SUARAMUDA, SEMARANG — Memperingati Hari Lingkungan Hidup Sedunia, Lembaga Penanggulangan Bencana dan Perubahan Iklim (LPBI) Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Tengah bersama PT Sido Muncul dan Pemerintah Kabupaten Semarang menggelar aksi nyata bertajuk “Bersih Rawa dan Sarasehan Lingkungan” pada Kamis (12/6/2025) di kawasan wisata Bukit Cinta, Banyubiru, Kabupaten Semarang.
Kegiatan ini menjadi wujud kolaborasi lintas sektor antara masyarakat sipil, dunia usaha, dan pemerintah daerah untuk menyelamatkan ekosistem Rawa Pening, danau alami yang menjadi sumber penghidupan ribuan warga serta destinasi wisata unggulan Kabupaten Semarang.
Kegiatan diawali dengan aksi bersih rawa oleh lebih dari 100 relawan NU dan masyarakat umum, yang membersihkan tanaman eceng gondok di sekitar dermaga.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Enceng gondok merupakan salah satu penyebab pendangkalan dan gangguan ekosistem Rawa Pening.
Usai aksi bersih, dilanjutkan dengan sarasehan lingkungan bertema “Kolaborasi Kurangi Polusi Plastik, Perubahan Iklim, dan Tanggap Bencana.”
Kegiatan ini diikuti oleh berbagai unsur jam’iyah NU, termasuk PCNU Kabupaten Semarang, Muslimat NU, Fatayat NU, IPNU, IPPNU, GP Ansor, dan Banser.
Acara juga dirangkai dengan penebaran 20.000 bibit ikan sebagai kontribusi langsung menjaga ekosistem air dan menambah nilai ekonomi bagi nelayan sekitar.
Presiden Direktur PT Sido Muncul Tbk, Irwan Hidayat, yang hadir sebagai keynote speaker, menegaskan pentingnya pendekatan inovatif dan berkelanjutan dalam upaya penyelamatan Rawa Pening.
Sejak 2016, ia telah merintis teknologi pengolahan eceng gondok menjadi pelet biomassa ramah lingkungan.
“Saya sudah buat peletnya, bahkan mesinnya ada. Kalorinya mencapai 4.300 dan bisa dijual Rp1.600. Ini bisa jadi bahan bakar murah untuk UMKM sekitar. Tapi belum ada yang menindaklanjuti secara serius,” ungkap Irwan.
Menurutnya, pelestarian Rawa Pening tidak bisa dilakukan secara parsial. Harus ada sinergi dari semua pihak baik pemerintah, swasta, maupun masyarakat.
“Kalau semua pihak bersinergi dengan niat yang tulus, Rawa Pening bisa diselamatkan. Ini bukan hanya tanggung jawab pemerintah, tetapi juga dunia usaha dan warga,” tandasnya.
Sebagai bentuk kepedulian konkret, PT Sido Muncul Tbk memberikan bantuan 20.000 bibit ikan untuk ditebar di danau.
Ia berharap, aksi ini dapat menjadi bagian dari solusi jangka panjang yang tidak hanya menyehatkan ekosistem, tapi juga memberi nilai tambah bagi kesejahteraan warga.
Wakil Bupati Semarang, Nur Arifah, yang membuka secara resmi kegiatan ini, menyampaikan apresiasi atas peran LPBI PWNU Jateng dan PT Sido Muncul Tbk yang telah menunjukkan inisiatif nyata dalam menjaga lingkungan.
“Kami sangat menghargai kegiatan ini. Ini menjadi contoh nyata sinergi yang bisa menginspirasi banyak pihak,” ucapnya.
Ia juga menjelaskan bahwa meskipun Rawa Pening menjadi penyumbang Pendapatan Asli Daerah (PAD) yang signifikan yakni mencapai Rp1,9 miliar namun kewenangan kabupaten terhadap pengelolaan kawasan ini masih terbatas.
“Kami tidak bisa bekerja sendiri. Keterbatasan anggaran dan kewenangan membuat kami harus berkoordinasi dengan pemerintah pusat. Sinergi dengan semua pihak, termasuk NU dan dunia usaha, menjadi kunci,” jelasnya.
Sementara itu, Ketua LPBI PWNU Jawa Tengah, Muchammad Pudji Wibowo, menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan implementasi dari amanat Rapat Koordinasi Wilayah LPBI sebelumnya.
Salah satu agenda penting LPBI adalah menggerakkan warga Nahdliyin dalam gerakan sadar lingkungan berbasis komunitas.
“Ini bagian dari gerakan pra-bencana. Kami ingin warga NU bukan hanya tanggap bencana, tapi juga aktif dalam pencegahan dan konservasi,” ujarnya.
Wibowo juga menegaskan bahwa LPBI PWNU tidak akan berhenti pada kegiatan simbolik. Pihaknya akan melakukan langkah strategis ke depan, termasuk menyurati kementerian dan lembaga terkait untuk memastikan penanganan Rawa Pening masuk dalam agenda nasional.
“Kami akan mendorong pelibatan PTPN IX yang memiliki lahan di sekitar Rawa Pening, agar mendukung inisiatif konservasi. Ini harus menjadi gerakan bersama dengan melibatkan pesantren, warga, dan dunia usaha,” tandasnya.
Rawa Pening merupakan kawasan perairan yang sangat vital, namun terus menghadapi ancaman serius mulai dari sedimentasi, invasi eceng gondok, hingga tekanan aktivitas manusia.
Tanpa penanganan yang komprehensif dan berkelanjutan, kawasan ini tidak hanya kehilangan daya dukung ekologisnya, tetapi juga berisiko kehilangan potensi ekonominya. (Red)













Komentar