf Bikin Semarang Makin Semarak

Jumat, 11 September 2026 - 13:22 WIB

TEP UI Dorong Hilirisasi Pala Berbasis Riset Melalui Uji Laboratorium

Berita Terbaru

Bendera Partai Gerindra, PDIP dan Partai Golkar. (Ilustrasi: Pinterest)

KABAR NUSANTARA

Survei Poltracking: Gerindra 23,2 Persen, PDIP dan Golkar Mengekor

Rabu, 23 Sep 2026 - 19:25 WIB

Sumber foto: sindonews.com

KILAS GLOBAL

BRICS Masih Jadi Magnet Negara Berkembang, 45 Negara Pengen Gabung!

Senin, 21 Sep 2026 - 22:09 WIB