DPRD Pati Menghilang, Saat Rakyat Berjuang: Mereka ke Mana?

- Penulis

Senin, 11 Agustus 2025 - 20:30 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

SUARAMUDA.NET, SEMARANG — Di tengah panasnya suhu politik lokal Pati, masyarakat mendadak sadar: ada satu kelompok yang seperti tertelan bumi.

Mereka yang seharusnya menjadi corong rakyat, menjadi penyeimbang eksekutif, kini entah berada di mana—atau memilih berada di luar jangkauan. Ya, anggota DPRD Kabupaten Pati.

Sejak Bupati Sudewo meluncurkan berbagai kebijakan yang dinilai serampangan, tanpa kajian mendalam, apalagi pelibatan publik, rakyat menunggu suara dari gedung wakil mereka.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Kebijakan kenaikan PBB-P2 sebesar 250% adalah puncaknya—menyulut kemarahan dan keresahan warga. Belum lagi kalimat pongah Bupati yang menantang warga, “Silakan demo, jangankan lima ribu, lima puluh ribu pun saya tidak gentar”, yang menyayat harga diri masyarakat Pati.

Respons publik? Cepat, solid, dan luar biasa. Rencana aksi demo pada 13 Agustus nanti disambut gelombang kepedulian. Donasi mengalir dari segala penjuru: uang, konsumsi, logistik, semua disiapkan dengan sukarela.

Baca Juga :  Membanggakan! Dapat Scor Tertinggi, Kota Semarang Raih Penghargaan sebagai Kota Pionir Pembangunan Inklusi Sosial

Ini bukan sekadar protes, ini adalah bentuk perlawanan moral terhadap kesewenang-wenangan. Tapi di tengah hiruk pikuk ini, ada satu kelompok yang tak terdengar sama sekali: DPRD Kabupaten Pati.

Mereka seperti menghilang. Bukan cuma tidak kelihatan di lapangan, suaranya pun nihil—baik secara pribadi maupun kelembagaan. Tidak ada konferensi pers, tidak ada pernyataan sikap, tidak ada tanda-tanda kehidupan politik. Kalau ini dunia medis, statusnya mungkin: “Pasien dalam kondisi koma, denyut legislasi tak terdeteksi.”

Padahal, kalau mengikuti teori dasar demokrasi, DPRD adalah wakil rakyat. Mereka digaji (dan tunjangannya manis) dari pajak yang diperas keringat rakyat. Tapi ketika rakyat dipukul kebijakan, mereka justru seperti sedang mengikuti lomba silent challenge. Diam total. Tidak peduli. Tidak merasa perlu.

Baca Juga :  Sidang Sudewo Diserbu Pendukung, Ahmad Husein Muncul Lagi dan Bikin Nazar Tak Biasa

Masyarakat jadi bertanya-tanya: Apakah gedung DPRD itu sudah berubah fungsi jadi museum? Apakah para anggotanya sedang cuti massal? Atau jangan-jangan mereka memilih bersembunyi di balik kursi empuk, sambil menunggu badai reda agar tidak perlu berhadapan dengan Bupati dan masyarakat yang diwakili?

Masyarakat Pati kini sedang belajar: bahwa ketika eksekutif bersikap pongah dan legislatif bungkam, yang tersisa hanyalah kekuatan rakyat itu sendiri.

Demo 13 Agustus bukan hanya aksi protes pada Bupati, tapi juga cermin bahwa rakyat bisa bergerak tanpa menunggu restu atau suara dari mereka yang seharusnya menjadi wakilnya. Sejarah akan mencatat, pada saat rakyat menjerit, DPRD Pati memilih diam. (Red)

Penulis: Ali Achmadi, Praktisi Pendidikan dan Pemerhati Masalah Sosial, Tinggal di Pati

Follow WhatsApp Channel suaramuda.net untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Wujudkan Inklusi Sosial Tanpa Sekat, BAZNAS RI dan Yayasan Kiblat Abinaya Gagas Pembinaan Edutainment bagi Kaum Marjinal Sukoharjo
Wali Kota Semarang Resmikan TPU Pancasila Dukung FKUB Kota Semarang Jaga Toleransi Hingga Akhir Hayat
Sosialisasi Empat Pilar Kebangsaan: Menjaga Persatuan, Merawat Perdamaian
MTQ Nasional XXXI di Jateng Tuai Apresiasi, Malam Ta’aruf Bikin Semarang Makin Semarak
FKUB Goes to School Sambangi SMA 12 Semarang: Saatnya Pelajar Jadi Penggerak Kerukunan!
Soal Geothermal, Bupati Semarang Tegas: Lanjut atau Tidak, Kewenangan Pusat
Gaji PPPK Mau Diambil Alih Pemerintah Pusat? Jateng Bisa Punya Napas Baru Rp2 Triliun
MUI Jateng Punya “Skuad” Baru: Banyak Profesor, Siap Jadi Cooling System di Tengah Dinamika Zaman
Berita ini 25 kali dibaca

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊


Berita Terkait

Jumat, 25 September 2026 - 09:24 WIB

Wujudkan Inklusi Sosial Tanpa Sekat, BAZNAS RI dan Yayasan Kiblat Abinaya Gagas Pembinaan Edutainment bagi Kaum Marjinal Sukoharjo

Minggu, 13 September 2026 - 15:36 WIB

Sosialisasi Empat Pilar Kebangsaan: Menjaga Persatuan, Merawat Perdamaian

Sabtu, 12 September 2026 - 11:54 WIB

MTQ Nasional XXXI di Jateng Tuai Apresiasi, Malam Ta’aruf Bikin Semarang Makin Semarak

Kamis, 10 September 2026 - 15:15 WIB

FKUB Goes to School Sambangi SMA 12 Semarang: Saatnya Pelajar Jadi Penggerak Kerukunan!

Senin, 7 September 2026 - 20:18 WIB

Soal Geothermal, Bupati Semarang Tegas: Lanjut atau Tidak, Kewenangan Pusat

Berita Terbaru

Bendera Partai Gerindra, PDIP dan Partai Golkar. (Ilustrasi: Pinterest)

KABAR NUSANTARA

Survei Poltracking: Gerindra 23,2 Persen, PDIP dan Golkar Mengekor

Rabu, 23 Sep 2026 - 19:25 WIB

Sumber foto: sindonews.com

KILAS GLOBAL

BRICS Masih Jadi Magnet Negara Berkembang, 45 Negara Pengen Gabung!

Senin, 21 Sep 2026 - 22:09 WIB