SUARAMUDA.NET, SUKOHARJO — Yayasan Kiblat Abinaya Indonesia (YAKABI) telah merealisasikan langkah strategis dalam upaya mitigasi perubahan iklim yang terintegrasi dengan pemberdayaan sosial.
Pada Sabtu (23/5/2026), YAKABI secara resmi menyelenggarakan “Workshop Pengumpulan dan Pemilahan Limbah” bagi pemuda disabilitas yang bertempat di Sanggar Inklusi Permata Hati, Desa Jatisobo, Kecamatan Polokarto, Kabupaten Sukoharjo.
Agenda krusial ini merupakan etape pertama dari implementasi program berskala komprehensif, yakni “Pemanfaatan Limbah Kertas Menjadi Topeng Wayang Bernilai Ekonomi bagi Pemuda Disabilitas di Kabupaten Sukoharjo”.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Program ini terlaksana berkat dukungan penuh dari Badan Pengelola Dana Lingkungan Hidup (BPDLH) Kementerian Kehutanan Republik Indonesia, melalui mandat program Forestry and Other Land Use Norway’s Contribution 4.
Ketua Yayasan Kiblat Abinaya Indonesia (YAKABI), Fadhel Moubharok Ibni Faisal, menegaskan bahwa inisiatif ini dirancang sebagai katalisator untuk mentransformasi limbah ekologis menjadi komoditas ekonomi yang berdaya saing tinggi, dengan menempatkan penyandang disabilitas sebagai aktor utamanya.
“Implementasi program Forestry and Other Land Use Norway’s Contribution 4 yang diamanatkan oleh BPDLH Kementerian Kehutanan RI ini adalah momentum esensial bagi Kabupaten Sukoharjo, “urai Fadhel dengan tegas.
Pihaknya dikatakan tidak sekadar memberikan edukasi lingkungan, melainkan sedang membangun sebuah ekosistem ekonomi sirkular. Pelatihan standardisasi pemilahan ini disebut sebagai fondasi.
“Ketika teman-teman disabilitas mampu menaklukkan dan mengklasifikasi limbah kertas dengan presisi, mereka sejatinya sedang merintis jalan menuju kemandirian ekonomi yang sejalan dengan visi pelestarian bumi, ” ujarnya.
Guna memastikan standar kualitas pemahaman peserta, YAKABI menghadirkan praktisi ahli, Dwi Indra Wati, selaku Founder Bank Sampah Warjinem Suruh Kalang.
Dalam sesi instruksionalnya, para peserta dibekali kemampuan teknis yang rigid, mulai dari identifikasi kelayakan serat kertas, metode purifikasi dari kontaminan (seperti plastik dan kawat jilid), hingga parameter higienitas material sebelum memasuki fase produksi bubur kertas (pulp).
Dwi Indra Wati memberikan apresiasi tertinggi atas etos kerja dan tingkat presisi yang didemonstrasikan oleh seluruh peserta selama sesi lokakarya berlangsung.
“Standardisasi pemilahan material adalah instrumen paling vital dalam industri daur ulang bernilai tinggi. Saya menemukan tingkat presisi, fokus, dan ketekunan yang sangat luar biasa dari para peserta disabilitas hari ini, “papar Dwi Indra Wati.
Dwi menambahkan karakteristik teliti yang mereka miliki dikatakan sebagai aset terbesar. Mereka membuktikan bahwa limbah yang tidak berharga dapat direkonstruksi menjadi bahan baku premium jika dikelola oleh tangan-tangan yang berdedikasi tinggi.
Terlaksananya lokakarya ini secara paripurna juga tidak terlepas dari harmonisasi dukungan berbagai elemen di akar rumput. Kesiapan infrastruktur yang inklusif dijamin penuh oleh Ketua Sanggar Inklusi Permata Hati, Listri Sedyaningsih.
Di sisi lain, kelancaran operasional lapangan dikawal secara taktis oleh relawan Pimpinan Cabang Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) Sukoharjo yang dipimpin Aditya Yuliyanto, serta jaminan kondusivitas wilayah oleh Pemuda Jatisobo di bawah koordinasi Ganing Widarwati.
Sebagai proyeksi tindak lanjut, seratus pemuda disabilitas ini akan memasuki fase teknis produksi pada Sabtu (30/5/2026) mendatang.
Mereka akan mengikuti “Workshop & Pelatihan Intensif Produksi Topeng Wayang Limbah Kertas” yang akan dipandu secara eksklusif oleh maestro seni topeng, Drs. Rus Hardjanto (Mbah Jantit).
Rangkaian berkesinambungan ini diharapkan mampu melahirkan unit usaha kerakyatan yang tangguh, mandiri, dan berwawasan lingkungan. (Red)













Komentar