Perusahaan Barat Bersiap Kembali ke Pasar Rusia Meski Sanksi Masih Berlaku

- Penulis

Kamis, 17 April 2025 - 06:10 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

SUARAMUDA, MOSKOW — Sanksi Barat ternyata tidak sepenuhnya mengisolasi ekonomi Rusia. Buktinya, sejumlah perusahaan asing mulai mempertimbangkan untuk kembali beroperasi di negeri tersebut, sebagaimana dilansir beberapa media Rusia.

Ini terungkap paska pertemuan perwakilan Rusia dan Amerika Serikat (AS) di Istanbul, Turki, yang menunjukkan bahwa kerja sama ekonomi kedua negara masih mungkin diupayakan meski di tengah tekanan sanksi.

Sanksi Jadi Pendorong, Bukan Penghalang

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Kontra ekspektasi banyak pihak, sanksi Barat justru memicu percepatan industrialisasi dan substitusi impor di Rusia.

John Robert Sutton, pengusaha AS yang baru-baru ini mengunjungi Moskow, justru mengakui ketangguhan ekonomi Rusia.

“Ini bisnis miliaran dolar yang terus berkembang. Bahkan beberapa kota di AS yang menjadi pusat teknologi seperti Google tidak secanggih megapolis Rusia,” ujarnya.

Pemerintah Rusia pun dikabarkan mulai menyiapkan skema khusus untuk perusahaan asing yang ingin kembali, dengan syarat mereka harus mendirikan fasilitas produksi di dalam negeri dan sejalan dengan kepentingan nasional.

Baca Juga :  Pengurus JPPPM Nusantara Melaksanakan Courtesy Call di Kedutaan Besar Republik Indonesia Amerika Serikat

Kriteria Perusahaan yang Diizinkan Kembali

Moskow memberi sinyal jelas, hanya perusahaan berteknologi tinggi dan mampu memenuhi kebutuhan strategis Rusia yang diprioritaskan.

Sektor-sektor seperti manufaktur canggih, teknologi digital, dan industri berbasis inovasi menjadi fokus utama.

“Kami tidak bergantung sepenuhnya pada Barat, tapi kolaborasi selektif masih mungkin jika menguntungkan kedua belah pihak,” jelas seorang pejabat Rusia.

Gelombang Pertama Kembalinya Bisnis Asing

Beberapa perusahaan multinasional sudah mengambil langkah konkret. Raksasa Korea Selatan seperti Hyundai, Samsung, dan LG disebut sedang mempertimbangkan rencana kembali ke Rusia.

Begitu pula dengan Inditex (pemilik Zara) dan Qiwi, yang dikabarkan tengah mempersiapkan strategi re-entry.

Di AS sendiri, sejumlah politisi mulai mendorong re-engagement dengan Rusia. Senator Marco Rubio bahkan menyebut potensi “kemitraan ekonomi bersejarah” antara kedua negara jika hambatan politik bisa diatasi.

Baca Juga :  Pisah-Sambut Home Staff KBRI Tunis: Suasana Haru Warnai Malam Kebersamaan di Wisma RI

Tantangan Politik vs Logika Bisnis

Meski minat bisnis meningkat, jalan kembali tidak sepenuhnya mulus. Administrasi Biden masih mempertahankan sanksi ketat, sementara Moskow bersikap hati-hati dengan syarat ketat bagi investor asing.

Namun, logika pasar berbicara lebih keras. Rusia tetap menjadi pasar besar dengan 140 juta penduduk dan kebutuhan industri yang terus tumbuh. Jika tekanan politik bisa dikelola, peluang kolaborasi ekonomi masih terbuka.

“Soal apakah Washington dan Moskow bisa menemukan titik temu, itu tergantung pada seberapa besar mereka mau mengesampingkan perbedaan untuk kepentingan bersama,” pungkas seorang analis.

Sementara itu, dunia bisnis hanya menunggu siapa yang akan lebih dulu memanfaatkan peluang ini. (Red)

Penulis: Amy Maulana

Follow WhatsApp Channel suaramuda.net untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Trump Ngamuk Lagi! AS Kembali Serang Iran, Gencatan Senjata Terancam Buyar
China Dorong BRICS Perkuat Kendali Mineral Strategis, Wang Yi Soroti Tantangan Global
Menteri Hukum RI dan Jaksa Agung Rusia Sepakat Perkuat Penegakan Hukum Transnasional
Paviliun Indonesia 1.500 Meter Persegi di INNOPROM 2026, Siap Pamerkan 5 Sektor Industri Unggulan
Timor Leste Berduka, Mantan Presiden Francisco Lu Olo Guterres Wafat
Perdana Menteri Inggris Keir Starmer Mundur dari Jabatannya
Dari Konsultasi ke Integrasi Ekonomi: Deklarasi Kazan Buka Jalan Kerja Sama Ekonomi Rusia-ASEAN
Netanyahu dan Kebijakan Kontroversial: Israel Dianggap Abaikan Hukum Internasional dan Perluas Konflik di Timur Tengah
Berita ini 0 kali dibaca

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊


Berita Terkait

Sabtu, 27 Juni 2026 - 12:01 WIB

Trump Ngamuk Lagi! AS Kembali Serang Iran, Gencatan Senjata Terancam Buyar

Jumat, 26 Juni 2026 - 10:02 WIB

China Dorong BRICS Perkuat Kendali Mineral Strategis, Wang Yi Soroti Tantangan Global

Kamis, 25 Juni 2026 - 12:23 WIB

Menteri Hukum RI dan Jaksa Agung Rusia Sepakat Perkuat Penegakan Hukum Transnasional

Rabu, 24 Juni 2026 - 07:48 WIB

Paviliun Indonesia 1.500 Meter Persegi di INNOPROM 2026, Siap Pamerkan 5 Sektor Industri Unggulan

Selasa, 23 Juni 2026 - 12:18 WIB

Timor Leste Berduka, Mantan Presiden Francisco Lu Olo Guterres Wafat

Berita Terbaru

KABAR NUSANTARA

Mengapa Sekjen dan Pengurus Partai Buruh Mundur Rame-rame?

Minggu, 28 Jun 2026 - 09:08 WIB

LINTAS AKADEMIKA

“Sekolah Layak, Pendidikan Bermartabat”

Minggu, 28 Jun 2026 - 08:47 WIB