Larangan Study Tour di Jabar Dinilai Bunuh Sektor Pariwisata, Pekerja Wisata Demo!

- Penulis

Rabu, 23 Juli 2025 - 09:39 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Sejumlah pelaku pariwisata seperti sopir bus pariwisata hingga pengusaha UMKM di Jawa Barat menggelar aksi demonstrasi di Gedung Sate, Jalan Diponegoro, Kota Bandung, Senin (21/7/2025). Mereka mendesak Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi mencabut larangan Study tour.(Kompas.com/Faqih Rohman Syafei)

Sejumlah pelaku pariwisata seperti sopir bus pariwisata hingga pengusaha UMKM di Jawa Barat menggelar aksi demonstrasi di Gedung Sate, Jalan Diponegoro, Kota Bandung, Senin (21/7/2025). Mereka mendesak Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi mencabut larangan Study tour.(Kompas.com/Faqih Rohman Syafei)

SUARAMUDA.NET, BANDUNG — Kebijakan Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi soal larangan study tour dan jam masuk sekolah pukul 06.30 WIB mulai menuai kritik tajam dari berbagai kalangan.

Salah satu yang paling lantang menyuarakan penolakan adalah para pelaku industri pariwisata yang merasa kebijakan itu mengancam mata pencaharian mereka.

Senin (21/7/2025), ratusan massa yang tergabung dalam Solidaritas Pekerja Pariwisata Jawa Barat menggelar unjuk rasa besar-besaran di depan Gedung Sate, Bandung.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Aksi diwarnai kedatangan sekitar 50 armada bus pariwisata yang turut menutup akses flyover Pasupati sebagai bentuk protes simbolik.

Koordinator aksi, Herdi Sudardja, menegaskan bahwa larangan study tour telah memangkas pendapatan perusahaan wisata secara drastis—turun hingga 60 persen dalam beberapa bulan terakhir.

Baca Juga :  Menteri Keuangan Kaget Liat Cukai Rokok: “Firaun Lu, Tinggi Banget!”

“Dari Rp80 juta per bulan, sekarang hanya sekitar Rp30 juta. Ini membuat pengusaha tidak bisa membayar cicilan leasing maupun utang bank,” ujar Herdi di tengah aksi damai tersebut.

Tak hanya perusahaan transportasi wisata, sektor UMKM hingga pemandu wisata lokal pun ikut terdampak.

Herdi menyayangkan langkah sepihak pemerintah provinsi yang dinilai tidak melibatkan stakeholder pariwisata dalam proses pengambilan keputusan.

“Kami sudah coba minta audiensi, tapi tidak digubris. Kebijakan ini dikeluarkan tanpa solusi penyelamat,” tambahnya.

Lebih ironis lagi, Herdi menyebut dampak larangan ini bahkan lebih parah dibanding masa pandemi Covid-19.

Baca Juga :  Selat Hormuz Memanas, BRICS Menguat: Tanda Akhir Dominasi AS Sudah Dekat?

Meski belum ada yang resmi bangkrut, sejumlah perusahaan bus sudah mulai merumahkan karyawan akibat minimnya permintaan.

“Saya sudah minta ke pengusaha jangan lakukan PHK. Tapi karena tidak ada pesanan, sekarang mulai ada yang dirumahkan,” ungkapnya.

Meskipun aksi menutup jalan utama, unjuk rasa berjalan tertib dan mendapat pengawalan ketat dari aparat kepolisian.

Para demonstran menyerukan satu tuntutan utama: cabut larangan study tour dan evaluasi ulang jam masuk sekolah.

Hingga berita ini diturunkan, pihak Pemerintah Provinsi Jawa Barat belum memberikan pernyataan resmi terkait aksi tersebut.

Kebijakan pendidikan ini menjadi ujian pertama Gubernur Dedi Mulyadi dalam menghadapi krisis kepercayaan publik terhadap pemerintahannya. (Red)

Follow WhatsApp Channel suaramuda.net untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Survei Poltracking: Gerindra 23,2 Persen, PDIP dan Golkar Mengekor
Pergantian Posisi di JP Group dan Perhatian terhadap Energi Terbarukan
Parpol Nonparlemen Tolak PT 5 Persen, Merasa Dijegal hingga Tuduh Koalisi Arogan
Pajak Seller Marketplace Segera Dipungut, Seller Online Perlu Siap-siap
Saat Tari Piring Bertemu Tarian Mandarin, IFSRC Bawa Diplomasi Indonesia–Tiongkok ke Panggung Budaya
DPR Pertanyakan Rencana 200 Juta Rekening: Yang Belum Punya Rekening Cuma 15,3 Juta
Bukan Cuma Urusan Pemerintah, IFSRC Buka Jalur Baru Diplomasi Indonesia–Tiongkok
GCI dan Masa Depan Hubungan Indonesia–Tiongkok Dibahas di Jakarta
Berita ini 11 kali dibaca

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊


Berita Terkait

Rabu, 23 September 2026 - 19:25 WIB

Survei Poltracking: Gerindra 23,2 Persen, PDIP dan Golkar Mengekor

Minggu, 20 September 2026 - 22:54 WIB

Pergantian Posisi di JP Group dan Perhatian terhadap Energi Terbarukan

Minggu, 20 September 2026 - 09:39 WIB

Parpol Nonparlemen Tolak PT 5 Persen, Merasa Dijegal hingga Tuduh Koalisi Arogan

Jumat, 18 September 2026 - 16:42 WIB

Pajak Seller Marketplace Segera Dipungut, Seller Online Perlu Siap-siap

Jumat, 18 September 2026 - 09:01 WIB

Saat Tari Piring Bertemu Tarian Mandarin, IFSRC Bawa Diplomasi Indonesia–Tiongkok ke Panggung Budaya

Berita Terbaru

Bendera Partai Gerindra, PDIP dan Partai Golkar. (Ilustrasi: Pinterest)

KABAR NUSANTARA

Survei Poltracking: Gerindra 23,2 Persen, PDIP dan Golkar Mengekor

Rabu, 23 Sep 2026 - 19:25 WIB

Sumber foto: sindonews.com

KILAS GLOBAL

BRICS Masih Jadi Magnet Negara Berkembang, 45 Negara Pengen Gabung!

Senin, 21 Sep 2026 - 22:09 WIB