Sepakung, 3 Maret 2025 – Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas PGRI Semarang (UPGRIS) 39 mengadakan pelatihan inovatif di Dusun Pagergedog, Desa Sepakung.
Mereka memperkenalkan cara mengolah alpukat menjadi bolu kukus bernutrisi tinggi guna membantu pencegahan stunting serta meningkatkan nilai jual alpukat yang selama ini kurang diminati karena rasanya yang pahit.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Buah alpukat yang memiliki rasa pahit sering kali tidak dikonsumsi langsung, menyebabkan petani kesulitan dalam pemasaran.
Melalui kreativitas mahasiswa KKN UPGRIS, alpukat yang kurang diminati ini diolah menjadi bolu kukus yang lezat dan kaya manfaat gizi.
Mahasiswa membagikan teknik khusus untuk menghilangkan rasa pahit alpukat, seperti perendaman dengan baking powder sebelum diolah menjadi adonan bolu kukus.
Dengan tambahan perisa alami, bolu kukus ini memiliki rasa yang enak dan tekstur yang lembut, menjadikannya camilan sehat bagi anak-anak dan keluarga.
Selain sebagai inovasi kuliner, pelatihan ini juga berfokus pada pemanfaatan alpukat untuk membantu mengurangi angka stunting di Desa Sepakung.
Berdasarkan data setempat, beberapa anak di Dusun Pagergedog mengalami stunting akibat kurangnya asupan gizi seimbang.
Alpukat yang kaya lemak sehat, vitamin, dan mineral berperan penting dalam mendukung pertumbuhan anak-anak.
Dengan mengolahnya menjadi makanan yang lebih mudah diterima oleh anak-anak, diharapkan masyarakat mulai memanfaatkan alpukat sebagai bagian dari pola makan sehat.
Pelatihan ini mendapat antusiasme tinggi dari warga, terutama ibu-ibu Dusun Pagergedog.
Mereka tertarik untuk mencoba resep bolu kukus alpukat di rumah sebagai alternatif camilan bergizi.
Menurut Ibu Opah, selaku pemateri dalam pencegahan stunting, bolu kukus alpukat ini bisa menjadi solusi menarik.
“Alpukat bagus karena mengandung lemak baik untuk mencegah stunting. Bolunya enak dan lembut. Semangat terus mba-mba dan mas-mas KKN UPGRIS!” ungkapnya.
Melalui program ini, mahasiswa KKN UPGRIS 39 berharap inovasi kuliner berbasis bahan lokal dapat terus dikembangkan oleh masyarakat.
Selain meningkatkan nilai jual alpukat, langkah ini juga berpotensi memperbaiki pola konsumsi gizi di daerah tersebut.
Kolaborasi antara mahasiswa dan warga diharapkan dapat terus berlanjut dalam bentuk program inovatif lainnya demi kesejahteraan masyarakat Desa Sepakung, khususnya Dusun Pagergedog.














Komentar